Diantara Dua Pilihan

Diantara Dua Pilihan
Part 42


__ADS_3

Satu jam mereka berada di restoran, setelah obrolan selesai mereka kembali ke toko.


"Key, main dulu yuk!" ajak Dewa, mencari kesempatan dalam kesempitan, karena kesempatan tidak datang dua kali.


"Tidak, nanti kasihan Airin sendirian." Keyla mencari alasan agar tidak pergi berdua dengan Dewa.


"Airin ada temannya, Nita sama Mita," ujar Dewa.


"Mas Heru, Mita itu naksir sama Pak Dewa ya?" tanya Keyla, dia sengaja mengalihkan pembicaraan.


"Kalau gue, lihat-lihat sepertinya iya Key," jawab Heru.


"Lumayan ya, Mas orangnya?" Keyla semakin menjadi.


"Iya, asal kamu tahu Key, di toko yang dulu Mita itu paling cantik," jelas Heru.


"Benarkah? memang sih, kalau di banding Nita dia lebih cantik," sambung Keyla.


"Iya, makanya dia berani naksir orang yang berada di samping lu." Heru mulai jadi kompor.


"Mudah-mudahan saja jodoh Mas," imbuh Keyla.


"Diam!" bentak Dewa.


Keyla dan Heru langsung terdiam tanpa sepatah kata pun.

__ADS_1


"Kamu, jangan mulai Key, saya nggak suka kamu bicara seperti itu, kalau memang dia mencintai saya, tidak ada yang salah kan, itu hak dia untuk mencintai siapapun yang dia suka," ucap Dewa.


"Iya, aku mendukungnya," imbuh Keyla.


"Tapi, saya tidak mencintainya Key, saya hanya cinta sama kamu," jelas Dewa.


"Pak, kita itu berbeda bagai bumi dan langit, siapalah diriku, aku tidak pantas untuk kamu cintai." Keyla mengucapkan dengan mulut yang bergetar, entahlah seakan dadanya terasa sakit saat dia mengungkapkan kata-kata itu.


"Stop! jangan pernah bicara seperti itu, saya mencintaimu dengan ketulusan tidak memandang status sosial, jika memang kamu tidak berkenan, saya tidak akan pernah memaksamu untuk mencintai saya, tapi saya akan selalu menunggumu sebelum ada janur kuning melengkung di depan rumahmu," ucap Dewa.


Keyla, hanya diam, dia bingung harus berkata apalagi. Bukan tidak mencintai Dewa. Tapi Keyla masih harus memilih di antara Dewa atau Pras.


"Hm ... Pak." Keyla ingin berbicara tapi mulutku terasa kaku.


"Jangan panggil saya bapak," protes Dewa.


"Mas Heru, nyasar ini bukan jalan ke arah toko," ucap Keyla.


"Mana ada gue nyasar sih Key, tanya noh sama sebelah lu." masa iya sudah satu tahun ke toko lupa jalan kan nggak mungkin.


Keyla hanya bisa menghembuskan nafasnya, selalu saja seenak jidatnya, tanpa menunggu persetujuan dulu.


"Tadi kan saya sudah bilang kita main dulu," ucap Dewa.


Keyla hanya diam tak menjawab.

__ADS_1


"Jangan ngambek gitu sayang," bujuk Dewa.


Tetap saja Keyla tak bergeming.


Tak lama mobil berhenti di depan sebuah toko berlantai dua.


"Ayo, turun!" Dewa mengulurkan tangannya agar Keyla ikut turun bersamanya.


Keyla menggeleng kan kepalanya. "Apa, mau aku gendong?" goda Dewa supaya Keyla turun, dengan terpaksa Keyla turun dari mobil dengan tangan di gandeng Dewa. Seperti orang pacaran.


"Ini toko Mita dan Nita dulu?" tanya Keyla.


Dewa mengangguk. Mereka berjalan masuk kedalam.


"Assalamualaikum," ucap Dewa masuk ke dalam toko.


"Wa'alaikumussalam," jawab yang berasal di toko.


"Anak barunya sudah datang belum Mut?" Dewa bertanya kepada salah satu karyawannya.


"Sudah, Pak," jawab Mutia.


"Suruh dia ke dalam ruangan saya!" Setelah itu Dewa pergi masuk ke dalam ruangannya.


"Baik, Pak." Setelah kepergian Dewa. Mutia memberi tahu Devi dan Deva anak baru pengganti Nita dan Mita untuk masuk ke dalam ruangan Bosnya.

__ADS_1


...***********...


Terima kasih.


__ADS_2