
"Hal apa yang membuat mu kembali sayang?" Suara gurauan seorang laki-laki.
"Abang gak senang yah kalau Zee ada di sini?" Tanya Nazeera manyun.
Wajah itu yang Tamar rindukan. Sudah dua kali sang adik merasakan ditinggal. Tak ingin melihatnya terpuruk, dia menghubungi sahabatnya, Jaya. Agar kembali menghiburnya. Namun takdir berkata lain, kematian lebih awal padanya.
Hari ini, berkat kegigihan Nazeera dan penuh drama, akhirnya berhasil kembali ke tanah air, kampung halaman tercinta. Tamar datang menjemput dirinya di bandara.
Melihat wajah adik manyun, tak bisa untuk tidak menahan tawa. "Hahaha, abang lebih senang kalau kau serahkan kekuasaan mu pada abang." Canda pria itu.
Nazeera melepaskan rangkulannya di tangan Tamar, "Aaaawww." Keluh Tamar merasakan sakit di perut.
"Rasain." Memperlihatkan kukunya yang tajam. "Bang, Zee ke toilet dulu yah?" ujarnya berlari saat tak tahan akan paggilan alam.
"Hati-hati janda miliader, nanti kamu lecet." Balas Tamar teriak.
"Hahahaha." Tamar menertawai dirinya sendiri. Memberikan julukan seperti itu pada sang adik sepertinya tidak buruk.
Setelah dirasa cukup, Nazeera membersihkan dirinya. Samar-samar dari dalam mendengar suara seorang wanita sedang teleponan.
"Itu... Sepertinya kenal siapa yang punya suara." Gumamnya berpikir.
"Iya... Sebentar yah. Aku juga baru pulang." Wanita itu tersenyum.
"Bulan madu lah, kan pengantin baru."
Ceklek
Nazeera mengintip sedikit dari arah pintu untuk memastikan batinnya, "Maya..." Ucapnya spontan memegang dadanya.
Kreek
Nazeera menutup kembali pintunya. Tapi masih menyimak obrolan diluar sana.
Aku pengantin baru, tapi... Si brengsek itu malah meninggalkan ku. Aku merindukan mu Jay.
__ADS_1
"Hahaha, kamu bisa aja. Tapi, terimakasih yah selalu mendukung ku."
"Iya, aku sangat merindukan mas Juan. Kuharap dia mau memaafkan diri ku di sana." Sesal Maya mengingat kenangan.
Terjeda beberapa menit, "Malam pertama cukup mengesankan, tapi lebih mengesankan saat bersama mu." Lanjutnya bercanda. "Hahaha, oia, sudah dulu yah. Nanti Mas Akhyar curiga jika aku kelamaan dalam toilet. Bye." Maya buru-buru merapikan dirinya. Sebelum keluar, Nazeera masih mendengar hembisan nafas suara berat Maya.
"Ada apa dengan Maya? Kenapa dia berbicara seperti itu?"
Haahh
Hembusan nafas pelan.
"Aku jadi teringat dengan Mba Lanri Lunch. Tujuan ku ke sini hanya untuk itu. Argh."
Nazeera frustasi dengan keadaan. "Aku lebih suka menangani pekerjaan ku di butik daripada harus menjalani kisah seperti ini."
Wanita itu keluar menuju cermin memperbaiki kerudungnya, agar lebih rapi. "Jay, aku mencintai mu. Mungkin sangat mencintai mu. Sakit ku terhadap Akhyar kau datang mengubah rasa sakit itu menjadi damai, rasa cinta itu ada pada diri mu, tapi kau juga meninggalkan ku. Aku pengantin mu. Aku ada di sini." Sesegukan menatap nanar dirinya di depan cermin berukuran besar.
***
"Bocah itu kenapa lama sekali?" Gerutu Tamar bosan menunggu. "Bertapa gak hari senin juga, tungguin jum'at keliwon di bulan purnama. Maka hasilnya akan bagus untuk awet muda." Cerocor Tamar menuju toilet.
Sebelum mengetuk, "Bocil? Kamu masih di dalam yah?" Tak ada sahutan, yang ada hanya tatapan sinis dari wanita yang baru saja keluar. "Mana dengar dia kalau aku cuman di sini?"
Pada akhirnya tamar menerobos toilet wanita.
"Abang..."
Aaaaaaaaa
Jerit beberapa wanita, mereka bersembunyi di beberapa ruangan agar tak terlihat.
"Dasar psikopat!" Umpat salah satu wanita. Karena, dia sedang memperbaiki pengait b*a nya. Hingga cara lain adalah mengangkat gaun selututnya itu.
Mata Tamar melotot. Sedangkan Nazeera, buru-buru memperbaiki make up nya, terus menyusul tamar.
__ADS_1
"Dasar adik gak ada akhlak!" Umpat Tamar merasa jantungnya akan copot.
"Abang yang gak ada akhlak!" Umpat Nazeera balik tak terima.
"Kamu yang gak ada akhlak." Tunjuk Tamar kasar. Image nya hari ini hancur gegara satu wanita.
"Sudahlah, ayo kita pulang. Seharusnya kamu bersyukur bang dapat tontonan gratis." Menepuk pelan pundak sang abang.
Tamar masih kesulitan bernafas, emosi, rasa jengah menjafi satu. Tatapan tajam dia lontarkan pada sang adik agar mengerti betapa malu dirinya. "Abang tenang saja, mereka gak kenal siapa kamu." Bisik Nazeera diiringi tawa.
Mampus lu bang. Makanya, lain kali hati-hati berkunjung ke tempat keramat. Emang dasar kamu bang psikopat tak bermodal.
Umpat Nazeera cengir.
Bersambung...
.
.
.
Jika merasa telah lupa atas kisah ini, boleh baca ulang lagi yah.
Oia, aku juga lupa-lupa ingat, otor juga sdh baca ulang, tapi hanya scroll aja. Jika merasa jalan ceritanya kurang nyambung boleh saran yah, otor kan hnya manusia biasa.
Boleh kritikan saran yah, tapi jangan menghujat. Gak baik bagi kesehatan. wkwkwkw.
Salam hari senin. Boleh donk untuk Vote senin nya. Like juga yah dan komen.
Aku Padamu... 💕💕
ini juga tak kalah serunya loh.. silahkan mampir yah...
__ADS_1
IG: Greenteach21
Silahkan follow untuk mengetahui kegiatan otor... wkwkwk