
bab 137.
Asik bermain dengan Erlita serta mengobrol dengan Namira sampai widia lupa jika waktu sudah menunjukkan sore hari. Widia berniat untuk pamit.
" tidak menunggu makan malam mbak ??" tawar Namira saat mengantar Widia keluar dari rumah.
" terima kasih Mir, tapi nanti Bima bagaimana. Dia pasti protes kalau aku tidak masak dirumah." balas Widia tak lupa mereka saling berpelukan.
" tante, besok kesini lagi kan ??" tanya Erlita dengan penuh semangat.
"tentu sayang..Er nggak boleh nakal lo ya.." Ujar widia seraya mengecup pipi Erlita.
Erlita mengangguk dengan penuh semangat.
Saat widia berbalik, ia sedikit heran anak buah Tio yang berjaga sedikit berkurang. hanya ada beberapa saja.
" Mir. kemana para penjaga rumah tadi ??" tanya Widia.
Namira.ikut meneliti kesekeliling, memang benar tidak ada lagi penjaga yang berdiri disana.
" iya, mungkin sedang istirahat mbak. biarkan saja."jawab Namira
" kau hati-hati ya dirumah, jangan keluar dulu jika tidak penting." ujar Widia.
" iya mbak, terima kasih perhatiannya."balas Namira.
__ADS_1
Widia segera masuk kedalam mobil dan meninggalkan rumah Attalah, sedangkan Namria segera menggiring putrinya untuk masuk kedalam rumah.
baru saja Namira masuk kedalam rumah, Mobil Attalah masuk dari gerbang. Senyum terkembang dibibir Namira, Erlita yang tau mobil yang berhenti adalah ayahnya, segera berlari menghampiri.
" ayah...?!" panggil Erlita yang berlari disisi mobil ayahnya.
Attalah langsung membawa Erlita dalam gendongannya.
" anak ayah baik sekali..menyambut ayah ya ??" tanggap Attaalah seraya mencium pipi Erlita.
" tidak.. tadi Er sama bunda nganter tante Widia baru aja pulang." celoteh Erlita.
" widia kesini sayang ??" tanya Attalah saat Namira sudah mencium tangan Attalah.
" iya. dia bilang sepi diapartemen Bima. Bima keterlaluan mas, masa Widia sudah ditinggal kerja !!?" cerita Namira. mereka berjalan masuk bersama.
Attalah menjadi pendengar setia cerita Istri dan putrinya yang bergantian.
Widia juga telah sampai diApartemen Bima. Tak ada yang mencurigakan, Widia juga segera masuk begitu ia berhasil membuka pintunya.
Namun ia sedikit terkejut, saat lampu tidak bisa ia nyalakan.
"apa sedang pemadaman listrik ??"gumam widia sendiri.
ia merogoh ponsel dari dalam tasnya, dan menyalakan lampu mencari jalan menuju kamar.
__ADS_1
meski rasa kawatir menyelimuti, namun widia tetap memberanikan diri masuk lebih dalam.
namun saat Widia masuk kedalam kamar tiba-tiba lampu kamar menyala hingga membuat Widia menutup mata dengan kedua tangannya. suguhan yang memanjakan mata terlihat didepan widia, ranjang yang dihias dengan kelopak bunga mawar merah dengan Lampu warna warni yang terhias didinding kamar dan bergantung difoto pengantin mereka membuat senyum widia terbit dengan sangat lebar.
Pelukan hangat dari belakang membuat Widia tersentak dan terkejut.
" Bima..!!" tegur Widia yang bisa merasakan bau parfum Bima.
" kenapa kau tau jika ini aku ??" tanya Bima meletakkan dagunya dipundak widia.
"parfummu aku sangat tau.." jawab Widia dengan senyum bahagia.
Bima memutar tubuh widia dan meraih pinggang Widia dengan mata keduanya saling beradu.
" apa kau suka ??" tanya Bima
" apa kau ulang tahun ??" tanya Widia balik.
Alis Bima bertaut, saat mendapat pertanyaan dari istrinya. " kenapa tanya begitu ??"
" Yah.. siapa tau ini perayaan." balas Widia sembari mengangkat kedua pundaknya.
" bisa dibilang begitu. ini perayaan hubungan kita."ucap Bima.
" hubungan ?? hu..bungan apa ??" Wajah Widia bersemu merah saat Bima menatap dengan intens.
__ADS_1
Bima sedikit demi sedikit memajukan wajahnya mendekat kepada wajah widia. Jantung widia seakan hendak loncat dari tempatnya, tatapan Bima begitu mendalam hingga nafas widia terasa begitu cepat. Bima bisa merasakan deru nafas Widia, hingga membuat lengkung senyum dibibir Bima.