Diantara Dua Pilihan

Diantara Dua Pilihan
kabur dari penjara


__ADS_3

bab 144


.


.


.


Mama tyas sudah didalam mobil bersama Adam. dan entah bagaimana mereka bisa dengan mudah keluar dari lapas itu. hal itu tidaklah heran, Adam adalah ketua komplotan anggota mafia yang berjaya pada masanya, hanya mengelabui anggota polisi sangatlah mudah untuknya. selama ini Adam hanya mengikuti hukuman yang memang harus ia terima, namun karna mendengar kabar jika cucunya telah diculik, kemarahan Adam semakin memuncak dan memaksa dia untuk segera kabur dari tahanan.


Wajah Adam yang nampak serius membuat Mama tyas begitu keheranan. bahkan saat Sesekali adam keremas stir mobil membuat Mama tyas yakin jika Adam sedang marah.


" kita akan kemana ??" tanya Mama tyas yang tidak pernah takut dengan pria yang sejak dulu ia cintai itu.


" menjemput cucuku !!" jawab adam singkat.


Mama tyas keheranan dengan mimik wajah tak mengerti. "apa maksudmu ???!!"


" Jika kau ingin protes, aku akan melemparmu kepenjara lagi Tyas !!" gertak Adam.


" kau ini kenapa ??!! kenapa jadi marah denganku !!!" balas mama tyas tak mau kalah.


" cucu kita dalam bahaya, dan kau masih tidak mengerti juga !??!! dasar wanita gila !!!" umpat Adam dengan sangat kesal.


" maks..udmu..Anaknya Namira ??" tanya mama tyas memperjelas.


" bukan anaknya Namira, jika putra kita tidak menghamilinya !!! hentikan membahas hal itu dulu. anak buahku melapor jika Cucu kita diculik. kurang ajar sekali !!! beraninya bermain-main denganku !!!" Adam terlihat begitu menahan amarahnya.


sedangkan mama tyas melongo dibuatnya. bahkan Adam yang dulunya seorang ketua mafia, kini punya empati terhadap anak kecil ?? benarkah ini ?? semua pertanyaan dan dugaan terus muncul ditelinga Mama tyas. bahkan Adam mengakui Namira sebagai menantu dan Erlita sebagai cucunya. mendengar cucunya diculik saja Adam bisa terlihat sangat murka.


Terlihat Adama sibuk meghubungi seseorang. lalu menempatkan hansfree ditelinganya.


" bagaimana ?? sudah ketemu ??" tanya Adama penuh harap saat panggilan sudah terhubung.

__ADS_1


...


" bantu mereka. apapun yang terjadi lindungi cucu dan anakku !!" perintah Adam dengan tegas.


...


Adama menghela nafasnya beberapa saat lalu menambah kecepatan membelah kesunyian dimalam hari itu.


Mama tyas menatap adam terus menerus. ingin bertanya namun semua bukanlah waktu yang tepat. tepat dipom bensin Adam menghentikan laju kendaraannya.


" berganti bajulah," perintah Adam kepada Mama tyas seraya menyerahkan paper bag kepada mama tyas.


" lalu aku keluarnya bagaimana ??" protes mama tyas.


'Adam mendegus kesal. sampai usia mereka tua saja mama tyas tetap sama. Adam meraih jaket dibangku belakang lagi dan memberikannya kepada mama tyas.


tanpa menjawab mama tyas segera memakainya dan segera turun menuju toilet umum dipom bensin itu.


" minta satu orang menjemput Nyonya Tyas dipom bensin dekat lapas. cepat !!" perintah Adam.


setelah mendapat jawaban dari sana, Adam kembali fokus pada jalanan, dimana ia sudah diberitau anak buahnya dimana cucunya telah dibawa.


"maafkan aku tyas.. aku tidak bisa membawamu, ini terlalu berbahaya." gumam Adam dengan meremas kembali stir mobil yang ia kemudikan.


.


.


sedangkan Attalah, Tio serta Bima juga tengah diperjalanan menuju tempat yang Tio yakini adalah rumah sang penculik.


Semua hening tak ada percakapan, hingga dering ponsel Bima berbunyi.


segera Bima meraih dan menerima panggilannya. " ada apa ??" tanya Bima.

__ADS_1


...


" apa ??!!" pekik Bima sedikit membuat Attalah dan Tio yang berada dibangku depan menoleh.


...


" baiklah." Bima mengakhiri panggilannya.


" ada apa Bima ??" tanya Tio.


" nyonya Tyas serta ketua mafia bernama Adam kabur dari tahanan. sial !! kenapa bersamaan !!!" umpat Bima setelah menjelaskan kepada Attalah dan Tio.


" apa ?? mama kabur ??!!" Attalah langsung merespon dengan teekejut.


" iya tuan. saya kecolongan." jawab Bima dengan lemah.


" apa kau akan kembali kekantor polisi..??" tanya Tio yang sangat tau, semua kasus tahanan itu Bimalah yang mengurusi.


" tidak, kita lanjutkan saja." balas Bima dengan cepat.


" tapi nanti kau bisa..-"


" tidak masalah, aku bosan menjadi polisi !!" ralat Bima menyela ucapan Tio. Tio hanya membalas dengan seringai kecil disudut bibirnya.


Sedangkan attalah bergulat dengan fikirannya sendiri. "aku berharap mama tidak ikut campur dengan penculikan anakku, jika mama termasuk otak dari penculikan ini, aku tidak akan pernah memaafkan mama lagi.." batin Attalah dengan wajah nampak begitu serius.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2