
Maaf bagi para readers jika up nya lama🤣🤣
di sebabkan oleh karena:
Belum bisa membagi waktu.
Kerjaan dunia nyata semakin menjadi-jadi.
Bocil di rumah perlu di awasi selama sekolah daring.
Jadi, jika bukan karena kalian, mungkin akan hiatus dulu😂😅😅. Tapi kalian lah alasanku untuk bertahan. Eeeaaaaa.😂🤣🤣
SELAMAT MEMBACA....!!!
Jika hidup adalah pilihan, maka galau adalah sebuah kondisi bimbang dalam menentukan pilihan hidup. Karena itu, galau adalah bagian dari hidup yang tak bisa dipisahkan.
.
.
.
***
Seseorang yang duduk di sofa dengan pensil dan kertas di lengannya seolah mengetahui apa yang dipikirkan oleh Maya.
“Maaf, Mba Na lagi ada urusan.” Ucapnya lalu mempersilakan mereka duduk.
Maya hanya ber-oh ria. Sepertinya dia sengaja menghindari ku. Padahal aku baru saja ingin memberikan waktu untuk mereka. Sepertinya Nazeera benar-benar membenciku.
“Emangnya siapa yang kamu cari, May?” Tanya Akhyar.
“Eh-emm ngak ada. Ngak ada apa-apa.” Elaknya gugup.
Lebih baik dia ngak tau kalau pemiliknya adalah Nazeera.
Akhyar tidak lagi memperdulikan ucapan Maya, di saat pemilihan desain pengantin pun, dia lebih banyak diam. Lebih banyak Maya yang berbicara daripada Akyar.
Mereka pamit setelah urusannya selesai.
Biasanya sepasang pengantin akan lebih bersemangat dalam pemilihan pakaian pengantin seperti ini. Batin Asyah menatap punggung mereka.
“Aduhh, kenapa sekarang aku jadi kepo yah. Hehe.” Ucapnya.
“Ada apa?” Nazeera memasuki ruangannya.
“Ngak apa-apa kok, Mba” Balasnya.
“Mba, habis nangis lagi?” Tanya Asyah saat melihat mata sembab Nazeera.
“Hahaha, kamu tuh yah. Tebakan mu selalu benar.”
Asyah jadi ikut tertawa, sifat humorisnya mulai kumat. Kalau galaunya datang, ngajakin becanda pun ngak asyik.
“Bagaimana dengan pilihan mereka?”
Asyah mulai menjelaskan maksud dari Nazeera. Setelah selesai, asisten itu pamit untuk melanjutkan kerjaannya yang tertunda.
Help me, God. Nazeera mulai merancang gaun Akhyar dan Maya.
Tok Tok Tok
Pintu sudah beberapa kali di ketuk, tetapi Nazeera tidak mendengar ketukan tersebut.
“Mba, sebaiknya ke dokter deh.” Celoteh Asyah saat memasuki ruangan Nazeera.
“Yaa Allah, Asyaaaaahh.” Geram Nazeera menatap Asyah tajam.
“Kenapa kamu tidak ketuk pintu dulu sebelum masuk. Aku kan jadi kaget. Untung nih jantung masih normal dan masih berdetak.” Gerutunya memegang dadanya.
“Aku kan tadi udah ketuk, liat aja nih lengan aku sampe merah gini.” Balasnya memperlihatkan tangannya.
“Kamu aja Mba yang ke asyikan kerja, pintu aja di ketuk dengan keras tapi masih tak dengar. Mending ke dokter THT sana.” Imbuhnya lalu duduk di sofa.
__ADS_1
“Dokter…!!! Palamu tuh yang koslet.” Ucap Nazeera memperbaiki duduknya.
“Iiidiihh, diberi usul malah aku di bilang koslet. Mba kali yang telinganya koslet.”
“ASYAH!!!” Nazeera kembali menatap tajam.
Asyah terkekeh melihat bosnya, Sepertinya kadar galaunya sudah menurun. Dia semakin tertawa.
“Kalau masih mau gaji mu tetap utuh, berhentilah tertawa.” Ucapnya melipat kedua tangannya di depan dada.
Setelah mendengar ucapan Nazeera, Asyah langsung diam dan menutup mulutnya.
“Katakan ada apa kamu datang kemari?”
“Mba, lihat sekarang sudah jam berapa…!! Tidak minat pulang yah Mba?”
Nazeera menuruti ucapan Asyah.”Astaga!” Ucapnya. Kedua tangannya memegang kepalanya.
“Kenapa, Mba?”
“Syah, Aku ada janji. Gimana donk.”
“Yah gimana lagi selain pilih atau tinggalkan.” Asyah terkekeh lagi.
“Kamu selesaikan desain ini. Aku ngak mau tau, malam ini harus selesai!” Serunya lalu berdiri dari sofa.
Asyah langsung terdiam, YaaAllah, baru juga mau dinner. Jadi batal lagi deh.
“Kenapa?” Tanya Nazeera setelah melihat Asyah cemberut.
"Hehe, boleh nego dikit ngak, Mba?"
"Nego bagaimana?" Tanyanya pura-pura tidak tau.
"Di kurangin donk kerjaannya. Hehe, kan mba sendiri yang nerima ini dengan batas waktu 48 jam."
"Yasudah, aku kurangin. Mulai besok ngak usah kerja, yah." Ucap Nazeera lembut mengedipkan kedua bola matanya.
