Diantara Dua Pilihan

Diantara Dua Pilihan
Part 82


__ADS_3

Setelah menyelesaikan masalahnya dengan Dewa. Kini Keyla merasa lebih lega tidak ada lagi yang mengganjal di hatinya.


"Sorry lama," ucap Vita.


"Ah, tidak. Gue juga baru sampai," balas Keyla. "Duduklah!" Keyla mempersilakan Vita duduk.


"Anita sama Airin mana, Key?" tanya Vita yang tidak melihat kedua sahabatnya.


"Pesan makanan," jawab Keyla.


Hari ini Keyla bersama ketiga sahabatnya sengaja berkumpul menghabiskan waktu bersama, karena mulai besok Keyla di larang keluar rumah atau biasa orang bilang di pingit. ( Calon pengantin tidak boleh keluar rumah saat akan melaksanakan acara pernikahan)


"Gimana urusan lu sama pak Dewa?" Vita menatap kearah Keyla.


"Alhamdulillah, sudah beres," jawab Keyla. "Gue nggak jahat kan, Vit?" lanjutnya.


"Tidak, ikuti kata hati, lu." Vita menggenggam erat tangan Keyla. Dia yakin Keyla pasti masih merasa ragu dengan keputusannya bahkan dia juga belum bisa melupakan Dewa sepenuhnya, tapi jika memang belum jodoh apa boleh di kata. Semua takdir kehidupan Allah yang menentukan.


Meski tidak ada hubungan apapun antara Keyla dan Dewa, tapi pasti ada sedikit cinta di hati Keyla untuk Dewa.

__ADS_1


Keyla hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Lu, kapan datangnya, Vit?" tanya Airin.


"Baru," jawab Vita.


"Mana makanannya?" Vita tak melihat Airin bawa makanan atau minuman.


"Noh." Airin menunjuk kearah Anita yang sedang berjalan menghampiri meja mereka bersama satu karyawan yang membawa nampan berisi makanan dan minuman.


"Silakan, Kak!" ucap karyawan restoran.


"Terima kasih, Mba," balas mereka bersama.


Setelah makanan datang mereka segera makan sambil mengobrol santai.


Di tempat lain.


"Sabar, Wa." Heru menepuk bahu Dewa. "Bukannya kemarin lu udah ketemuan sama Keyla. Lu, harus bangkit jangan seperti ini terus menerus," ucap Heru.

__ADS_1


"Iya." Hanya itu yang keluar dari mulut Dewa.


Dewa dan Heru kini mereka sedang berada di balkon kamar Dewa duduk bersantai sambil menikmati angin malam.


"Mending lu terima saja tuh cintanya si Meli, dari pada lu galau terus lumayan buat ngilangin stress." Saran Heru.


"Ih ... ogah. Lebih baik gue sendiri. Cinta itu bukan permainan gue nggak mau dia hanya jadi pelampiasan karena kegalauan gue." Dewa tidak ingin melukai perasaan orang lain.


"Jangan jadikan pelampiasan dong, tapi mencoba membuka hati untuknya," ujar Heru.


"No, untuk saat ini gue nggak mau mengenal wanita dulu," tegas Dewa. Dia ingin mengobati lukanya terlebih dahulu karena tidak mudah menyembuhkan luka hati obatnya tak ada di apotik. Jika boleh memilih mungkin Dewa akan pilih sakit gigi, sakitnya hanya sementara obatnya di jual dimana-mana, dokter spesialisnya pun ada.


"Ah ... terserah lu saja deh, sebagai teman gue hanya bisa ngedukung lu," ucap Heru.


Heru menyerah pasalnya saat ini Dewa benar-benar patah hati, padahal saat putus dengan pacar pertamanya dia biasa saja malah terlihat bahagia. Entah kenapa dengan yang sekarang pacar bukan baru juga gebetan, tapi pas mau di tinggal kawin patah hatinya begitu dalam.


"Gue harus datang nggak ya pas dia nikah?" tanya Dewa.


"Kalau lu nggak kuat mental jangan deh, nanti gue repot. Apalagi kalau lu sampai nangis kayak yang di tik-tik tuh ah ... gue tinggal pergi memalukan jika seperti itu," ucap Heru.

__ADS_1


"Nggak sampai segitunya kali, lu kira gue cowok apaan. Makanya jangan keseringan liat tik-tik." Dewa menonyor kepala Heru.


"Kali aja gitu, hahaha." Heru tertawa terbahak-bahak sambil membayangkan jika Dewa yang seperti itu, hahaha.


__ADS_2