
bab 129
.
.
.
Setelah membantu Widia, Bima langsung memutar tubuhnya dan kembali duduk disofa panjang. matanya sejak tadi ia buang kesegala arah agar tidak melihat punggung mulus Widia. Bima begitu takut jika sampai ia khilaf kembali. terdengar lucu memang. sebab meski mereka sudah resmi menjadi suami istri, tetap saja rasa canggung terus menghinggapi keduanya.
Widia sendiri langsung berlari kekamar mandi saat Bima menyudahi acara membuka kancing gaunnya dibelakang.
Bima menghela nafas dengan panjang seraya memejamkan mata.
hanya melihat punggung Widia saja fikirannya sudah traveling kemana-mana. Itu wajarlah terjadi, Bima pria normal yang memiliki kesempurnaan yang sama dengan pria lain pada umumnya. nafsu tentu saja iya, apa lagi saat punggung widia yang putih mulus terjamah olehnya sedikit tadi.
Namun Bima buru-buru menepis semua fikiran kotor diotaknya. ia meraih ponselnya saat terdengar berbunyi.
Ternyata Tio lah yang mengirimnya pesan singkat.
Bagaimana ?? sudah mulai belum ??
bunyi pesan dari Tio.
Alis bima bertaut saat membaca pesan temannya itu.
apa yang kau tanyakan ?? kau salah kirim pesan ??
balas Bima
tentu saja tidak. ritual malam pertamamu itu loo !! sudah mulai belum !!
Tio menjawab.
malam pertama kami sudah terlewat !!
__ADS_1
Bima hendak mengerjai Tio dengan memanas manasi Tio.
benarkah ?? kau cepat sekali ya ??!! bagaimana ?? kuat berapa jam kau ??
bima berdecak saat membaca pesan lanjutan dari Tio. "apa-apaan dia !! menanyakan hal konyol !!" gumam Bima sendiri.
Bima !!!
Tio mengirim Bima pesan lagi. namun saat Bima hendak melanjutkan mengetik. Suara Widia terdengar dan hampir membuat Bima terlonjak, pasalanya Widia ternyata sudah dihadapan Bima dan sudah selesai mandi.
" Bima.." panggil Widia.
" oh..iya. ada apa ??" tanya Bima berusaha biasa saja.
" apa kau sedang sibuk ?? kau terlihat serius dengan ponselmu ??" tanya Widia balik.
" tidak.. aku tidak sibuk, hanya berkirim pesan saja dengan Tio." jawab Bima seraya berdiri dari duduknya. "kau sudah selesai ya ??kalau begitu gantian aku. kau jika lelah tidur saja," tambah Bima sebelum melangkah masuk kekamar mandi.
Widia hanya mengangguk dengan sudut bibir terangkat.
Sementara Widia memilih duduk.didepan meja rias,membuka tas miliknya mencari pembersih wajah serta lotion tidur miliknya.
baru saja Widia mengusap wajahnya, ponsel Bima.berdering tanpa panggilan masuk.
Widia menoleh kearah meja nakas dimana ponsel Bima berada. Ragu-ragu Widia mendekati ponsel itu.
" angkat tidak ya ?? nanti kalau bima marah bagaimana ??" tanya Widia pada dirinya sendiri.
dering ponsel terus berbunyi, perlahan widia meraih ponsel itu. "penting tidak ya ??" kembali widia berbicara pada dirinya sendiri.
Hingga dengan berani widia menggeser tombol hijau pada layar ponsel, kemudian menempelkannya ditelinga.
" Bima, kau kemana saja sih !! mau kau gempur berapa ronde widia ??!!! dasar polisi mesum !!" suara pria didalam sambungan panggilan terdengar membentak dengan suara meninggi.
" halo ini siapa ?? Bima sedang mandi."ujar Widia memberi penjelasan.
__ADS_1
Tio terteguh, ia hendak menjahili Bima namun ternyata Widia yang mengangkatnya.
" maaf. maaf, ya sudah aku tutup saja. !!" Tanpa mendengar jawaban Widia, Tio mematikan panggilannya.
" apa yang dimaksud Tio ??? apanya yang berapa ronde ??" tanya widia pada dirinya sendiri.
" kau kenapa Wid ??" suara Bima membuat Widia segera meletakkan ponsel Bima pada meja nakas kembali.
" maaf, maaf, tadi ponselmu berbunyi terus, jadi terpaksa aku ambil." terang widia agar Bima tidak curiga atau marah.
Namun ternyata Bima malah terkekeh dengan penjelasan Widia.
" kenapa minta maaf, kau berhak juga atas ponselku. kau istriku widia. kau berhak tau semuanya isi dalam ponselku."
Jawaban yang tidak disangka terdengar diteelingaa Widia, "oh..iya..emm.. aku hanya tidak mau kau salah faham.." Widia tertunduk sambil duduk ditepi tempat tidur.
Bima mengikuti widia dan duduk disisi Widia. "tenanglah, aku tidak akan salah faham atau marah," Bima menggenggam jemari Widia dan memberanikan diri mengangkat wajah widia yang tertunduk.
" aku mohon mulailah biasa padaku, aku tau kau belum bisa menerimaku, bahkan mungkin kau belum bisa mencintaiku, tapi apa salahnya jika kita mulai kedekatan dengan saling terbuka dan bertukar cerita ?? aku tidak mau gagal menjadi kepala rumah tangga, aku tidak.hanya ingin menjadi suamimu saja. aku ingin kau menganggapku semua kebutuhanmu, sebagai ayah, Sebagai teman, sebagai tempat kau berteduh saat bersedih dengan air mata, katakan jika hatimu sedang tidak bahagia atau kau merasakan apapun. apa kau bisa ??" terang Bima yang terlihat penuh dengan ketulusan.
bahkan mata widia sudah berkaca-kaca mendengar penjabaran Dari Bima.
sosok pria yang begitu widia kagumi dalam diam selama ini.
Entah keberanian dari mana widia langsung berhambur kepelukan Bima dan memeluk.Bima dengan erat. seolah tak mau kehilangan sosok pria yang sangat hangat dan penuh perhatian itu.
Bima menerima dengan bahagia, Seakan meresapi hangatnya pelukan widia, Bima memejamkan mata seraya mengusap kepala widia dengan penuh kelembutan.
.
.
.
.
__ADS_1