
"Inget bini orang," celetuk Vita.
"Iya, gue tau," balas Firdaus.
"Yang lain masih banyak ngapain nungguin gue," ucap Keyla dari dulu dia hanya menganggap Firdaus sebagai Kakak tidak lebih. Apalagi Keyla anak tunggal jadi dia nyaman saja kalau banyak yang perhatian padanya.
"Namun, gue maunya sama lu aja," balas Firdaus.
"Jangan gombalin bini orang." Ferry memukul pelan lengan Firdaus.
"Patah hati gue, Fer." Firdaus memasang wajah melasnya.
"Muka lu nggak pantes begitu." Lagi-lagi Vita yang selalu nerocos terus. "Kak Firdaus, mending sama Airin tuh," lanjutnya.
"Heh, ngapa ke gua. Ogah gue sama dia gebetan gue lebih ganteng dari pada dia." Airin yang tak terima di jodohkan dengan Firdaus.
Disambut tawa yang lain. "Airin aja nolak lu mentah-mentah pantes saja Keyla juga nggak mau sama lu." Ferry tertawa mengejek.
"S****n, lu." Firdaus membalas menepak bahu Ferry. "Eh, asal kalian tahu bukan gue duang yang mengharapkan Keyla, noh dia juga sama," lanjut Firdaus sambil melirik kearah depan.
Semua langsung mengikuti arah pandang Firdaus.
"Songong lu," lirih Vita sambil memukul pelan lengan Firdaus.
"Parah lu, Kak," sambung Anita.
Sedangkan Keyla biasa saja terserah mereka yang terpenting baginya adalah kini di hati hanya ada suami tercinta.
__ADS_1
"Jangan bawa-bawa orang lain, saya tidak seperti Anda," ucap seseorang yang di depan.
"Slow Bro. Gue berkata sesuai kenyataan," balas Firdaus.
"Namun, saya tidak seperti Anda. Saya sudah melepasnya untuk kebahagiaannya," ujarnya.
"Baguslah kalau begitu," balas Firdaus.
Takut makin berlanjut akhirnya Keyla angkat bicara. "Kak." Keyla menatap kearah Firdaus. Tatapan Keyla mengisyaratkan agar Firdaus diam. Keyla merasa tak enak hati terhadap mantan bosnya.
Mendengar panggilan Keyla. Firdaus langsung terdiam.
Lagian tak ada untungnya membahas semua itu karena sang wanita telah milik orang lain.
"Pulang yuk!" ajak Vita.
"Iya, dia pulang kerja langsung jemput," jawab Vita.
"Suruh masuk saja, Vit gabung sama kita," ujar Ferry.
"Lain waktu saja, kasihan dia baru pulang kerja. Gue duluan ya gaes." Vita berdiri dari duduknya kemudian cipika-cipiki terlebih dahulu sebelum keluar dari kedai.
"Suami lu jemput juga, Key?" tanya Ferry.
"Dia di luar kota," jawab Keyla. "Kita pulang yuk, udah malam!" ucap Keyla. Meskipun tidak ada suaminya dirumah, tapi tetap saja sebagai wanita dia harus bisa jaga kehormatannya.
"Cuslah," balas Airin dan Anita.
__ADS_1
Mereka berdiri dari duduknya kemudian pamitan pada Firdaus dan Ferry, tak lupa mereka juga berpamitan pada Dewa dan Heru.
"Mas Heru, Pak Dewa, kami duluan," ucap mereka bertiga.
"Iya," balasnya. "Hati-hati, Key," sambung Heru.
"Siap, Mas Heru," balas Keyla.
Tinggal para laki-laki. Ferry dan Firdaus merapikan meja membawa piring, gelas ke dalam dapur, sedangkan Dewa dan Heru masih mengobrol karena ada beberapa kerjaan yang harus mereka bahas.
***
"Sudah pulang, Key?" tanya Ibu Aminah yang berada di ruang tamu menikmati acara televisi.
"Iya, Bu." Keyla menghampiri Ibunya mencium tangan sang Ibu.
"Bu, Key masuk ke dalam kamar dulu ya," pamit Keyla.
"Iya," balas Ibu Aminah masih fokus ke layar televisi menonton film favoritnya.
**
"Alhamdulillah, akhirnya bisa rebahan juga," ucap Keyla setelah berada di atas kasur merebahkan tubuhnya.
'Ya Allah, semoga Engkau selalu menjaga hati ini agar tidak berpaling. Aku terlalu takut jika terus seperti ini aku tak sanggup menahan hati ini,' batin Keyla.
Terkadang saat kita jauh dari pasangan terlalu lama membuat hati kita terasa kosong, dan di saat itulah hati mulai goyah.
__ADS_1