
bab 115
.
.
.
Attalah membuka pelukannya, dan menangkupkan wajah Namira dengan kedua tangannya. perlahan Attalah mengusap air mata Namira yang memenuhi pipi Namira.
" kenapa menangis ??" tanya Attalah dengan suara lembut nan menenangkan.
" aku bahkan hampir lupa dengan pesanan kita ini.. tapi kau selalu mengingatnya. maafkan aku.." balas Namira sembari menunduk.
Namun Attalah segera mengangkat kembali wajah Namira agar menatap dirinya.
" hey.. kenapa minta maaf..?? aku tau yang kau rasakan dulu..jangan meminta maaf lagi.."ucap Attalah dengan serius.
Namira mengangguk dengan sisa isak tangisnya. Tak ingin istrinya berlarut dalam kesedihan, Attalah mengecup kening Namira dengan memejamkan matanya, Begitupun dengan Namira, ia meresapi ciuman hangat dari Attalah.
" aku mencintaimu.. sangat mencintaimu.." ucap Attalah lirih sembari menatap mata znamira yang baru terbuka.
" aku juga sangat mencintaimu..aku sangat beruntung memilikimu.."balas Namira dengan senyum bahagia dan membalas tatapan Attalah.
hembusan nafas Attalah bisa dirasakan Namira karna jarak mereka berdua sangatlah dekat.
perlahan tapi pasti, Attalah menempelkan bibirnya dibibir ranum Namira. mengecup dengan penuh cinta.
Ciuman yang awalnya penuh kelembutan dan kehangatan itu, menjadi bertambah panas, saat Attalah memilih menggigit bibir bawah Namira agar namira membuka mulutnya dan membiarkan Attalah menelusuri rongga mulutnya.
decapan suara mereka yang saling bertukar slavina memenuhi ruangan kamar yang berlampu temaram.
Nafas keduanya memburu saat mereka saling melepas pangutan guna menghirup oksigen dan kembali saling berpangut, dengan tangan Attalah yang mulai mengusap dan meraba dari pinggang punggung, dan berhenti ditempat favoritenya.
Attalah tak mau berhenti, saat pangutan terlepas, ia langsung turun dileher jenjang Namira dan membuat ukiran indah tanda kepemilikannya. suara sensual Namira yang keluar secara tidak sadar membuat Gejolak Attalah semakin menggebu.
dan..
tokk.
tokk..
tokk..
__ADS_1
Namira terperajak saat terdengar pintu kamar mereka diketuk beberapa kali. sedangkan Attalah terus dengan aktivitasnya menggerayangi Tubuh Namira dan bermain dibuah favoritenya.
" mas.. ada yang mengetuk..aahh.. pintu.."ucap Namira sembari berdesis saat Attalah terus melahap buah segar milik Namira.
" biarkan saja. pasti pelayan." jawab Attalah dengan nafas memburu dan suara terdengar berat.
tokk..
tokk..
tokk..
" ayah !! bunda !!!" teriakan dari luar langsung menghentikan aktivitas Attalah dan Namira. mereka saling tatap, hampir saja mereka lupa jika sudah memiliki putri.
" Er mas ??" Ucap Namira yang segera mendorong tubuh Attalah yang berasa diatasnya dan langsung membenahi Piyama tidurnya, Namira berlari kearah pintu.
" Ckk.. Er itu kan putriku, kenapa dia tidak tau jika aku sedang mau membuatkan dia adik !!" gerutu Attalah sendiri sembari meraih kaosnya yang tadi sudah teronggok dilantai.
Namira membenahi rambutnya dan mengatur nafasnya, lalu membuka pintu kamarnya.
" bunda kenapa lama sekali bukanya !!!?" protes Erlita.
" maaf sayang.. bunda tadi sedang dikamar mandi..Er kenapa kekamar bunda ??" tanya Namira sembari berjongkok didepan putrinya.
" ayah.." Erlita melewati Namira dan berlari memeluk Attalah. seketika juga Attalah membuat tubuh Erlita melambung keudara dan bertengger dalam gendongannya.
" anak gadis ayah kenapa jam segini belum tidur ??" tanya Attalah sembari mencium pipi Erlita.
" mau tidur sama ayah dan Bunda.." rengek Erlita.
Namira menghampiri bapak dan anak yang sedang mengobrol itu.
" ya sudah. ayo kita tidur. besok kan Er haru sekolah.." ajak Namira.
" Er tengah ya bunda ??!!" pinta Erlita dengan girang.
" kenapa memangnya ??" tanya Attalah dengan seringainya.
" mau dipeluk ayah sama bunda." jawab Erlita dengan memperlihatkan deretan giginya yang putih.
Attalah menarik pelan hidung putri kesayangannya.
" anak pintar. ayo kita tidur.." Attalah melangkah mendekati ranjang dan menurunkan putrinya. sementara Namira sudah berbaring dengan tangan menyangga kepalanya.
__ADS_1
Erlita begitu antusias membuat tempat yang nyaman untuknya, menyingkirkan bantal guling dan menata bantal untuk sang ayah.
" cepat ayah.." panggil Erlita.
" iya iya.." Attalah segera Naik keatas tempat tidur dan membenarkan posisinya.
Namira mengusap kepala Erlita dengan penuh kelembutan agar putrinya segera tertidur. namun tanda merah dileher sang bunda yang masih terlihat sangat merah menjadi perhatian Erlita.
" bunda. apa dikamar ini banyak nyamuk ??" tanya Er dengan polosnya.
" nyamuk ?? tidak sayang kenapa ??" tanya Namira keheranan dengan pertanyaan Putrinya.
Bukan menjawab Erlita beralih menatap sang ayah yang juga menghadap dirinya dengan tangan sebagai penyangga kepala.
" ayah nyubit Bunda ya ??" tuduh Erlita.
Alis Attalah bertaut, pertanyaan aneh apa lagi.
"kenapa Er tanya begitu ?? mana mungkin ayah nyubit bunda..bicara kasar saja ayah tidak pernah kan ??" balas Attalah memberi penjelasan.
" tapi kenapa lehernya bunda merah-merah !!! kalau tidak ada nyamuk terus kenapa lehernya bunda ??!!!" protes Erlita.
Namira dan Attalah saling tatap, mereka sama sekali tidak berfikir sampai disitu,bahkan Namira sendiri tidak sadar jika lehernya banyak sekali tanda kepemilikan buatan suaminya.
Attalah mengaruk kepalanya yang tidak gatal seraya menatap kearah lain, saat tatapan tak bersahabat dilayangkan Namira.
" Er.. mau tau kenapa lehernya bunda merah-merah ??" ucap Attalah sembari memeluk putrinya.
Erlita segera mengangguk dengan pasti.
" tapi sekarang tidur dulu.. besok pagi sambil jalan-jalan ayah kasih tau. bagaimana ?? mau tidak ??" tawar Attalah.
Namira yang mendengar hanya menyebikkan bibir bawahnya.
" beneran ya yah ??" Erlita mencoba memastikan.
" benar sayang.. sini..sini.. sekarang tidur dulu.. anak ayah yang cantik.." Attalah membawa Erlita dalam dekapannya dan mengusap lembut kepala Erlita.
.
.
.
__ADS_1
.