
bab 121
.
.
.
Brakk !!!
Attalah membanting pintu mobil dengan keras.
" aaakkkhhhh !!!!!" Attalah berteriak meluapkan kegondokan yang ada dihatinya.
Tio mengusap dadanya saat melihat Attalah yang begitu frustasi.
saat Terlihat Attalah sudah setengah sadar, Tio masuk kembali kedalam mobil.
Tio memilih bungkam tanpa berkomentar. ia sangat tau kekecewaan dihati temannya itu, bermusuhan dengan ibu kandungnya sendiri adalah hal terberat, bahkan Tio sendiri pernah merasakan.
ponsel Attalah berbunyi, Dengan malas ia meraihnya terlebih dulu.
" halo tuan.." suara disebrang terdengar
" ada apa ??" tanya Attalah dengan suara lemah.
" tuan. nona muda sudah saya jemput dengan nyonya,." ucap pelayan yang menghubungi Attalah.
" Mira ?? apa dia sudah lebih baik ??" tanya Attalah dengan wajah kawatir. hampir saja ia lupa jika ia hendak pulang menemui istrinya.
" sudah tuan. nyonya sudah lebih sehat. kalau begitu saya tutup ya tuan." balas Pelayan itu.
Attalah meletakkan ponselnya. meski belum tau keadaan sebenarnya setidaknya ia sedikit lega, mendengar kabar bahwa istrinya sudah jauh lebih baik.
Tio melirik sesekali, namun berpura-pura tak mendengarkan. ia bermain ponsel.
"awww !!!" pekik Tio.
__ADS_1
Attalah melempar permen kearah Tio.
" jangan pura-pura tidak dengar !!!" gerutu Attalah.
" aku memang sedang tuli hari ini, terserah kau mau apa ??!!" balas Tio sembari menyandarkan punggungnya dikursi.
Attalah menyunggingkan senyum tipis, lalu melajuan mobil kembali.
.
.
.
Bima menghentikan mobilnya didepan rumah Widia. setelah Seharian fitting dan dipaksa untuk makan berdua, Mereka memutuskan untuk pulang.
Biasanya jika pasangan yang hendak menikah akan terlihat romantis dan penuh canda,namun tidak dengan pasangan Bima dan widia. mereka tetap canggung satu sama lain. bahkan mengobrol saja hanya jika perlu saja.
Widia meremas jemarinya. ingin rasanya ia mengutarakan keinginan hati, namun seakan tidak memiliki keberanian ia sesekali mengatur nafas agar menetralkan rasa aneh didalam hatinya.
" oh.. iya..em.. maaf, aku melamun tadi.." balas Widia gelagapan.
Bima tersenyum "apa yang kau lamunkan ?? ibuku membuatmu tidak nyaman ya ??" tanya Bima.
" bukan..bukan..Ibumu sangat menyayangiku bima.." timpal Widia dengan cepat.
" lalu ??" Bima menghadap Widia seolah menunggu jawaban Pertanyaannya.
Widia berdehem dan menunduk kembali, Rasa ragu terus menyelimutinya.
Bima meneliti Widia yang terlihat begitu takut,
" apa kau ada masalah ??" tanya Bima lagi.
" tidak.. aku tidak ada masalah.." jawab Widia lagi.
" lalu kau kenapa ??"
__ADS_1
Widia menarik nafasnya dengan panjang. ia memejamkan mata sesaat kemudian memberanikan diri menghadap kearah Bima
saat kedua mata mereka saling beradu, entah mengapa jantung keduanya juga terpacu dengan kencangnya. Bima pun merasakannya juga, hingga ia beberapa kali mengerjapkan mata agar tak terlihat.
" Menurutmu apa arti pernikahan ??" sebuah pertanyaan keluar dari mulut Widia.
" maksudmu ??" tanya Bima seolah belum mengerti.
" apa arti pernikahan menurutmu ?? aku ingin kau menjelaskannya,"balas widia.
" pernikahan.." Bima diam sesaat. "pernikahan adalah penyatuan sifat dan sikap kedua manusia yang didasari oleh rasa cinta." terang Bima secara singkat.
" kenapa menurutmu itu ??" tanya widia lagi.
Bima membuang nafas perlahan. ia kemudian bersandar dikursinya. "karna jika kita tidak memahami sikap dan sifat pasangan kita, pernikahan tidak akan berjalan dengan baik, meski adanya cinta yang besar, tetapi jika kita tidak bisa memahami sikap dan sifat pasangan kita, pernikahan akan gagal." terang Bima
"tapi pernikahanku dulu juga gagal karna tidak adanya cinta. padahal aku sangat memahami sifat dan sikap Attalah !!" Ucap widia dengan mata berkaca.
Bima faham betul maksud Widia. diantara mereka memang belum ada kata cinta dan mencintai, Bima meraih jemari widia dan menggenggamnya dengan erat.
" aku tau kekawatiranmu, aku tau yang kau maksud juga. maafkan aku yang tidak menyadarinya." ucap Bima dengan serius.
" aku takut bima.. aku takut.." Widia meneteskan air mata dengan menunduk agar tak terlihat.
Namun secepat pula Bima mengangkat wajah itu dan mengusap air mata Yang terjatuh.
" jangan menangis.. aku tidak mau menjadi yang terbaik, aku akan berusaha menjadi yang kau banggakan, aku janji.. aku akan berusaha.." ucap Bima dengan sungguh-sungguh.
Mata widia yang dipenuhi air mata itu menatap mata Bima yang terarah pada widia. nampak sekali kesungguhan disana.
.
.
.
.
__ADS_1