
"Bagaimana keadaannya dokter?" Alber menatap sang dokter, tatkala melihat dokter itu selesai memeriksa.
huft
"Apa yang melanda dirinya? Sepertinya dia stres berat. Jika dia tidak melawan dan tetap larut dalam pikirannya, maka dia akan sedikit gila. Sepertinya dia membutuhkan dokter psikiater."
Alber menganggu. "Baiklah."
"Untuk saat ini, saya hanya bisa memberikan ini." Dokter itu mengeluarkan resep.
Alber hanya mengangguk. Dokter itu keluar tanpa menoleh lagi.
"Tuan." Alber memasukkan kedua tangannya di saku. "Aku turut berduka atas kehilangan calon anak anda." Alber sedikit membungkuk dan menempatkan lengan kanannya di dada.
***
"Lepaskan!" Nazeera menghentakkan tangannya tatkala Akhyar membuka pintu untuk Nazeera.
"Kau ini gila, Mas. Apa yang kau lakukan?" Teriak Nazeera marah. Dia sangat malu terhadap pandangan orang-orang di sekitarnya.
Nazeera tidak mau di cup sebagai pelakor. Padahal yang sebenarnya adalah Akhyar yang mengejar Nazeera.
"AKU MENCINTAIMU NAZEERA." Satu kalimat lolos di bibir Akhyar.
Nazeera membeku. Kemudian kembali menatap Akhyar dengan berani. "Tatap mataku." Menunjuk ke arah matanya. "Apakah aku masih mencintaimu? Hah?" Nazeera memajukan dirinya.
"Katakan!"
Deg
Seumur hidup Akhyar, ini baru pertama kalinya melihat Nazeera membentak dirinya.
"Bahagiakanlah diri mu Mas. Lupakan aku. Karena aku sudah melupakan mu. Itu yang kau inginkan." Setelah berbicara lantang, Nazeera memutar badannya ke belakang menuju parkiran mobilnya berada.
Aku sangat mencintai suami ku, meskipun dia sudah tiada. Tapi hati selalu berkata bahwa Al itu adalah Jaya.
__ADS_1
Nazeera membatin hingga menuju mobilnya.
*Prak
2 itu membanting pintu sebagai pelampiasan*
"Astagfirullah... Ya Tuhan. Jauhkanlah diriku dari fitnah di akhir zaman ini. Aku ingin semuanya berakhir."
***
"Mitha... Alhamdulillah. Kamu sudah sadar nak." Raha meneteskan air matanya haru. Dia tidak kuat untuk memberitahukan ke Mitha yang sebenarnya.
Hikz hikz hikz
"Yang sabar yah nak."
Mitha tertegun. Dia memegang perutnya, ada sedikit perubahan. "Aaauuu." Ringisnya."
"Nak, hati-hati sayang." Perhatian Raha ke Mitha sama seperti Tamar dan juga Nazeera.
"Tamar ada kok, nak. Tapi dia masih di luar." Gugup Raha.
Hikz hikz hikz
Sakit hati karena kehilangan anak dan tidak ada suami di sampingnya. Apakah Tamar benar-benar tak bahagia saat bersamanya? Sangat berbeda saat bersama Ayu dulu, namun saat bersama ku, dia sangat kaku. Apakah benar dia masih mencintai Ayu? Apakah pernikahan ku benar-benar akan tamat saat 6 bulan sesuai kontrak?
hikz hikz hikz
Mitha meraung, rasanya dia tak kuat untuk menjalani takdir ini. Padahal, kemarin-kemarin dia sangat pasrah terhadap takdir yang Tuhan berikan.
"Nak." Raha ingin memeluk Mitha, namun wanita itu malah membelakangi sang mertua.
hikz hikz hikz
Pikiran Mitha berkecabang. Raha memaklumi sifat Mitha saat ini. Dia ikut meneteskan air mata. Dia keluar mengambil ponselnya.
__ADS_1
"Nak... Maafin mama yah, tdk bisa nolongin kamu." Gumam Mitha.
Dia menghindar saat Raha ingin memeluk dirinya, karena dia tahu bahwa dia hanya orang asing dan akan kembali asing setelah perceraian. Dia takut tak akan kuat untuk kehilangan orang tua lagi. Saat bersama Raha, Mitha benar-benar merasakan kasih sayang dari orang tua.
hikz hikz hikz
***
dering telepon menggema di dalam ruangan. Alber menoleh ke asal suara. Ternyata nyonya besar sedang menelepon. Dia sedikit melirik ke arah sang tuan, ternyata dia masih tidur. Apakah dia harus memberitahu sang nyonya?
huft
Sudah berulang kali deringan telepon itu berbunyi. Namun saat ini, Alber sudah tidak kuat lagi untuk mengabaikannya.
"Halo nyonya..."
"Tamar dimana sekarang? Apakah pekerjaan lebih penting daripada keluarga? Hah?!" Pekik Raha memegang dadanya. Sepertinya sakit yang ia rasakan kembali lagi karena terlalu stres.
"Tuan la_" Tiba-tiba panggilan itu terputus. "Halo nyonya." Alber melirik ponsel tuannya, ternyata panggilannya sudah mati.
brak
Tiba-tiba seseorang membuka pintu kasar di ruang depan. Alber keluar dari kamar pribadi Tamar. Dia penasaran siapa yang berani membuka pintu kasar di ruang bosnya.
"Hey bren*sek." Orang itu berteriak kasar. "Kemana loe, hah?" Raung orang itu.
Bersambung...
Terimakasih yang udah setia terhadap DN.❤️🤗
Semoga kalian baik-baik aja yah. Maafkan dunia halu green jika ada yang tdk mengenakkan.
terimakasih yang sdh memberikan like dan komennya. tahukah kalian bahwa green syg kalian? banyak yg baca tetapi mereka kikir akan jempolnya, apalagi komennya. itu sih yang buat green kurang bersemangat up. tapi aku hargai kalian buat penantiannya. smg yg jomblo segera dipertemukan jodohnya, dan yang berkeluarga diberikan keluarga sakinah mawadah warohmah. aamiiiiiinnnn.
salam dari green. Love u.
__ADS_1
#Igeh: greenteach21