Ditinggal Nikah

Ditinggal Nikah
Ide Konyol


__ADS_3

Halo Assalamu'alaikum Pembaca setia Ditinggal Nikah. Apapun masalahmu. Jangan lupa senyum.☺😊😊


Selamat membaca..................................


Setiap orang mengejar kebahagiaan, tapi sedikit yang tahu dari mana kebahagiaan itu berasal. Mencari kebahagiaan bisa terlihat rumit dilihat dari rintangan hidup yang ada. Namun, kebahagiaan benar-benar bukan tujuan, ia merupakan perjalanan yang kamu alami setiap hari.Β 


.


.


.


***


"Ohh jadi ini. Kok berasa beda yah." Ucap laki-laki itu.


"Akh, perasaan loe aja abang selalu salah." Ucap Mita.


"Oh iya Bang, kenalin ni Nazeera biasa disapa Zee dan Nazeera biasa disapa Zee, kenalin ni abang gue duren, duda keren. Hahaha" Sambungnya memperkenalkan.


Ternyata duren to. Duren kek gini aja di pelihara, di buang ke laut aja. Batin Nazeera kesal. Mungkin pertemuan pertamanya yang tidak berkesan.


"Salaman donk." Tutur Mita mengambil tangan kanan Nazeera dan Abangnya.


"Nazeera."


"Miko."


Setelah selesai menyebutkan nama masing-masing. Ibu jari Miko mengelus tangan Nazeera.


Nazeera merasakan punggung tangannya di elus membuatnya merinding, dengan cepat dia menarik tangannya.


"Abang apa-apaan sih." Protes Mita memukul pelan lengan Miko.


"Liat mengkilap aja udah kesangkut." Sambungnya terkekeh.


"Maaf yah Zee, Abang gue emang kek gitu." Ucap Mita.


"Iya. Lain kali jangan gitu yah Miko." Ucanya terus terang.


Miko hanya membalasnya dengan anggukan. Dia tersenyum menghadap ke Nazeera.


Nazeera yang mudah berbaur dengan siapa saja, membuatnya cepat akrab dengan Mita.


Mendung yang belum tentu hujan membuat mereka merasa betah duduk di bukit.


Selama Nazeera bercanda ria dengan Mita. Miko hanya asyik menikmati dunianya sendiri dengan tidur. Tak terasa waktu terus berputar, hingga membuat mereka memilih untuk makan terlebih dahulu sebelum pulang ke tempat masing-masing.


Mereka makan di dekat bukit. Disana hanya ada warung makan. "Mit, thanks yah loe udah buat gue lebih tenang dan senang." Ucap Nazeera sebelum memakan makanannya.


"Iya. Ngak apa-apa lagi. Gue seneng kok bantu loe." Ucap Mita


Miko hanya fokus menyantap makanannya. Tidak peduli dengan keduanya. "Hari ini biar gue yang traktir yah?" Ucap Nazeera membuat Miko milirik ke arah Nazeera. "Gue serius." Sambungnya.


"Yakin. Loe Ngak akan nyesal kan?" Tanya Miko dan anggukan ole Nazeera.


Miko dan Mita sangat senang mendengar ucapan Nazeera, "Mba?" Miko memanggil pelayan.


Seorang pelayan wanita datang mengahampiri meja mereka. "Mba, gue pesen semua menu makananya. Masing-masing satu porsi aja." Ucap Miko.


Nazeera tersedak mendengar perkataan Miko. Masa iya bisa ngabisin semua menu di sini, begitu pikirnya.


Mita berada di dekat Nazeera, dia memberikan air minum miliknya lalu menwpuk pundak wanita yang ada di dekatnya. "Makan itu ngak usah tahan nafas juga." Cerocos Mita.


"Abang, masa cuman seporsi doang. Buat gue ngak. Kan lumayan makan gratis." Sambung Mita.


Hahh? Ini perutnya tampungannya apaan? Kok bisa makan sebanyak gitu.

__ADS_1


Batin Nazeera heran melirik secara bergantian.


"Hahaha. Loe ngapa pasang muka gitu?" Ucap Miko tertawa.


"Ng-Ngak. Ngak apa-apa kok." Ucap Nazera terbata.


Mereka mengalihkan pandangannya ke arah pelayan saat menanyakan kembali tentang pesanannya.


"Yasudah. Dua porsi tiap menu." Ucap Miko.


