Diantara Dua Pilihan

Diantara Dua Pilihan
Part 75 Curhatan Keyla


__ADS_3

Setelah pulang kerja sesuai janji mereka yang ingin ngumpul di kedai Ferri.


"Gua, duluan ya Key, Rin," pamit Nita.


"Iya, Nit, balas Keyla.


Keyla dan Airin juga pergi meninggalkan toko menuju kedai Ferri menggunakan motor Airin.


Saat mereka sampai ternyata Vita dan Anita sudah menunggu.


Airin memarkirkan motornya terlebih dahulu setelah itu berjalan menghampiri sahabatnya kemudian duduk bergabung dengan Vita dan Anita.


"Kalian sudah dari tadi?" tanya Keyla.


"Baru sampai, Key," jawab Anita.


Keyla duduk disamping Vita. "Pesan apa?" tanya Vita.


"Biasa," jawab mereka kompak sedetik kemudian saling memandang dan tertawa bersama.


"Apa, sih rame-rame?" Ferri datang menghampiri para cewek-cewek.


"Eh, lu, Fer," ucap Keyla.


"Pesan biasa," sambung Airin.


"Gua nggak nanya," balas Ferri.


"Menyebalkan." Airin memasang wajah cemberut.


"Kalian tumben kesini malam-malam?" tanya Ferri.


"Iya, kangen nongkrong malam," jawab Vita.


"Mil." Ferri memanggil salah satu pegawai perempuan.


"Iya, Mas ada apa?" tanyanya.


"Ini pesanan mereka." Ferri memberikan selembar kertas.


"Baik, Mas." Setelah mengambil kertas tersebut Mila berjalan menuju dapur membuat pesanan tersebut.


"Gua, tinggal dulu ya." Ferri berdiri dari duduknya berjalan masuk kedalam ruangan.

__ADS_1


Keyla, dan teman-temannya memilih tempat duduk di bangku depan ruang jadi lebih santai.


"Key," panggil Vita.


"Cerita lu buruan," ucap Vita.


"Minum aja belum, lu udah nyuruh gua cerita," balas Keyla.


"Gue, udah terlanjur penasaran Key." Vita cengengesan.


"Lu, sama Pak Dewa berantem ya?" tanya Airin.


Keyla menarik napas dalam-dalam dan menghembuskan dengan perlahan kemudian dia mulai bercerita.


"Dengerin baik-baik, he-he-he," ucap Keyla sambil tersenyum cekikikan.


"Hist, buruan Markonah, kita udah serius dia malah masih aja bercanda," omel Vita.


"Iya-iya." Keyla mulai membuka suara.


"Jadi awalnya aku juga nggak tahu kalau Pras bakalan nembak gua. Dia cuma bilang minta di temenin melihat restoran miliknya yang akan di sewa untuk acara nikahan. Gua sih santai saja karena memang cuma ngecek lokasi kan. Eh, pas malam hari tiba-tiba dia menyuruh gua ganti pakaian yang sudah di sediakan terus sekretarisnya masuk make up gua. Gua masih berpikir positiflah mungkin karena gua nggak bawa pakaian jadi menyediakan baju ganti dan ada kunjungan dari pihak keluarga mempelai jadi gua harus dandan kali gua mikir begono. Tapi, ternyata setelah selesai make up kita keluar ruangan tiba-tiba Pras mengeluarkan saputangan dan meminta gua menutup mata.


Gua ikutan apa kata dia."


"Setelah mata gua tertutup kain Pras menuntun gua ke sebuah tempat yang sudah di sediakan oleh para karyawannya. Satu meja dan dua kursi berada di tengah-tengah kolam ikan di hias dengan secantik mungkin di iringi dengan musik."


Pras tersenyum manis ke arahku kemudian kita duduk menikmati hidangan yang sudah di sajikan di meja. Selesai makan tiba-tiba Pras memberikan sebuah kotak kecil dan membuka sambil menyatakan cintanya. "


"Gua terdiam sejenak pusing dong gua saat berada di posisi seperti itu semua karyawan memandang kita dari jarak jauh. Akhirnya gua hanya bisa menganggukkan kepala."


"Pras memeluk gua dan para karyawan bertepuk tangan mereka juga meneteskan air mata karena bahagia bosnya di terima cinta. Sesaat kemudian mereka datang menghampiri kami mengucapkan selamat pada kita berdua."


