
bab 127
.
.
.
Namira duduk dikursi setelah Minum air putih pemberian Attalah.
Beberapa pengawal mencari tau kesekeliling namun tak ada yang terlihat. mereka lalu berlari masuk hendak memberi tau Attalah, namun dengan cepat Attalah menghentikan dan meminta mereka untuk keluar.
Attalah mengusap pundak Namira seakan memberi ketenangan.
" sudah.. kita pasti baik-baik saja.. ayo istirahat..," ajak Attalah.
" mas.. aku..aku.. mau bilang sesuatu.."ucap Namira memandang Attalah.
" apa sayang ??" Attalah ikut duduk disisi Namira.
Namira membuka kancing baju piyamanya, dan memperlihatkan Luka gores dilengan sebelah atasnya.
Attalah mendelik dengan melihat luka dilengan istrinya. "kapan kau terluka ?? siapa yang melukaimu ??!" tanya Attalah penuh kawatir.
Namira mengangkat kembali Kerah piyama yang ia turunkan selurus dengan kain dilengannya.
" aku mendapatkannya saat dirumah sakit." kata Namira sambil menghela nafasnya.
" awalnya aku fikir pria itu hanya tidak sengaja waktu aku kebutik dan pria itu mau menabrakku, tapi kemarin saat aku kerumah sakit pria itu menggores lenganku, aku fikir mereka pria yang berbeda, tapi saat aku melihat jaket yang pria itu kenakan sama persis dengan pria yang mau menyerempetku." terang Namira menceritakan kronologi semua yang ia alami.
Attalah menelaah satu persatu kejadian yang menimpa istrinya.
__ADS_1
" aku kemarin juga mengalami kecelakaan sayang.." terang Attalah juga.
" apa ?? kecelakaan bagaimana ??" Tanya Namira dengan wajah penuh kawatir.
" mobilku remnya blong, untung aku bisa loncat dari mobil. saat sudah selamat ada beberapa pria yang menyerangku, untung juga Tio datang tepat waktu menolongku." Lanjut Attalah.
" mas.. siapa mereka ?? kenapa mereka mengincar kita ,??" Namira dipenuhi rasa kawatir.
Attalah bingung harus mengatakan apa, Tersangka dalam benaknya adalah Mama tyas, tidak mungkin Attalah mengatakan itu pada Namira.
" Aku takut Er yang menjadi sasaran mereka mas.." Ujar Namira dengan menutup wajahnya.
" tenanglah.. sayang.. kita akan melindunginya..tenang ya.." Attalah merengkup tubuh Namira dan memeluknya dengan erat.
Attalah begitu geram dengan semua ini. "mama..kenapa kau tega sekali pada keluargaku..maafkan aku mira.. maafkan aku tidak mengatakan ini padamu.." batin Attalah dengan hati yang teriris.
.
.
.
" kau bersihkan dirimu dulu.." perintah Bima seraya duduk disofa panjang disudut kamar itu.
Widia mengangguk kemudian melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar mandi.
saat dikamar mandi, Widia kebingungan melepas gaun yang ia kenakan. banyaknya kancing dipunggung widia sebagai pengait gaun yang melekat padanya membuat widia kesusahan.
" aduh bagaimana ini !!" gumam widia sendiri.
berulang kali widia meraih kancing dipunggungnya namun usahanya sia-sia. kancing itu terlalu kecil.
__ADS_1
" masa iya aku minta bantuan Bima.. malu dong.." kembali widia berbicara sendiri.
" tapi aku mana bisa mandi jika memakai gaun besar ini !!" Widia merasa serba salah. akhirnya widia memutuskan untuk keluar dari kamar mandi.
Bima yang bisa melihat Widia keluar dari kamar mandi dengan masih memakai gaun membuat Bima keheranan.
" loh.. kenapa belum.mandi ??" tanya Bima sembari berdiri dan menghampiri Widia.
Widia bingung mau menjawab apa, ia celikungan sesekali menggigit bibir bawahnya.
" Wid ?? ada apa ??" tanya Bima yang sudau dihadapan Widia.
Widia masih bungkam dan malah menunduk. malu sekali rasanya jika mengatakn yang sebenarnya.
" apa kau tidak nyaman sekamar denganku ?? baiklah aku akan..-"
"bukan !! bukan itu !!" ralat Widia dengan cepat. ia juga tidak mau sampai Bima salag faham.
" lalu kenapa ??" tanya Bima dengan suara lembutnya.
" aku..a..ku.. tidak bisa melepas gaunku.." jawab Widia dengan menunduk dan suara yang lirih. namun tetap saja masih bisa didengar Bima.
" ya ampun widia.. hanya mengatakan itu saja kau malu begitu.. aku ini suamimu wid.. sini..sini.. aku bantu.." ujar Bima sambil memutar diri menghadap kebelakang tubuh Widia dan mulai membuka satu persatu kacing dipunggung Widia.
Widia begitu terkejut, Bima nampak biasa saja saat membantunya, Senyum tipis terkembang dibibir widia. Bima memang belum menyatakan cinta pada Widia, tapi Bima penuh perhatian dan kehangatan terhadap widia dari segi apapun Bima bisa diandalkan.
.
.
.
__ADS_1