
Pras sibuk dengan pekerjaannya sedangkan Keyla sibuk dengan ponselnya.
"Mas, ini sudah sore ayah sama bunda gimana pulangnya?" Keyla membuka suara.
"Tenang saja tadi saya sudah kirim sopir buat jemput bunda dan Ayah," balas Pras.
"Oh." Keyla menatap layar ponselnya lagi melihat sesuatu yang menarik perhatiannya.
"Kamu lihat apa sih serius banget?" Pras melihat Keyla yang begitu serius menatap layar ponselnya.
"Biasa Mas," jawab Keyla.
"Biasa, apaan?" Pras bingung dengan jawaban Keyla.
"Drakor, he-he-he." Keyla cengengesan ke arah Pras.
"Oh, pantas saja betah sekali lihat ponselnya," ucap Pras.
"Mas, masih lama?" tanya Keyla.
"Sebentar lagi selesai," jawab Pras. Dia sibuk dengan laptopnya memeriksa laporan keuangan dua minggu, karena dia baru pulang dari luar kota jadi baru sempat mengecek data.
"Kita makan dulu ya sebelum pulang." Pras mengajak Keyla untuk makan malam sebelum mereka pulang ke rumah.
"Iya," balas Keyla.
"Mau makan di tempat lain apa di sini saja?" tanya Pras.
"Di sini saja,Mas kalau di sini ada makanan yang enak kenapa harus beli di luar sana." Keyla memilih untuk tidak membeli makanan di tempat lain.
Keyla, itu perempuan yang suka apa adanya buat apa makan di luar jika di depan mata kita ada makanan yang lebih lezat.
"Baiklah, saya suruh bawain makanan ke ruangan," ujar Pras.
"Tidak perlu, Mas. Biar Key saja yang mengambil ke dapur." Keyla berdiri dari duduknya.
"Tapi sayang__." Pras menggantungkan ucapannya.
"Tak apa, Mas." Keyla berjalan keluar ruangan berjalan menuruni anak tangga menuju dapur yang berada di lantai bawah.
"Bu, ada yang bisa bantu?" tanya salah satu karyawan restoran saat melihat Keyla masuk kedalam dapur.
"Saya ingin mengambil makanan sama minuman," jawab Keyla.
"Biar saya siapkan dulu, Bu," ujar Karyawan tersebut.
"Eh, tidak perlu, biar saya sendiri saja kamu silakan melayani pembeli." Keyla tersenyum ke arah karyawan tersebut kemudian berjalan mencari sesuatu yang ia inginkan.
Keyla benar-benar menyiapkan makan malam sendiri memasak ayam bakar mandi sambel pedas manis temennya jeruk peras hangat.
Aromanya yang sangat harum dan baru pertama kali para karyawan restoran cium mereka semua mengendus asal aroma tersebut.
__ADS_1
"Aroma masakan ini membuat perut gua demo nih," ucap Shofia salah satu karyawan.
"Iya, siapa yang masak ya perasaan chef kita tak pernah masak dengan aroma seperti ini," sambung karyawan lainnya.
"Sepertinya ibu Keyla, tadi gue lihat beliau ke dapur ingin nyiapin makanan untuk Pak Pras," sambung karyawan satu lagi.
"Wah, pak Pras beruntung sekali ya dapat Bu Keyla udah cantik, baik, ramah, pintar masak pula peket plus-plus itu ya," ujar Shofia.
"Iya," sambung yang lain.
"Kita, kepoin yuk sekalian ngambil pesanan pembeli." Shofia mengajak kedua sahabatnya ke dapur.
"Menu pesanan, Chef Ali." Shofia memberikan kertas menu pesanan pembeli.
"Siap." Chef Ali mulai bertempur dengan peralatan dapur membuat pesanan.
"Bu Keyla, masak apa sih? aromanya itu sampai menusuk ke hidung dan perut saya lho, Bu," ujar Shofia.
"Kalian ada-ada saja," balas Keyla dengan tersenyum sambil menyisir makanannya di atas piring.
"Beneran, Bu. Ya nggak gaes?" Shofia bertanya kepada kedua sahabatnya.
"Iya, bener apa yang di bilang Shofia." Dua sahabat itu meyakinkan Keyla.
"Apa kalian mau coba?" tanya Keyla.
"Memangnya boleh gitu, Bu?" tanya salah satu dari mereka.
