
"Key, gimana restoran kamu?" tanya Ibu.
"Alhamdulillah, Bu ramai," jawab Keyla.
"Alhamdulillah, kalau begitu. Ibu hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kamu, Nak." Maafkan Ibu karena hanya bisa memberikan do'a," ucap Ibu Aminah sambil memegang tangan Keyla. Sarapan yang tadinya nikmat karena masakannya yang begitu menggugah selera, kini berubah menjadi tak selera karena ucapan sang Ibu membuat Keyla seakan ingin menangis, menelan makanan pun rasanya susah.
"Bu, Key sudah sangat bersyukur karena memiliki Ibu yang begitu luar biasa, harusnya Keyla yang minta maaf karena belum bisa membahagiakan Ibu." Keyla mencium punggung tangan Ibunya.
Sarapan berubah menjadi tangis air mata. "Ibu selalu bahagia jika kamu bahagia," ucap Ibu Aminah. Keyla tersenyum ke arah Ibunya.
Selesai sarapan dan obrolan yang penuh haru, Keyla merapikan meja makan kemudian lanjut mencuci piring.
"Bu, nanti biar Keyla antar saja ke tokonya," ucap Keyla sambil mencuci piring.
"Baiklah, kalau begitu Ibu siap-siap dulu." Ibu Aminah meninggalkan Keyla beliau berjalan menuju kamar mengganti pakaiannya.
"Ayo, Key!" ajak Ibu Aminah yang rapi.
"Iya, Bu." Keyla berjalan keluar rumah mengikuti sang ibu dari belakang. Keyla mengantarkan Ibu Aminah menggunakan mobil karena cuaca mendung gerimis kecil.
Tak butuh waktu lama untuk sampai di toko kue Ibu Aminah. "Key, tolong kamu antarkan pesanan kue Bu Henny ya?" ucap Ibu Aminah sebelum keluar dari mobil.
"Iya, Bu," balas Keyla.
Ibu Aminah keluar dari mobil berjalan masuk kedalam toko, tak lama beliau keluar lagi bersama Mba Menik membawa beberapa box yang berisi kue dari bolu karamel, bolu pandan, bolu pelangi, bolu gulung, dan bolen mini yang berisi coklat, keju. Semua box di masukkan ke dalam bagasi.
"Key, ini alamat rumahnya." Ibu memberikan selembar kertas tulisan alamat rumah Bu Henny.
"Iya, Bu." Keyla mengambil kertas tersebut kemudian menyalakan mobilnya melajukan mobil menuju tempat tujuan yaitu rumah Bu Henny.
__ADS_1
Cukup menempuh perjalanan sekitar tiga puluh menit Keyla sampai di rumah Bu Henny.
"Ini benar nggak ya rumahnya,' batin Keyla kemudian turun dari mobil berjalan masuk melewati gerbang bertanya pada seseorang yang berdiri tak jauh dari gerbang. "Permisi, Pak?" tanya Keyla.
"Iya, Neng ada apa?" Orang tersebut balik bertanya.
"Begini Pak, apakah benar ini rumah Bu Henny?" tanya Keyla.
"Iya benar," jawab Bapak-bapak paruh baya.
"Bu Henny nya ada, Pak?" tanya Keyla.
"Ada neng di dalam, kalau boleh tau kenapa ya Neng?"
"Saya ingin mengantarkan pesanan kue beliau, bapak bisa bantu saya?"
"Oh, begitu boleh ayo, saya bantu!" dengan senang hati bapak tersebut bersedia membantu Keyla membawa kue masuk ke dalam rumah Bu Henny.
"Iya, Bah," balas Bu Henny yang kebetulan sedang berada di ruang tengah membantu membungkus parsel, beliau langsung menghentikan aktivitasnya saat melihat Keyla.
"Apa, kamu yang mengantarkan pesanan saya, Nak?" tanya Bu Henny.
"Iya, Bu," jawab Keyla.
"Tunggu sebentar ya saya ambil uang terlebih dahulu," ucap Bu Henny.
"Baik, Bu," balas Keyla.
"Fir, tolong ambilkan uang Mama di kamar," teriak Bu Henny dari pintu ruang tengah.
__ADS_1
Tak lama orang yang di suruh Bu Henny, datang dengan membawa dompet. "Nih." orang tersebut memberikan dompet kepada Bu Henny.
Bu Henny mengambil dompet tersebut kemudian kembali masuk ke dalam memberikan beberapa lembar uang pada Keyla. Setelah mendapat uang dari Bu Henny Keyla segera pamit pulang.
'Kenapa seperti ada sesuatu ya,' batin Keyla. Entah kenapa sedari tadi perasaannya selalu berkata ada sesuatu di rumah Bu Henny.
Keyla melangkahkan kakinya menuju keluar, tapi saat di ruang tamu dia bertemu seseorang yang dia kenal. "Firdaus," sapa Keyla. Pantas saja sedari tadi perasaannya bilang ada sesuatu di rumah Bu Henny ternyata bertemu Firdaus.
"Lu, ngapain disini?" tanya Firdaus.
"Gue, nggak salah lihat kan?" Keyla balik bertanya.
"Ini beneran gue," ucap Firdaus dengan santainya duduk bersila di atas sofa sambil bermain ponsel.
"Lu, mau nikah ya?" tanya Keyla tanpa basa-basi karena tadi dia melihat bungkusan parsel seperti bawaan yang di bawa di acara lamaran atau nikahan.
"Bukan urusan lu, Lu gue ajak nikah kagak mau," ujar Firdaus tanpa memandang ke arah Keyla dia masih sibuk dengan ponselnya.
"Tidak perlu di bahas lagi, semua sudah berlalu kita memang buka jodoh," balas Keyla.
"Coba saja lu mau Key, nasib gue nggak bakal begini," jelas Firdaus dengan nada yang sedikit berbeda.
"Maksudnya?" tanya Keyla yang bingung dengan ucapan Firdaus. Jika mendengar dari nadanya sepertinya dia sedang terluka, tapi Keyla pura-pura tidak mengerti.
"Lu pasti tahu maksud gue Key, nggak perlu gue jelasin lagi," jawab Firdaus.
"Fir, percayalah bahwa rencana Allah lebih baik dari apa yang kita rencanakan." Keyla mencoba untuk memberikan pengertian kepada Firdaus karena kita tidak bisa melawan takdir.
"Semoga," balas Firdaus.
__ADS_1
"Gue permisi dulu, semoga kalian bahagia," ucap Keyla sebelum benar-benar keluar dari rumah Firdaus.