Ditinggal Nikah

Ditinggal Nikah
Restoran


__ADS_3

"Hena... Kenapa kita mesti ke salon?" Nazeera bingung.


Hena hanya tersenyum. "Saya tidak tahu nyonya. Saya hanya diperintahan oleh tuan Jaya."


Nazeera pasrah saja. Sebanyak apapun wanita itu bertnya toh hasilnya nihil.


Setelahlama berkutat, Hena megantar sang nyonya ke mobil.


"Ikutlah dengan supir nyonya. Tan Jaya sudah menunggu."


Hena membuka pintu mobil mempersilahkan Nazeera.


"Terimkasih."


...****************...


Dilain tempat, Jaya menunggu kedatangan pujaan hati. Hatinya bahagia menunggu kedatangannya. Meski ini sudah hampr lewat makan siang.


"Sayang...." Sambut Jaya melihat sang istri.


Nazeera melihat berbagai nuansa romantis. "Jay..." Pekiknya terkejut menutup mulutnya.


Jaya menanggapinya dengan senyum mengulurkan tangan.


Nazeera menerima uluran tangan Jaya. Wanita itu tidak bisa berkata apapun.


"Dudukah my princess." Ujarnya setelah menarik salah satu kursi.


"Bagaimana? Bagus tidak kejutannya?"


Nazeera mengangguk lalu memeuk sang suami sebelum duduk.


"Masih ada kejutan lainnya." Bisiknya menjilat daun telinga Nazeera.

__ADS_1


"Jay..." Pekik Nazeera.


"Jangan merusak suasana dong." Pintanya ketika melihat sang istri akan marah.


"Hahaha... Maaf."


Nazeera melepaskan pelukannya lalu duduk di kursiyang telah di siapkan. Jaya juga ikutan duduk.


Suara alunan piano yang begitu indah menambah suasana keindahan. "Jay..."


"Yank, bisa gak sih panggilnya jangan nama?" Gerutunya.


"Terus aku panggilnya apa?"


"Emm... Apa aja." Jaya menaikkan alisnya menggoda Nazeera.


"Ini mau makan siang atau mau ngobrol sih?" Ketusnya menutupi gugup yang menimpa dirinya.


"Panggil aku baby, my husband, ayang, cinta, kasih, banyak kok."


Jaya melotot. Kenapa jadi panggian yang ke arab-araban? Bukan typical dia banget. "Ada yang lain gak sih yank? Masa iya panggilnya gitu." Gerutu Jaya. Bukannya apa. Jaya hany merasa kurang cocok dengan panggian itu karena yang dia tahu itu hanya panggian bagi mereka yang ahli dalam agama. Sedangkan dirinya adalah kaum awam dengan ilmu agama. Jika ilmu dalam berbisnis Jaya Alfredo menjadi tingkatan pertama.


"Abiiiiii." Pekik Nazeera. "Hahaha."


"Yasudah deh." Meskipun kedengaran menggelian, tapi dia tidak ingin bertengkar.


Menghindari lebih baik daripada mengubah suasana.


"Makanlah yank." Jaya melayani sang istri. Sesekali dia menyuapi. Tak jarang, ada saja celotehan di antara keduanya hingga selesai makan.


"Yank, ikut aku." Jaya menggandeng tangan sang istri menuju suatu tempat.


"Kita mau ke mana?"

__ADS_1


"Ke gunung." Jawab Jaya ambigu. Matanya sedari tadi sudah tak fokus.


"Hah? Dengan pakaian seperti ini?" Nazeera menanggapinya dengan serius.


"Hah? Bukan. Hehe." Jaya mengecup bibir sang istri.


Jaya menyeret sang istri. Dia benar-benar sudah tak tahan ingin meluapkan lahar panas di dalam dirinya.


"Yank. Boleh yah?" Izinnya. Dia sudah kehilangan kendali. Pikiannya sudah tidak fokus.


"Apa sih Jay?"


"Gak ada. Lupakan." Jaya membawanya ke salah satu kamar hotel yang ada di restoran.


"Kok masuk kamar sih?"


"Nurut aja sayang. Ap susahnya sih." Jaya menutup pintu menggiring Nazeera masuk.


"Tapi kan ak- ughhh." Jaya langsung menyumpal mulut Nazeera denga ciuman.


Nazeera yang kaget memukul dada sang suami. Tetapi pria itu tak peduli. Dia menuntaskan ingin hasratnya.


hosh hosh hosh


Nazeera menghirup nafas dalam-dalam. Jaya hanya menatap Nazeera dengan penuh harap.


"Sayang..." Belum sempat Nazeera berkomentar, Jaya sekali lagi mencium sang istri brutal.


"Boleh yah?" Izinnya ketika be


...****************...


Maaf bru up..

__ADS_1


Jan lupa tinggalkan jejak...


igeh : greenteach21


__ADS_2