
bab 136
.
.
Widia yang mendengar cerita dari Bima tentang keluarga Namira yang diteror berinisiatif mengunjungi rumah Attalah.
Dengan mengendarai mobil sendiri widia membelah keramaian jalanan ibu kota.
tak lupa Widia membeli beberapa oleh-oleh untuk Erlita putri Namira.
Widia semakin percaya jika keluarga Attalah memang sedang dalam bahaya, saat rumah besar Attalah kini dijaga ketat dari segala penjuru.
Mobil widia berhenti saat dihadang penjaga rumah yang termasuk anak buah Tio.
" apa sudah membuat janji ??" tanya Anak buah Tio.
" belum. katakan pada Namira, widia datang berkunjung." balas Widia dengan membuka kaca matanya,
" bisa saya periksa mobilnya ??" tawar anak buah Tio.
" silahkan." Widia membuka pintu mobilnya dan seketika juga anak buah Tio menggeledah seluruh isi dalam mobil Widia.
Cukup lama widia menunggu, hingga pemeriksaan selesai
Anak buah Tio memberi jalan kepada Widia untuk memasukkan mobilnya.
" silahkan nona.."
__ADS_1
Widia menyalakan kembali mesin mobilnya dan memajukan mobil untuk masuk kehalaman rumah Attalah.
Saat widia keluar dari mobil para anak buah Tio kembali hendak memeriksa sekeliling tubuh Widia.
" cukup !!! jangan diteruskan !!" cegah Namira yang sudah didepan pintu.
Namira sejak tadi memang melihat mobil widia yang masuk kehalamab rumahnya.
anak buah Tio menunduk saat mendapat cekalan dari Namira.
" Namira.." sapa Widia dengan senyum menghias diwajahnya.
" mbak widia.. maaf ya atas ketidaknyamanan ini.." balas Namira memeluk Widia dengan kehangatan.
" aku mengerti mir, ini tidak menjadi masalah untukku." timpal Widia.
" maaf nyonya. kami permisi dulu." anak buah Tio pamit dan meninggalkan Namira serta widia.
" ayo masuk.." ajak Namira
widia mengangguk dan segera masuk kedalam mengikuti Namira.
Semua masih nampak sama saat widia berada disitu. namun kali ini banyak hiasan bunga hidup disekitar rumah. widia terus menatap kesekeliling, rumah yang dulu pernah ia tempati dengan hati yang beku.
" mbak rindu rumah ini ya ??" tanya Namira yang membuat Widia terkekeh.
" tidak mungkin Mira, dulu malah aku begitu ingin pergi sejak lama. tapi paksaan tante Tyas lah yang membuat aku bertahan."jawab Widia dengan tetap tersenyum menatap Namira.
" maafkan Attalah ya, yang mengabaikanmu.." ujar Namira yang selalu ikut merasa bersalah terhadap Widia.
__ADS_1
" kau bicara apa Mira..semua sudah berlalu, itu hanya masa lalu. kini aku sudah menemukan pria yang bisa menerimaku, jadi berhenti menyalahkan dirimu dan juga Attalah...dulu aku yang menerima perjodohan itu, bukan Attalah.." terang widia menggenggam jemari Namira.
keduanya saling berbalas senyum dengan saling tatap penuh kebahagiaan.
" oh ya, mbak Widia mau minum apa ??" tawar Namira mencoba mengalihkan pembicaraan.
" tenanglah Mir aku bawa minuman tadi, sengaja kubeli dijalan."balas Widia menyerahkan paper bag berisi bermacam makanan dan minuman.
" mbak widia ini banyak sekali.." Namira yang sudah melihat isi beberapa paper bag bawaan widia begitu antusias.
" tidak masalah. oh ya, mana Putrimu ??" tanya Widia.
" tidur mbak, sebentar lagi pasti bangun."jawab Namira dengan penuh semangat sembari mengambilkan minuman untuk widia.
" minum dulu mbak, oh ya. Bima kemana ?? kenapa mbak pergi sendiri ??" tanya Namira balik.
" Bima ?? em.. Bima menangani kasus penting Mira..jadi tidak bisa ikut."jawab Widia sekenanya. ia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya. sebab Bima sudah mengikatnya dengan janji agar tidak mengatakan rencana Bima kepada siapapun.
" kasihan sekali mbak widia. seharusnya Bima.mengambil cuti lebih lama.. aku akan memarahinya nanti." cerocos Namira
Widia terkekeh saat Namira begitu geram terhadap Bima.
Setidaknya kedatangan widia membuat Suasana hati Namira tidak terlalu gundah seperti tadi.
.
.
.
__ADS_1