Diantara Dua Pilihan

Diantara Dua Pilihan
Part 110 Terpaksa


__ADS_3

Awalnya memang gue hanya bermain dengan cinta, tapi kini malah gue yang terluka karena permainan cintaku sendiri. Memang benar jika dari awal sudah tidak tulus, maka belakangnya pun akan sakit.


Mulai besok gue akan belajar untuk menerima semua kenyataan yang ada meskipun sulit, dan sakit, tapi gue akan tetap mencoba.


Gue nggak akan menyalahkan hati ini karena gue tetap bahagia meski tak bisa memiliki mu.


Mungkin memang inilah takdir gue, hanya bisa mengenalmu tanpa memiliki mu. Semoga dia mampu menggantikan posisi mu di hatiku, sekarang aku akan memilih di cintai dari pada aku harus mencintai dan berakhir dengan luka.


Harapan memang tak bisa sesuai dengan mimpi karena Allah telah menentukan kehidupan yang lebih indah dari apa yang kita harapkan.


Bismillah satu kata yang untuk memulai kehidupan baru.


*


Hari ini adalah hari dimana Firdaus akan melaksanakan ijab kabul di kediaman mempelai laki-laki semua acara akan di laksanakan di rumah Firdaus.


Keyla sudah rapi, Keyla terlihat begitu cantik, anggun setelah menikah kini Keyla selalu menjaga penampilannya. Keyla pergi menggunakan mobil bersama para sahabatnya. Mereka sudah berkumpul di rumah Vita.


"Bu, Keyla berangkat dulu ya," pamit Keyla pada sang Ibu.


"Iya, Nak, hati - hati," balas Ibu Aminah.


Setelah berpamitan dengan Ibunya, Keyla berjalan keluar rumah menuju garasi mobil.


Tak butuh waktu lama untuk sampai di rumah Vita karena jarak antara rumah Keyla dan Vita tidak terlalu jauh hanya beda RT saja.


Keyla membunyikan klakson saat sampai di depan rumah Vita. Mereka yang sudah menunggu di depan teras langsung bergegas menghampiri Keyla saat mendengar bunyi klakson mobil.


"Let's go," ucap Vita.


"Eh ... acara ijab kabul jam berapa?" tanya Airin.


"Jam sepuluh harusnya jam delapan pagi, tapi penghulu tiba-tiba ada acara jadi di geser," jelas Keyla.


"Lu tahu banget, Key," ucap Airin.


"Tadi Ferry chat gue, nggak usah mikir yang aneh-aneh," balas Keyla. Dari awal mengenal Firdaus dia selalu menganggap Firdaus sebagai Kakaknya karena jarak usia mereka yang hanya berbeda dua tahun membuat Keyla nyambung saja kalau ngobrol sama Firdaus, tapi jika di tanya tentang perasaan Keyla tidak ada dia hanya nyaman sebatas Kakak beradik saja.


"Kirain Firdaus pc lu," sahut Vita dengan tertawa ngeledek.

__ADS_1


"Ya kali sempat megang ponsel," balas Keyla.


"Kira-kira nanti ekspresinya gimana ya pas lihat lu datang," ucap Vita.


"Nggak usah di bayangin, kan dia sendiri yang minat gue datang, kata dia ingin ketemu untuk terakhir kalinya," balas Keyla.


"Jadi kayak orang mau mati itu, Key," celetuk Anita.


"Hust ... lu kalau ngomong," omel Vita. Karena nggak semua pertemuan terakhir itu akan meninggal dunia, bisa saja dia ingin pergi jauh, atau ingin memulai hidup yang baru.


Hampir satu jam perjalanan kini mereka telah sampai, karena sudah pernah ke rumah Firdaus jadi Keyla tidak kesulitan mencari alamat rumah.


Keyla, Vita, Anita, dan Airin, mereka berempat berjalan menuju masuk ke dalam, ternyata Ferry sudah menanti kedatangan mereka.