"Beneran, Bu. Ok Bos." Mereka bertiga mengangkat tangannya membentuk huruf o.
"Kalian bertiga ini pesanannya sudah selesai." Chef Ali memanggil Shofia beserta kedua sahabatnya.
"Iya, Chef," balas mereka.
"Kalian antar makanan pesanan pembeli dulu, biar saya masakin buat kalian." Keyla menyuruh ketiga karyawan tersebut untuk bekerja terlebih dahulu.
"Siap, Bu Bos." Ketiga karyawan tersebut berjalan meninggalkan Keyla menghampiri Chef Ali mengambil pesanan pembeli kemudian mengantarkan makanan tersebut kepada pembeli.
"Silakan, Kak!" Shofia mempersilakan pembeli untuk menikmati makanan yang telah di sajikan.
"Terima kasih, Mba," balas pembeli tersebut.
Setelah mengantarkan pesanan Shofia kembali ke dapur.
"Kamu, ngapain kesini lagi Fi, ada pesanan?" tanya Chef Ali.
"Tidak, Chef." Shofia berjalan melewati chef Ali begitu saja.
"Bu Keyla, pandai memasak ya. Pak Pras pasti beruntung sekali bisa memiliki istri seperti Ibu." Shofia terus saja mengoceh.
Dasar Keyla juga cerewet jadilah mereka ngobrol berdua sambil masak. Keyla membakar ayam dan membuat sambelnya sedangkan Shofia menyiapkan piring dan nasi.
__ADS_1
***
Di ruangan.
Pras yang merasa curiga dengan Keyla karena sejak tadi belum juga kembali padahal sudah satu jam lebih.
Pras menutup laptopnya karena penasaran sebenarnya calon istrinya kemana kenapa nggak balik-balik. Setelah menutup layar ponselnya Pras berdiri dari kursi kebesarannya berjalan keluar ruangan menuju dapur.
Pras begitu di buat terkejut saat melihat para Karyawannya dengan Keyla masak dan bercanda sedang dia dari tadi nungguin di ruangan sendirian.
"He'em." Pras berdehem di pintu dapur.
Semua yang berada di dalam dapur langsung menoleh ke sumber suara. Seketika karyawan langsung kicep saat melihat siapa yang berdehem.
"Mas, kenapa kesini?" tanya Keyla.
"Kamu, kenapa lama sekali, saya nungguin dari tadi." Pras berjalan menghampiri Keyla.
"Oh, ini tadi yang lain ingin juga di buatkan masakan buatan ku, jadi ya sudah aku bikinin dulu buat mereka karena kasihan kan mereka sudah capek kerja masa cuma minta masakan itu nggak di kasih." Keyla menunjuk makanan yang ada di meja.
"Maafkan kami, Pak. Tapi masakan Bu Keyla membuat kita tergoda dan ingin mencicipinya Pak, dari aromanya itu langsung bikin perut kita Demo Pak," ucap Shofia mewakili ke dua sahabatnya.
"Oh, begitu. Saya jadi penasaran apa yang kamu masak sayang?" tanya Pras.
"Mas, ih," lirih Keyla dengan pipi yang merona.
"Cie-----, Pak Pras sama Bu Keyla," goda Shofia.
"Pak kalau sayang-sayangan jangan disini kasihan nih jiwa jomblo Hani jadi meronta-ronta," ucap Hani salah satu karyawan atau sahabat Shofia.
Ucapan Hani di sambut tawa para sahabatnya dan Bosnya.
"Ayo, kita makan bareng-bareng saja, gimana?" tanya Keyla.
"Eh, jangan Bu, kasihan tuh Pak Pras." Shofia mengarahkan pandangannya ke arah Pras.
"Kenapa, dengan saya?" Pras bertanya balik.
"Sudah-sudah tak apa kita makan bareng-bareng nanti di tutup saja kita makan bersama semua karyawan," ucap Keyla.
"Boleh kan, Mas?" tanya Keyla.
"Boleh-boleh saja," jawab Pras.
"Ok, Bu. Kita siapkan semuanya dulu ya Bu dan menginfokan pada karyawan depan untuk menutup restoran lebih awal." Hani berjalan keluar dapur menuju depan memberi tahu pada semua temannya agar menutup restoran lebih awal.
****
Jarang sekali ya ada Bos seperti mereka.
Jangan lupa like dan vote ya kakak.
__ADS_1