Ditinggal Nikah

Ditinggal Nikah
Beban


__ADS_3

Halo Assalamu'alaikum Pembaca setia Ditinggal Nikah. Apapun masalahmu. Jangan lupa senyum.☺😊😊


Selamat membaca..................................


Jika kita memaksakan diri untuk tersenyum, maka sesungguhnya kita pun merasa tersenyum? singkatnya, suasana hati kita mengiringi postur tubuh dan yang lebih penting lagi, orang disekeliling kita cenderung merasa apa yang kita rasakan. Suasana hati itu sangat menular.


@Alfred_Adler


.


.


.


***


Keesokan harinya, Nazeera sedang duduk di tepi tempat tidur sambil memeriksa handphonennya. Ada beberapa pesan dan juga panggilan. Wanita itu hanya mendesah pelan melihat siapa yang mengirim pesan dan yang telah menelponnya.


Dengan malas, Nazeera hanya iseng mengintip akun instagramnya yang sudah lama tidak pernah di cek, dari pada membalas pesan masuk.


"Kenapa sih harus dia yang pertama tampil di layar beranda. Buat suasana hati rusak saja." Gumamnya dan melempar handphone miliknya ke tempat tidur. Lalu, menunduk dan meletakkan kedua telapak tangannya di wajah.


Jelang beberapa saat, Nazeera berinisiatif menuju butik miliknya. Berpikir tentang pekerjaan akan lebih baik dari pada memikirkan calon orang, begitu pikirnya.


Saat tiba di butik, banyak karyawan yang menyapa. Wanita itu tidak membalas sapaan dari karyawan. Pikirannya terasa kosong, meski mencoba untuk berfikir.


Tok Tok Tok


Nazeera mengalihkan pandangannya saat mendengar ketukan pintu. Asistennya datang dengan beberapa berkas di tangannya.


"Ada apa Mba? Kok melamun saja dari tadi?" Ucapnya menaruh tumpukan kertas di atas meja.


"Gak apa-apa. Terimakasih yah?" Balasnya.


"Kenapa kalian tega? Hati ku seperti terpenjara." Gumam Nazeera saat Asyah sudah menutup pintu.


Nazeera sedang mengetik sesuatu di laptopnya, mencoba untuk fokus. Mengambil kertas untuk menyibukkan diri tetapi hasilnya sama sekali tidak membuatnya tenang. Pikirannya selalu menerawang. Berulang kali menghembuskan nafasnya kasar.


Hey hati, damai lah dengan kenyataan. Batin Nazeera.


Dia mengambil tasnya lalu menuju ke karyawan yang sedang bekerja. Dia memanggil salah satu karyawan yang ia lihat.


"Aku keluar dulu, jika ada sesuatu hubungi Asyah saja yah." Pamitnya pada salah satu karyawan.


"Mungkin di sana akan lebih baik." Ucapnya saat berada di luar pintu.


Dia menyalakan motor menuju suatu tempat. Empat puluh lima menit kemudian. Dia telah sampai di sebuah tempat yang tertulis 'Bukit Samata'.


Tempatnya sangat indah, hanya melalui beberapa tanjakan sudah berada di atas bukit, semuanya dapat dilihat dari kejauhan seperti dunia kecil. Ditambah oleh hembusan angin membuat perasaan menjadi tenang.


Entahlah kali ini apa yang membuat pengunjung tidak terlalu banyak, atau mungkin pengaruh mendung di pagi hari menjelang siang ini hingga tidak terlalu ramai.


Wanita itu berdiri jauh dari beberapa kumpulan manusia. Dia merentangkan kedua tangannya saat berada di puncak dan mengeluarkan semua bebannya melalui teriakan yang keras. "Apa salahku?" Teriaknya seraya menangis. Bagaimana bisa orang yang dicintainya, malah sekarang menjadi beban yang sangat mendalam.

__ADS_1


"May? Kenapa kau menghianatiku? Akhyar, apa salahku? Aku tak sanggup. Yaa Allah. hikz hikz hikz. Aaaaaaaaaarrrrggghhhh." Teriaknya sekali lagi


"Ada apa sih. Ganggu orang saja." Ucap seorang laki-laki yang merasa terganggu dengan teriakan Nazeera.


Nazeera kaget, ternyata ada seseorang di balik batu besar dekat dia berdiri. Dia menghapus air matanya lalu mengalihkan pandangannya ke sumber suara. Sesaat kemudian, dia berjalan meninggalkan pria tersebut.


"Habis putus cinta yah?" Tebak pria tersebut.


Nazeera hanya berbalik menghadap ke pria tersebut, "Bukan urusanmu." Balasnya lalu pergi.


Lelaki itu hanya tersenyum sinis melihat Nazeera berlalu. "Suatu saat nanti akan menjadi urusanku." Teriak lelaki itu.


Nazeera mendengar teriakan itu mempercepat langkahnya hingga menabrak seorang gadis, matanya sipit, kulitnya putih mulus, tinggi, hidungnya mancung, tetapi mancung kedalam.


"Maaf Mba, Maaf. Saya tidak sengaja." Ucap Nazeera panik.