"Ayo, masuk!" ajak Ferry.


"Lho, Nak Keyla, kan?" tanya Bu Henny saat berpapasan dengan Keyla yang ingin masuk ke dalam rumah Firdaus.


"Assalamualaikum, Bu," sapa Keyla sambil menyalami Bu Henny.


"Wa'alaikumussalam," balas Bu Henny. "Kalian temannya Firdaus?" tanya Bu Henny.


"Ke dalam saja, Idusnya lagi di makeup. Ajak temennya masuk aja ke dalam sana, Fer!" ujar Bu Henny.


"Iya, Tan," balas Ferry.


"Permisi, Bu," ucap para cewek-cewek.


"Iya, iya silakan!" Bu Henny mempersilakan mereka masuk menemui Firdaus.


Mereka masuk ke dalam ruang make up.


"Assalamualaikum," ucap mereka di depan pintu kamar khusus makeup.


"Wa'alaikumussalam, kalian masuk!" Firdaus menyuruh para sahabatnya untuk masuk ke dalam kebetulan di dalam hanya ada dia seorang karena pengantin wanita beserta dayang-dayangnya makeup di kamar sebelah.


"Kamu cantik banget hari ini, sengaja," ucap Firdaus.


"Lu, muji apa nyindir?" tanya Keyla.

__ADS_1


"Dua-duanya," balas Firdaus dengan tersenyum getir antara senang dan sedih. Senang melihat wanita yang dia cintai kini terlihat begitu cantik, dan bahagia. Sedih karena tak bisa memiliki wanita yang sesuai dengan keinginannya.


"Kenapa lu harus tampil cantik seperti ini sih?" omel Firdaus secara halus.


"Masa iya, gue datang ke kondangan pakai daster yang bener aja lu, Kak. Lu lihat orang-orang kalau datang ke acara nikahan pasti dandan cantik-cantiklah," balas Keyla.


"Kalau gini kan, gue jadi ___." Firdaus tak melanjutkan ucapannya.


"Inget woi, lu bentar lagi mau kawin," sindir Ferry.


"Memangnya gue binatang kawin," balas Firdaus.


"Sudahlah, jangan pada ribet. Istri lu mana, Kak?" tanya Keyla.


"Ada noh di sebelah," jawab Firdaus.


"Ingat, Kak, jangan pernah sakitin dia meskipun lu nggak cinta sama dia, karena dia juga korban dari perjodohan orang tua kalian." Keyla memberikan wejangan pada Firdaus.


"Lu ngapa jadi emak-emak," celetuk Ferry.


"Biar dia nggak nakalin anak orang," ucap Keyla.


"Lu, kira gue bocah kecil nakalin anak orang sampai nangis," balas Firdaus.


Vita, Airin, dan Anita hanya jadi penonton, dan pendengar yang baik.


"Kalau lu cinta sama gua, Lu harus bisa mencintai dia seperti lu cinta sama gua," ujar Keyla.


"Itu susah maemonah," balas Firdaus.


"Gue yakin lu pasti bisa, Kak. Semangat berjuang untuk masa depan yang lebih baik." Keyla memberikan semangat pada Firdaus.


"Semoga, terima kasih karena lu pernah hadir dalam hidup gue, mengisi hati gue, memberi warna baru dalam kehidupan gue, nama lu akan selalu ada di hati gue adik tercinta," ucap Firdaus mengulurkan tangannya ke depan Keyla. Keyla pun menyambut uluran tangan Firdaus salam persaudaraan.


"Kenapa gue jadi melow gini," ujar Airin.


"Jangan nangis, Rin, nanti makeup lu luntur," balas Vita.


"Hist ... kau ini." Airin memukul pelan lengan Vita.

__ADS_1


Tak lama panggilan untuk pengantin laki-laki agar segera memasuki ruang ijab kabul yang bertempat di samping rumahnya.


__ADS_2