Diantara Dua Pilihan

Diantara Dua Pilihan
tanda tanda


__ADS_3

bab 116


.


.


.


Waktu terus begulir, hari telah berganti, dan bulan baru sudah tiba. Kehangatan serta keromantisan Namira dan Attalah semakin membuat siapa saja iri.


Pagi itu Namira hendak mengantar Erlita kesekolah. Sebelum itu tak lupa ia mempersiapkan keperluan suaminya.


Namun tiba-tiba saja perut Namira terasa tidak enak, " ada apa denganku ??" gumam Namira sendiri.


" sayang !! kau lihat jam tanganku tidak ??" suara Attalah dari walk in closet memanggil.


" bukannya jam tanganmu banyak, kenapa mencari yang tidak ada." Balas Namira dengan melangkah menuju suaminya.


" tapi itu kan darimu, sangat spesial." ucap Attalah seraya mengecup pipi Namira.


Seketika Namira merasa mual yang berlebihan.


ueekkk...


tanpa.berkata Namira mendorong Attalah dan berlari kekamar mandi.


Attalah keheranan dan mengekor Mengikuti Namira.


" sayang kau kenapa ??" tanya Attalah dengan wajah panik.


Namira membasuh wajahnya. " kau pakai parfum apa ?? kenapa baunya tidak enak begini !!? aku sampai mual !!"protes Namira yang kembali mual.


Attalah menghirup aroma tubuhnya,bahkan parfumnya tidak.berganti dari 5 tahun lalu hingga sekarang aroma itu yang disenangi Namira sebelumnya.


" sayang..ini parfum kesukaanmu, aku tidak menggantinya sejak dulu.." balas Attalah.


" tapi..uueekkk..." Namira terus memuntahkan isi perutnya hingga Attalah bertambah panik.

__ADS_1


Dengan segera Attalah menarik kemeja yang ia kenakan dan mengambil minyak angin guna membuat mual Namira sedikit reda.


Pijatan lembut dari Attalah ditengkuk leher Namira membuat mual Namira sedikit mereda, aroma minyak angin membuat Namira sedikit lega.


Erlita yang menunggu terlalu lama dibawah segera menyusul sang bunda kekamar.


" bunda !! Er telat nanti.." suara Er terdengar dari arah pintu.


Erlita berlari masuk saat melihat sang ayah memapah bundanya yang wajahnya terlihat lemas.


" bunda kenapa ayah ??" tanya Erlita saat sudah dekat.


Attalah mendudukkan Namira agar bersandar ditempat tidur.


" bunda tidak enak badan sayang.." ucap Attalah memberitau putrinya.


Erlita duduk disisi Namira. " bunda sakit apa ?? apanya yang sakit ??"


Namira menerbitkan senyum diwajah pucatnya. " mungkin bunda cuma masuk angin sayang.. maaf ya Bunda tidak bisa mengantar Er.. Er sama Ayah ya sekolahnya ??"


" ada pelayan kan dirumah. bunda cuma butuh istirahat."jawab Namira mencoba menenangkan sang putri.


" kau yakin tidak mau kedokter ??" tanya Attalah memastikan. jujur saja ia begitu kawatir. apalagi wajah Namira semakin pucat.


" tidak mas..sudah sana berangkat saja." Balas Namira dengan senyum tipis dibibirnya.


pelayan datang dengan secangkir teh hangat pesanan Attalah melalui panggilan telfon.


" bik selama saya pergi tolong jaga nyonya ya. jika ada apa-apa segera hubungi saya." pesan Attalah pada pelayan dirumahnya.


" baik tuan." jawab pelayan itu dengan sopan. " mari nyonya minum dulu mumpung masih hangat." Pelayan itu membantu Namira meminum teh itu.


Sebenarnya Atttalah sangatlah kawatir, namun Namira terus saja memaksanya agar tetap berangkat. akhirnya Attalah kekantor sambil mengantar putrinya terlebih dulu kesekolah.


.


.

__ADS_1


" nyonya kenapa tidak periksa ?? siapa tau ada yang serius ?? " tanya pelayan yang menunggu Namira sembari memijat kaki Namira.


" tidak usah bik, sepertinya hanya masuk angin saja. cuma perut yang mual sama kepala pusing. nanti kalau obatnya sudah bekerja pasti sembuh." jawab Namira lirih.


" semoga ya Nyonya.." balas pelayan itu dengan senyum sopannya.


" bik.. dimana ada Es yang diserut dikasih sirup seperti Es jaman dulu ??!! ada tidak ya disekitar sini ??" tanya Namira. entah angin dari mana tiba-tiba saja dibenaknya terlintas Es serut.


Pelayan itu melongo sebenttar lalu tersenyum kembali. tebakannya sejak tadi tidaklah meleset.


" nyonya. maaf sebelumnya. sebaiknya nyonya periksa saja. sepertinya ada sesuatu diperut nyonya." ucap pelayan itu


Alis Namira bertaut satu sama lain. ia masih belum.sadar kemana arah pembicaraan pelayannya.


" maksudnya ??"


pelayan itu terkekeh. " bukannya nyonya pernah merasakannya dulu sewaktu hamil non Er ??"


Namira yang mendengar penuturan Pelayan tidak sadar tangannya meraba perutnya yang rata.


" mungkinkah bik ??" Namira menatap pelayan dihadapannya yang mengangguk serta tersenyum bahagia.


Namira sama sekali tidak berfikir kearah sana. hingga ia juga tersenyum bahagia.


" sebaiknya dipastikan dulu nyonya. mau saya antar kedokter ??" tawar pelayan itu.


" boleh bik.. tapi jangan bilang Attalah ??" balas Namira penuh semangat.


" rebes Nyonya.." Pelayan itu mengangkat jari jempolnya pertanda setuju.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2