Asyah langsung mengambil kertas dan pensil di atas meja, lalu melanjutkan rancangannya.
Nazeera hanya memutar matanya malas. Dia keluar dari ruangannya. Asyah mengikutinya hingga ke pintu. "Mbaaa." Ucapnya bergelayut manja di dinding.
"Becanda doank." Imbuhnya masih dengan berteriak.
Nazeera sudah tidak terlihat, Asyah kembali ke sofa untuk mengerjakan tugas dari bosnya. "Aduh, gini amat yah jadi karyawan." Keluhnya menatap alat-alat desain di atas meja.
"Gegara 48 jam nih, harus aku yang jadi korban." Gerutunya.
***
Di sebuah cafe, Nazeera bertemu memeluk erat seseorang. "Ayuuu, kangen banget."
"Ugghh, baby. Baru juga beberapa tahun. Belum selamanya kan?" Canda Ayu membalas pelukan Nazeera.
"Iihh, kamu bicara apa sih. Mulai ngaur deh."
Mereka melepaskan pelukan masing-masing. Setelah itu, mereka memesan makanan.
"Kalau nampak dari sini kamu tuh sepertinya sudah ngak galau deh. Coba liat nih, kecil amat." Ucap Ayu mengukur pergelangan tangan Nazeera dengan tangannya.
"Sedari dulu emang gini adanya, Yu." Balasnya tak terima.
"Kamu juga datang-datang malah ngukur. Bukannya nanya kabar atau paling enggak bawain aku oleng-eleng." Imbuh Nazeera.
"Oleh-oleh apanya, kamu aja yang sok sibuk. Aku di sini sudah sepekan loh."
"Ini semua gara-gara si Jaya. Beberapa pekerjaan ku terbengkalai dan juga waktu untuk ketemu kamu jadi tertunda."
"Ehem-ehem." Ayu berdehem mengejek Nazeera.
Nazeera mencubit lengan Ayu, "Aaauuuuhh." Keluh Ayu.
"Kamu kenapa sih, orang cuman berdehem juga." Ucap Ayu mengusap bekas cubitan.
"Kamu sendiri kenapa berdehem."
"Berdehem aja pake cubit, kan sakit." Gerutu Ayu.
__ADS_1
Obrolan mereka terhenti saat pelayan menghampirinya.
"Terimakasih." Ucap mereka ramah kepada pelayan.
"Bagaimana kabarmu?"
"Udah terlambat tanya kabar, keburu basi." Ketus Nazeera menyeruput minumannya.
Nih anak egoisnya masih tetap sama. Nanya salah, ngak nanya lebih-lebih salah. Untung calon adik ipar.
"Nanya salah, ngak nanya salah."
Nazeera tertawa mendengar ucapan Ayu. "Dari dulu kamu emang selalu salah, sayang." Ucap Nazeera memegang kedua pipi Ayu.
"Lepasin, sakit tau."
"Pipi mu tambah tembem, suka maininya." Nazeera terbahak tambah memainkan ke kiri dan ke kanan pipi Ayu.
Ayu melepaskan tangan Nazeera dan berpindah tempat duduk jauh darinya.
"Lama-lama kalo aku dekat situ, bisa berabe nih kulit. Memar semua baru pulang aku-nya."
"Hahaha, kamu kan tau aku kangen."
"Yah kangen, tapi ngak melakukan penyiksaan fisik juga kan. Lama-lama jadi KDRT kamu."
"Chii, baru juga beberapa kali. Gitu aja kok kabur."
"Baru-baru, dimana-mana ngak ad yang mau di siksa."
"Awas aja kamu kalau minta restu dari Aku, ngak bakal aku restuin."
Ayu menjulurkan lidahnya, "Ngak peduli."
Mereka mengobrol selama dua jam. Tanpa disadari, terdapat sepasang mata yang memperhatikan mereka dari kejauhan.
"Yu, Aku harus balik. Kerjaan aku masih banyak." Pamit Nazeera.
"Kenapa buru-buru. Ada janji yah?"
Nazeera hanya mengangguk. Dia membuka tasnya mencari lembaran uang. "Aku yang traktir, oke."
"Wokeh." Memasang dua jempol. "Traktir diterima. Hahaha."
Mereka menuju kasir.
"Aku harus balik sekarang, perasaan aku ngak enak."
"Kenapa?"
"Aku lagi terima orderan dari pelanggan. Tapi harus selesai dalam waktu 48 jam."
"Kok bisa gitu. Biasanya kan lebih sepekan. Ini 48 jam."
Nazeera jadi gugup, Kalau dia tau, bisa-bisa di ejek habis-habisan aku.
"Emm. Ngak ada apa-apa. Cuman pengambilan ekspres."
Ayu hanya mengangguk.
"Yasudah. Aku balik dulu yah. Udah jam 8 nih." Ucap Nazeera membayar tagihan ke pelayan.
Setelah kepergian Nazeera, Ayu menuju meja yang selalu memperhatikan mereka tadi.
Bersambung...
.
.
.
Jan lupa tinggalkan jejak yah berupa JEMPOL, VOTE dan juga KOMENNYA.
Dukungan kalian adalah penyemangat bagi para Author.😌😌🤗🤗🤗
SELAMAT MENANTI!!!
__ADS_1