Ditinggal Nikah

Ditinggal Nikah
Tank Jaya


__ADS_3

Nazeera terbangun lalu melirik pada jam dinding. Badannya terasa berat, terutama di bagian perut. Wanita itu menghembuskan nafasnya kasar.


"Jay? Bangun. Berat nih." Ucap Nazeera membangunkan Jaya.


Jaya hanya menggeliat tanpa memperdulikan omelan dari wanita yang berada di sampingnya.


"Tidur seperti kebo. Jay bangun." Ucap Nazeera dengan suara kesal.


Nazeera berusaha mengangkat tangan Jaya, lalu menggigitnya.


"Aaaarrggggg. Aduh-aduh." Keluh Jaya.


Nazeera melihat Jaya sudah duduk. Dia mendorong tubuh lelaki itu hingga jatuh ke lantai.


Jaya sudah mendapatkan kesadarannya kembali saat terjatuh.


"Makanya kalau dibangunin yah bangun. Jangan tidur. Ini sudah subuh loh." Ucap Nazeera menuju kamar mandi dengan membawa botol infus.


Jaya berdiri dan kembali tidur di tempat tidur pasien. Salah satu tangannya di dahi sambil tersenyum.


"Jay, kenapa sih senyum-senyum? Sudah buruan bangun. Sudah hampir lewat subuh nih." Ucap Nazeera saat keluar dari kamar mandi.


"Siap nona." Ucap Jaya bangun dari tidur dan memberi hormat lalu menuju kamar mandi.


'Berasa seperti ada yang aneh'. Batin Nazeera.


Jaya memberikan mukenah yang dipinjam semalam pada Nazeera. Mereka sholat berjama'ah. Setelah selesai, Nazeera melihat jam dinding tidak bergerak dan ternyata baterainnya habis. Wanita itu kembali melihat jam di handphonennya. Dia kaget saat melihat jam 02:59.


Nazeera melirik ke arah Jaya yang duduk di sofa sambil cengengesan. "Hehehe. Maap babang Jay. khilap." Ucap Nazeera mengangkat tangannya dan membentuk 'V'.


Jaya hanya melihatnya sekilas, "Gak apa-apa, lain kali jangan main jatuhin orang segala. sakit tau." Ucap Jaya.


"Kalau ngak apa-apa, ngak usah mengeluh juga kan?" Ucap Nazeera sembari tertawa.


"Kamu...." Geram Jaya.


***

__ADS_1


Saat ini Nazeera sudah berada di rumahnya. Seorang wanita tua sedang menyambut kedatangan mereka.


"Bagaimana keadaanmu nona?"


"Aku baik-baik aja sekarang Onni. Ngak usah khawatir yah?" Ucap Nazeera berada di pelukan wanita tua itu.


Onni sangat menyayangi Nazeera. Sudah lama dia bekerja di rumahnya. Dia merawatnya dengan penuh kasih dan sayang. Bagi Nazeera, Onni sudah menganggapnya sebagai orang tuanya.


"Aku kedalam dulu yah Onni." Pamitnya. Setelah beberapa langkah, Nazeera memutar badannya menghadap Jaya.


"Oh iya Jay, kamu sarapan aja dulu sebelum pulang." Ucap Nazeera pada Jaya.


"Tawaran yang bagus. Yasudah kalau begitu aku sarapan dulu sebelum pulang. Mumpung lagi gratis." Ucap Jaya sambil tertawa.


"Yang bilang gratis siapa? Jangan SMP yah, Sudah Makan Pulang." Ucap Nazeera.


"Emang ini warung? Yang bayar itu mesti di warung aja kali, Zee." Bantah Jaya.


"Pokoknya sudah makan bayar, bayarnya pakai tenaga aja. Bersihin piring kotornya setelah makan."


"Dimana-mana bayar pakai uang, kalau pakai tenaga, berarti kerja namanya. Terus yang kerja mesti di gaji."


"Iya-iya-iya Nyonya, siap laksanakan." Ucap Jaya tertawa.


Mereka menuju meja makan. Nazeera ingin istrahat, tetapi masih ada Jaya. Oleh karena itu, dia menemaninya saat ini. Onni sudah menyiapkan sarapan untuk mereka.


Di saat makan, tidak ada yang memulai percakapan. Keheningan tercipta diantara mereka. Onni yang biasanya menemani Nazeera makan kini tidak ikut bersamanya.


"Jay. Ngak usah lanjutin yah rencana kemarin." Ucap Nazeera setelah makan.


Jaya melirik ke arah Nazeera lalu tersenyum. Lelaki itu mengambil tisu, "Ngak, hari ini tidak terhitung yah? Kamu istirahat aja."


"Boleh lah, boleh lah Jay." Nazeera memohon.


Ucapannya tidak di gubris oleh Jaya. Lelaki itu hanya berdiri lalu berjalan menuju ruang tamu.


"Jay? Jangan SMP." Teriak Nazeera

__ADS_1


"Nego-lah Neng. Aku kekenyangan ini."


"Nego boleh, tapi aku juga ingin nego."


"Kamu mau nego apa emang?" Ucap Jaya menguap.


"Batalin janji sepekan." Ucap Nazeera dengan kedua tangannya di depan dada.


"Iya-iya Nyonya. Aku akan membersihkan meja maka." Ucap Jaya seraya berdiri menuju meja makan. Dia tidak ingin kesempatan untuk sepekan akan berakhir jika Nazeera ingin membatalkan rencanannya.


Di dapur, Jaya mengomel dan berbicara sendiri. Mungkin dia sedang memberikan sumpah serampah pada Nazeera.


"YaaAllah, yaa Gusti, gini amat hidup gue ngejar princes." Ucap Jaya pelan.


Dia membersihkan meja. Setelah selesai dia menuju wastafel untuk mencuci piring. "Beginilah hidupku, oooo beginilah hidup ku." Senandung Jaya sambil mencuci.


Nazeera yang sedari tadi memperhatikan Jaya, ikut tertawa dan menggeleng kepala melihat tingkahnya.


Lelaki tadi yang tengah fokus pada profesinya, berbalik ke sumber suara. Dia memberikan senyum dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Sepertinya aku harus buka warung nih, seperti warung Tank Sarang. Lumayan sudah ada tukang cuci piringnya." Ucap Nazeera ditengah tawanya.


"Puasin aja neng. Puas." Ucap Jaya sembari mengeringkan tangannya dengan handuk kecil setelah selesai mencuci.


"Iya, cocoknya diberi nama apa yah." Ucap Nazeera berfikir. "Gimana kalau Tank Jaya." Sambungnya sambil tertawa keras. Membuat Jaya gemes melihatnya.


Bersambung...


.


.


.


Halo pembaca Ditinggal Nikah.


Jangan lupa dukung author yah.πŸ˜ŠπŸ˜‚

__ADS_1


Tetap setia aja, walau Sakit tak berdarahπŸ˜‚πŸ˜‚


__ADS_2