"Di situ gua merasakan sesuatu yang berbeda karyawan bagaikan keluarga baginya mereka sangat sayang sama bosnya Gua jadi merasa beruntung bisa memiliki orang seperti Pras."


"Terus masalah gua sama Pak Dewa sebenarnya hampir sama tapi yang berbeda sebelum Pak Dewa menyatakan cintanya gua jujur terlebih dahulu dari pada gua terus-terusan di hantui rasa bersalah. Sebenarnya gua juga nggak tega tapi, di posisi lain gua nggak mau nyakitin hati Pras. Awalnya gua kira Pak Dewa hanya ngajak gua ke opening cafe dan makan malam biasa ternyata tidak. Waktu itu gua nggak sengaja mendengar obrolan Pak Dewa sama seseorang tentang persiapan tempat terus gua denger pas Mas Heru nanya ke Pak Dewa tentang cincin gitu. Ya sudah memang sudah waktunya dia harus tahu yang sebenarnya. Akan tetapi, sepertinya Pak Dewa marah sama gua." Curhatan Keyla dari awal hingga akhir.


Vita, Airin, dan Anita langsung memeluk Keyla.


"Sabar Key, keputusan lu tidak ada yang salah lu tenang saja dengan seiring berjalannya waktu pasti Pak Dewa bisa menerima kenyataan ini." Vita menepuk bahu Keyla.


Keyla mengangguk.


"Kita manusia hanya bisa berencana Allah yang menentukan," ucap Airin.

__ADS_1


"Betul betul betul." Anita menirukan gaya suara duo kembar botak.


"Semua memang sakit, gua juga bisa merasakan apa yang dia rasakan tapi, gua juga tidak bisa menolak takdir." Keyla menundukkan kepalanya.


Para sahabatnya merasa kasihan mereka juga bisa merasakan betapa sulit saat kita harus memilih dua orang yang menyayangi kita.


"Terus rencana Lu sama Pras gimana?" tanya Airin.


"Insya'Allah, akhir bulan kita tunangan dua minggu kemudian langsung nikah Pras ingin semuanya di percepat," jawab Keyla.


"Garcep juga tuh si Pras, tapi bagusan gitu sih kalau serius ya sudah lebih cepat lebih baik," sambung Vita.


"Setuju." Anita dan Airin kompak si duo jomblo.


Tanpa mereka sadari ada seseorang yang terus memandangi mereka. Tapi, mereka tak sadar jika ada orang yang memperhatikannya mereka asyik dengan obrolannya.


"Sekarang Pras dimana dia nggak pernah kelihatan?" tanya Vita.


"Dia lagi ke luar kota untuk membereskan semua pekerjaan supaya tidak menggangu saat acara kita," jawab Keyla.


"Dia itu keren ya, udah ganteng, baik, sukses di usia muda," ucap Airin.


"Terima kasih, Rin." Tiba-tiba Ferri berdiri di samping Airin.


"Astaghfirullah, Ferri. Lu bikin kaget aja. Eh, siapa yang muji lu, ogah gua muji-muji Lu," ujar Airin.


"Lha barusan?" tanya Ferri.


"Itu bukan lu Bambang. Lagian lu ganteng dari mana coba? cakepan juga tukang ojek yang selalu datang nganterin es ke toko." Airin membayangkan ojek baru langganan mereka.


"Tega banget lu, Rin. Awas lu nanti jatuh cinta sama gua," ucap Ferri.


"Ih, amit-amit jabang bayi ngendok kacung." Airin mengetuk-ngetuk meja terus ke kepalanya.


Vita, Anita, dan Keyla tertawa melihat perdebatan antara jomblo cewek dan jomblo cowok.


"Woi, sesama jomblo harusnya saling mendukung bukan malah berantem Mulu setiap ketemu," omel Vita.


"Tau tuh si Airin sensitif banget kayaknya sama gua padahal gua baik, ganteng begini." Ferri merapikan rambutnya dengan tangan.


"Enek gua lihat lu begitu sok kecakepan, sono-sono ganggu orang saja." Airin mendorong pelan tubuh Ferri.


Terpaksa Ferri pergi meninggalkan cewek-cewek rempong dia tak mau jadi korban mereka yang mulutnya kalau ngomong suka ceplas-ceplos.

__ADS_1


***


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian love you all.


__ADS_2