
Pagi ini merupakan pagi yang indah bagi dua pasangan halal. Berbeda dengan Dedi, menikmati dua wanita sekaligus.
"Jay... Kenapa masih memelukku erat?" Tegur Nazeera.
"Kenapa?"
"Aku sesak. Kamu mau membuatku mati?"
Jaya langsung melonggarkan pelukannya. Mereka menikmati malam untuk pertama kalinya setelah pernikahan.
Tapi, bukan kenikmatan yang seperti readrs pikirkan yah. Mereka hanya berdiam diri, menikmati perukan dan diiringi ciuman ringan di wajah Nazeera. Mereka belum melakukan malam pertama yang tertunda, karena Nazeera masih bingung. Apakah status pernikahannya dengan Jaya masih sah atau tidak? Karena mereka berpisah hampir setahun.
"Kenapa diam saja, sayang?" Tanya Jaya yang berada di ceruk leher sang istri. Hal itu merupakan tempat favorit Jaya yang baru. Tangannya ia tautkan dengan tangan kanan Nazeera. Sesekali, ia menggambar abstrak yang tak jelas di tangan istrinya.
"Maafkan diri ku." Nazeera tercekat.
"Kenapa meminta maaf?" Tanyanya seraya menggigit kecil pundak sang istri. Nazeera hanya meringis kecil. Apakah ini akan merupakan kegiatan suami istri jika sudah berumah tangga?
"Aku ingin kita menikah ulang." Ujarnya terus terang.
Jaya langsung menghentikan aktifitasnya. Pria itu membeku.
__ADS_1
Merasa tidak ada jawaban dan erkataan dari Jaya, Nazeera langsung memiringkan badannya.
"Maaf, aku hanya takut. Sebaiknya kita menikah ulang saja tanpa ada kekhawatiran lagi diantara kita. Kita memang tidak bercerai, tapi kita sudah berpisah cukup lama, Jay. Aku mohon mengertilah." Nazeera memelas. Rasanya Jaya tak sanggup melihat Nazeera seperti ini.
"Baiklah." Jaya menuruti kemauan istrinya. Agar si kecil membuka segel dengan cepat.
...****************...
"Cepetan, Jay...."
Mereka sudah tiba di tanah air. Nazeera sudah tidak sabar untuk bertemu keluarganya. Ingin bertemu Amma dan juga Mitha.
"Bunda... Ayah...." Teriak Nazeera dari luar. Kebahagiaan Nazeera berkali-kali lipat karena kehadiran suaminya, Jaya Alfredo.
Mise hanya duduk diam. Menatap anak perempannya dalam. Hari ini, dia merasa sudah sangat tua. Perasaan baru kemarin dia melihat Tamar dan juga Nazeera berlarian. Hari ini sudah memiki pasangan masing-masing.
Raha dan Mise juga sudah mendengar cerita lengkap dari Tamar tentang Jaya. Mereka sebagai orang tua tentunya merasa senang.
"Ayah..." Melihat sang ayah merenung, langsung saja Nazeera menghamburkan pelukan.
"Selamat datang kembali, Nak." Raha memeuk Jaya. Wanita paruh baya itu terharu atas kehadiran sang menantu.
__ADS_1
Jaya membalas pelukan sang mertua. Rasanya dia sudah lama tak hadir. Dia merindukan itu.
"Terimaksih bunda."
Setelah itu, Jaya saling menyapa ayah mertuanya.
"Kita langsung makan saja yah nak. Kalian pasti lapar."
Mereka berjalan ke ruang makan, makan malam ini sungguh nikmat jika bersama dengan keluarga.
"Bun, bang Tamar mana?"
Jaya hanya menjadi penyimak. Tak tahu harus melakukan apa. Untuk pertama kalinya dia makan dengan status yang sudah berubah. Padahal dulu dia sudah biasa menumpang makan.
"Katanya nanti dia nyusul."
Nazeera mengangguk, "Terus, keadaan kakak ipar bagaimana?"
Merasa suasana tercipta akan berbeda, Mise bedehem.
"Ehem... Jangan biasakan makan sambil bercerita. Nikmatiah makan malam mu, setelah itu istrahat."
__ADS_1
Nazeera takut sang ayah marah. Dia malu terhadap Jaya, walau sebenarnya teguran itu sudah biasa terjadi.
Jaya hanya mengulas senyum. Nazeera dengan cekatan melayani sang suami. Inilah pelayanan pertama ia lakukan di rumah ini setelah statusnya berubah, Istri Jaya Alfredo.