Pelayan itu pergi setelah pesanannya sudah jelas.


"Kalian yakin mau makan sebanyak itu?" Tanya Nazeera dan diangguki oleh mereka. "OMG." Sambungnya menutup mulutnya.


"Hahaha. Uang rumah sakit ngak gue tanggung yah." Candanya dengan tertawa.


"Loe berharap gue sakit?" Ucap Miko melempar tisu bekasnya ke arah Nazeera.


"Ngak. Kan gue bilang uang rumah sakit. Bukan ngarep loe sakit. Iya ngak Mit." Bantah Nazeera mengedipkan mata ke arah Mita.


Miko menghembuskan nafas kasarnya. Cewek-cewek emang sama saja, selalu benar. Batin Miko.


Miko tidak lagi memperdulikan apa yang dilakukan maupun yang dibicarakan oleh Nazeera dan Mita. Dia hanya fokus pada makanan yang ada di hadapannya. Tak lama kemudian pesanan mereka datang.


Untung menunya di warung ini cuman sepuluh. Kalau lebih, gimana yah nasib perutnya. Itu aja udah setengah hidup. Batin Nazeera.


"Apa loe ngeliatin gue?" Ucap Miko karena merasa Nazeera memperhatikannya.


"Gue cuman mau liat nasib perut loe setelah makan ini semua." Ucap Nazeera tertawa.


"Jangan tertawa mulu, ntar ada kuntilanak lagi di siang mendung ini." Ucap Miko. Setelah itu, dia kembali fokus pada makanannya.


"Kuntilanak bukannya ada di malam hari yah?" Tanya Nazeera memastikan.


"Loe itu bangun dari mimpi loe, sekarang udah 2020. Versi jaman dulu noh beda ame sekarang. Kalau mau nanya versi sekarang bagaimana, loe coba ngambil cermin, kuntilanak ada di sana. Udah ahh, gue udah ngiler ame makanan di depan gue. Jangan ganggu konsentrasi makan gue." Ucap Miko panjang kali lebar.


Perkataannya tidak digubris oleh Miko. Wanita itu melirik ke arah Mita yang makan dengan sangat lahap, dia kembali melirik ke arah Miko, ternyata sama.


Mereka yang makan gue yang pengen muntah. Batin Nazeera menutup mulutnya karena melihat mereka mengambil bakso, gado2, dan yang lainnya pakai tangan hingga tangan mereka belepotan.


Yaa Allah, kakak beradik kasihan amat nasibnya. Makannya berantakan banget. Belum lagi ingusnya naik turun gegara kepedisan, bagaikan anak kecil tak di urus oleh Induknya. Ngak tahan banget. Batin Nazeera.


Nazeera izin keluar menghirup udara segar di depan warung. Sebelum dia keluar, wanita itu membayar tagihan makanannya dikasir, termasuk makanan yang dimakan oleh Miko dan Mita. Wanita itu melirik ke arah Mika dan Miko yang sangat fokus makan. Dia membisikkan sesuatu di telinga kasir, kasir itu tampak tersenyum mengangguk dan mengangkat kedua jempolnya.


Nazeera sudah berada di luar warung, dia duduk di dekat pohon. Wanita itu memeriksa dan mengambil gadgetnya, lalu menaktifkannya. Sebelum berangkat ke butik, Nazeera menonaktifkan handphonenya.


Saat menyala, sudah ribuan pesan maupun panggilan dari Jaya yang masuk. Omg aku lupa. Batin Nazeera panik.


Dia langsung menuju parkiran dan menyalakan motor miliknya menuju butik. Di dalam warung, Mita maupun Miko sudah selesai makan. Mereka tersenyum puas memegang perutnya dan memandang piring-piring kosong yang di depannya.


Setelah beberapa menit setelah makan, mereka berjalan keluar dari warung. Saat tiba di pintu keluar, seseorang menahannya. "Mas, Mba makanannya belum dibayar." Ucap kasir sedikit mengeraskan suaranya.


Para pengunjung langsung fokus ke arah Mita dan Miko. Mereka langsung tersenyum canggung lalu berkata, "Tunggu yah mba, gue cari teman kami dulu." Ucap Miko


"Maaf Mas, teman Mas yang sedari tadi duduk bersama Anda sudah pulang. Sepertinya dia buru-buru." Ucap pelayan tiba-tiba saat mendengar perkataan mereka.