"Iya. Ngak apa-apa." Ucap wanita tersebut sambil berusaha berdiri dan membersihkan bagian bokongnya.


"Sakit yah. Aduh maaf yah Mba. Saya benar-benar ngak sengaja." Ucap Nazeera membantu wanita itu berdiri.


Wanita itu melihat wanita yang menabraknya, "Na-Na siapa yah akhh pokoknya Na deh?" Ucap wanita itu tersenyum senang langsung memeluk Nazeera.


Nazeera hanya diam terpaku dengan perlakuan wanita itu. "Maaf. Saya siapa? Tidak, tidak. Maksud saya, kamu siapa?" Ucap Nazeera kebingungan.


"Aduh. loe ngak ingat yah dengan gue? Itu loh lawan lomba loe dulu. Tapi loe ngalahin gue." Ucapnya akrab. Nazeera hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia mencoba mengingat siapa yang ada di depannya ini.


"Aduh. Ternyata ingatan loe lemah juga yah." Ucapnya sembari tertawa.


"Loe mau kemana? Loe ke sini sama siapa? Kok udah mau pulang? Sendiri lagi." Ucap wanita itu.


Gila, nanya sendiri jawab sendiri. Batin Nazeera.


(Author pun kadang gitu, nanya sendiri jawab sendiri. Tanpa disadari kadang kita jawab sendiri pertanyaan yang kita tanyakan. Wkwkwk)


Nazeera hanya menanggapinya dengan senyuman.


"Ngak usah pulang dulu. Yuk nikmati pemandangan disini. Mumpung cuacanya ngk bisa di tebak. Entah akan hujan atau ngak." Ucap wanita itu sambil memeriksa tas nya. Dia mengambil sebuah kamera lalu mencari sebuah gambar.


Cuaca aja ngak bisa di tebak. Apalagi jodoh ku. Desah Nazeera.


"Ini loe kan?" Ucap wanita itu memperlihatkan beberapa gambar di kameranya. Nazeera mengangguk mengiyakan. Tetapi masih tak mengingatnya.


"Yasudah lah, emang gini kali yah nasib orang mancung. Mengenal tapi tak di kenal."


Kamu juga ngak kenal aku kali.


"Oia, kenalin nama gue Amitabh Bachchan. Biasa di panggil makan. Hehe." Sambung wanita itu mengulurkan tangannya.


Haahhh? Bukannya itu adalah aktor India. Batin Nazeera kebingungan.


Wanita itu melihat Nazeera kebingungan. Dia semakin tertawa. Nazeera hanya tersenyum dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Hahaha. Maaf. Perkenalkan nama gue Amita. Loe panggil gue Mita aja. Gak apa-apa deh loe ngak ingat gue. Tapi setidaknya loe balas uluran tangan gue." Ucap wanita itu memegang tangan Nazeera lalu berjabat.


"Hai Mita Aja. Kenalin nama saya Nazeera. biasa di sapa Zee." Ucap Nazeera.

__ADS_1


Mita tertawa mendengar namanya disebut. "Terserah loe aja deh. Gue ngak masalah. Loe santai aja yah ma gue. Ngak usah formal." Ucap mita menepuk pundak Nazeera.


"Iy-iya." Ucap Nazeera ragu.


"Emm btw loe udah lama di sini?"


"Lumayan." Jawabnya singkat.


"Enak aja loe bilangin gue Mayan."


"Eehhh. Maksud saya lumayan bukan lu mayan." Jelas Nazeera.


Mita tertawa mendengar penjelasan Nazeera, "Ngak Nazeera biasa disapa Zee. Gue becanda doang." Ucap Mita tertawa.


"Oh iya. Ngak usah pulang dulu yah? gue mau kenalin loe dengan abang gue." Ajak Mita menarik paksa tangan Nazeera.


Ini anak siapa yah? Main paksa segala. Helloooo. Batin Nazeera.


"Abaaaaaaaaaang." Teriak Mita.


"Yuuuhuuiii Abaaaaang." Teriaknya sekali lagi.


"Ini juga, kenapa sih teriak-teriak." Ucap laki-laki itu memposisikan dirinya duduk. Dia mengalihkan pandangannya ke sumber suara.


"Loe."


"Kamu." Ucap mereka bersamaan.


Ternyata lelaki yang di maksud oleh Mita adalah orang yang dia jumpa tadi sewaktu meluapkan semua bebannya.


Mita melihat Nazeera dan Abangnya heran, "Kalian saling kenal?" Tanya Mita.


"Ngak." Jawab mereka bersamaan.


"Abang. Kenalin ini orang yang mengalakan ku sewaktu lomba." Ucap Mita meperkenalkan.


Bersambung...


.


.


.


Halo pembaca setia Ditinggal Nikah, jangan lupa beri author semangat yah.


Boleh juga kritik dan sarannya.


Natizen: Thor, emang loe ngak malu yah kalau nanya sendiri eh malah jawab sendiri.


Author: (gambar lempar panci).


Natizen: hehehe.

__ADS_1


__ADS_2