Diantara Dua Pilihan

Diantara Dua Pilihan
kemarahan Attalah


__ADS_3

bab 130


.


.


.


Pagi hatinya, Dirumah Attalah sudah biasa saja. kejadian semalam seolah sudah terlewatkan. bahkan kaca jendela kamar Attalah dan Namira juga sudah diganti langsung setelan insiden tak terduga itu.


Atas laporan anak buah Tio yang bertugas menjaga rumah, Pelaku sudah berhasil diamankan. Namun attalah sengaja tidak.memberitau istrinya, ia tidak mau Namira sampai kawatir, apa lagi usia kandungan Namira yang masih sangat muda dan rentan sekali. bahkan Erlita diharuskan sekolah dirumah, Attalah rela merogoh kocek cukup banyak untuk membayar guru private untuk putri kecilnya itu. supaya putrinya tidak harus keluar rumah yang malah akan membuat fikiran attalah tak tenang.


" mas, nanti mau aku antar makan siang ??" tawar Namira saat mengantar sang suami keluar dari rumah.


" tidak usah sayang.. kau istirahat saja dirumah."balas Attalah seraya mengecup kening Namira.


" apa kau takut aku diteror lagi ??" tanya Namira seolah tau maksud suaminya.


" tidak sayang.. hanya saja kandunganmu kan masih sangat muda, kau tidak boleh terlalu lelah.."sanggah Attalah berusaha agar Namira tidak marah.


" baiklah. hati-hati.." balas Namira mengalah, ia juga tidak mau terlalu membebani fikiran suaminya yang terlalu menghawatirkannya.


" aku mencintaimu..hati-hati juga dirumah ya ?? jika ingin keluar bawa pengawal yang aku beritau kemarin."pesan Attalah.


Namira mengangguk dengan lambaian tangan mengiringi kepergian Attalah.


Kini Namira harus dikawal dimanapun dan kapanpun, rasa kawatir pada diri Attalah seolah menjadikan Namira tahanan rumah.


Jujur saja. Namira sendiri juga begitu menghawatirkan suaminya, bisa saja peneror itu juga mengincar Attalah. apa lagi saat teringat cerita Attalah saat mengalami kecelakaan, semua membuat Namira begitu was-was.


.


.


.


Attalah sebenarnya tidak kekantor, melainkan kesebuah rumah besar milik Tio yang mana disitu telah disekap pelaku peneror dirumahnya.

__ADS_1


Atas laporan dari anak buah Tio yang menjaga rumahnya, Attalah menuju kerumah yang berada dipinggir kota itu.


Saat berhenti para pria dengan seragam serba hitam mempersilahkan Attalah untuk masuk.


Tanpa berkata lagi, Attalah segera masuk kedalam rumah besar itu.


Didalam ia dikejutkan dengan Tio yang sudah sarapan dimeja bundar diruang tengah rumah besar itu.


" kau menginap dirumah ini ??" tanya Attalah seraya menghampiri Tio.


" tentu saja. menjaga bajingan busuk itu" jawab Tio yang segera mengelap mulutnya dari sisa makanan yang baru saja masuk dalam mulutnya.


" terima kasih." ujar Attalah sambil duduk disisi Tio.


Tio menepuk pundak Attalah. " tenanglah, kita paksa dia bicara agar kau tidak gundah begini.."


Attalah mengangguk dengan membuang nafas dengan kasar.


" ayo.. aku sudah tidak sabar melakukan olahraga.." ajak Tio pada Attalah.


anak buah Tio mempersilahkan Tio dan Attalah masuk kesebuah ruangan berpintu jeruji, layaknya sel dikantor polisi.


" dia masih hidup ??" tanya Tio pada anak buahnya.


" masih bos. silahkan." jawab anak buah Tio itu


didalamnya terduduk pria yang masih lengkap dengan topeng hitam diwajahnya, bahkan kaca matanya juga belum dibuka oleh anak buah Tio.


" hey kau !!" panggil Tio dengan suara meninggi.


sedangkan Attalah sudah mengepalkan kuat tangannya,


Pria bertopeng itu segera mengangkat wajahnya menatap Attalah dan Tio bergantian.


Tio dan attalah mendekati pria itu bersamaan.


Tio menatap Attalah seolah memberi kode untuk Attalah.

__ADS_1


Attalah yang mengerti langsung membuka Penutup wajah pria pelaku peneror itu.


Wajah asing yang membuat Attalah nampak.tidak terima. dan..


bukkk.


bukk..


bukkk.


beberapa pukulan dilayangkan Attalah pada wajah pria itu. dan Attalah mencengram leher pria itu dengan kuat.


" siapa yang menyuruhmu !!!" tanya Attalah dengan suara yang santai namun penuh penekanan.


" aakk..a..k..u..ti..da..k..a..aka..n bi..ca..arra..aakkhhh !!" pria itu menjawab dengan terbata, sebab lehernya ditekan kuat oleh Attalah.


" brengsek kau !!" teriak Attalah.


bukk..


bukk..


bukkk..


bukk.


Pria itu tersungkur begitu saja akibat amukan Attalah.


Tio hanya melipat kedua tangannya menjadi penonton. Tio pun merasa geram dengan pelaku sebenarnya, bisa-bisanya mereka melakukan hal yang tidak menyenangkan. meneror orang seenaknya begitu.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2