Mita maupun Miko langsung saling pandang, mereka sama-sama memberikan kutukan dalam batinnya untuk Nazeera.


"Gimana nih bang. Gue ngak punya duit loh." Ucap Mita berbisik.


"Ya mau gimana lagi, mau ngak gue gadaikan lo aja." Balas Miko.


Mita mencubit lengan Miko dengan keras, hingga dia mengadu kesakitan.


"Gimana, mau bayar tidak Mas?" Tanya kasir.


"Mba. Ada ngak cara lain selain membayar. Hehe, duit kami sisa ini. Hehe." Ucap Mita malu dan sedikit berbisik ke kasir, wanita itu memperlihatkan uang recehannya yang berjumlah empat puluh ribu.

__ADS_1


"Ada, Jumlah tagihan kalian per orang 175 ribu. Jika kalian ingin membayarnya kamu harus kerja di sini hingga makanan kalian lunas."


Mita dan Miko mendengar ucapan kasir, mereka menelang salivanya kasar. "Mba, boleh ngak kami ngutang dulu." Ucap Mita pelan.


"Mba, sebaiknya sebelum masuk baca di depan pintu dulu."


Mita langsung mengalihlan pandangannya ke arah pintu. Dilarang mengutang.


"Kalau kalian ngak mau bayar sebaiknya saya telepon polisi saja."


Mita langsung mencegah kasir saat memegang telepon, "Jangan mba, jangan." Ucap Mita ketakutan.


"Yasudah deh mba kami mau. Iya ngak Bang." Ucap Mita memberi kode pada Miko agar mengiyakan.


Miko sangat marah, ingin berlari tetapi percuma. "Yasudah, apa yang akan kami lakukan?"


"Kalian ikut saya ke belakang." Ucap kasir berdiri menuju tempat yang dia maksud.


Di sana terdapat beberapa tumpukan piring, "Sekarang sudah waktunya makan siang, jadi banyak piring kotor. Bekerjalah dengan baik, jangan memecahkan piringnya sebagai pelarian." Ucap kasir sedikit mengancam.


Sekarang tinggal Mita dan Miko, "Bang gimana nih. Gue kenyang banget tau ngak."


"Mau gimana lagi, gue mau gadaikan loe tapi ngak mau. Yasudah tanggung sendiri."


"Ngak sendiri bang. Kita berdua." Ucap Mita kesal.


Mereka mendengus kesal berjalan ke arah tumpukan piring.


"Nazeera. Loe jahat amat ma gue." Gumam Mita mengambil alat cuci.


Setelah beberapa lama, mereka sudah selesai, "Abang, gue kesel. Gue lelah. Gue butuh rumah sakit. Hikz hikz hikz." Ucap Mita mengeluh.


"Mba, kami sudah selesai." Ucap Mita pada kasir.


"Terimakasih yah. Ada surat untuk kalian dari Nazeera." Ucap kasir menyerahkan amplop ke Mita.


"Sebaiknya jangan buka di sini." Ucap kasir tersenyum.


Setelah menerima dan berterimakasih pada kasir, mereka keluar. Miko lebih banyak diam. Mungkin masih sangat kesal terhadap Nazeera.


Saat tiba di luar warung, Mita berteriak menyebut nama Nazeera setelah membuka amplop yang dia terima.


Didalam amplop tersebut, terdapat surat dan juga beberapa lembar uang. 'Maaf gue pulang lebih awal karena ada urusan. Gue udah nulis nomor ponsel gue, loe jangan lupa ngirim pesan yah. Gue udah bayar makanan loe. Terimakasih. Isi amplop ini adalah uang pesangon. wkwkwk. Semoga kita berjumpa di lain tempat. Jangan marah yah. Hehe.


Nazeera.' Isi surat tersebut.


Bersambung...


.


.


.


Halo pembaca setia Ditinggal Nikah, jangan lupa beri author semangat yah.


Boleh juga kritik dan sarannya. Jangan lupa bintang tojoohnya.


Natizen : jangan-jangan kamu pernah thor ngerjain orang dengan cara kek gini.


Author : Gue ngak sejahat itu kok.


Natizen : Aku ngak yakin thor.


Author : Terserah loe, yang penting gua yakin ma dukungan vote dan komen loe.


Sampai JumpaπŸ˜‚πŸ˜‚

__ADS_1


__ADS_2