
Raha yang melihat anak dan menantunya tekekeh pelan. Semoga saja restu yang dia berikan kepada orang yang tepat.
Mise seperti biasa. Kaku! Sedangkan Nazeera sangat malu atas perbuatan sang suami.
Ternyata, Mitha menyaksikan semuanya. Lagi-lagi dia merasa iri terhadap perlakuan Jaya.
"Mitha... Kamu sudah selesai, Nak?"
Mitha hanya mengangguk mengiyakan. Wanita itu kembali merasa asing, walau sebenarnya nyaman di keluarga ini. Bagaimana lagi? Mitha harus siap mental untuk berpisah dengan Tamar, termasuk keluarganya.
Nazeera menoleh ke belakang, rupanya Mitha berdiri tak jauh darinya.
"Bun... Kita berangkat sekarang! kakak ipar sudah hadir."
Raha menganggu. Nazeera menggandeng lengan kakak iparnya berjalan ke arah mobil. Wanita itu tahu bahwa kaki sang ipar sakit, makanya sang ipar melangkah sangat pelan.
Raha melihat itu ikut meneteskan air mata. Semoga saja anak-anaknya selalu bahagia jika dia telah pergi. Harapnya.
Mise mengetahui kekhawatiran sang istri. Pria itu berdiri kemudian mengulurkan tangan di hadapan istrinya.
"Jangan ersedih istriku. Semuanya akan baik-baik saja." Ujarnya tersenyum untuk memberikan sang istri semangat.
Raha mengusap air matanya, kemudian menerima uluran tangan sang suami dengan senyum yang merekah. Walau Mise sangat kaku, tapi Raha sangat mencintai suaminya.
...****************...
Disepanjang perjalanan, Mitha dan Nazeera berceloteh. Raha sesekali menanggapi celotehan anak dan menantu. Mise yang menyetir mobil diam seperti biasa.
__ADS_1
Bunda... Memangnya ayah akan buka cabang di sana yah?"
Raha menatap sang suami meminta jawaban. "Hem..." Jawab Mise begumam.
Nazeera memutar bola matanya malas. Apakah ayahnya sedang sariawan? Mengapa irit berbicara sekali?
Mitha terkekeh pelan. Meski mertua begitu, wanita itu tahu bahwa Mise sangat mencintai keluarganya. Karakter mertua laki-laki sangat pendiam.
Tibalah mereka di bandara.
"Sampai jumpa, Bunda..." Nazeera memeluk sang bunda erat. Raha menikmati pelukan anaknya yang bisa jadi ini adalah pelukan terakhirnya.
hikz hikz hikz
Mengingat bahwa kehidupan tak akan selamanya abadi. Raha menangis, tak kuasa menahan kesedihan. Bukan karena dia takut mati, melainkan takut kebahagiaan anaknya akan hilang disaat wanita di pelukannya mengetahui bahwa dia menderita penyakit.
"Bunda hanya bahagia karena suamimu sudah kembali." Jawabnya.
Mitha dan Mise saksi drama antara anak dan ibu.
"Semoga bahagia selalu yah nak. Ingat, bunda selalu sayang dan cinta kepadamu. Hari ini dan selamanya."
"Iya bundaku sayaaaaaaang..." Balas Nazeera manja. Setelah itu, dia melepaskan pelukannya.
"Mitha... Bunda pergi dulu yah."
Mitha mengangguk. Lalu memeluk sang ibu mertua yang paling baik. Meski jarang bertemu, Mitha dapat merasakan kasih sayang seorang ibu yang betul-betul tulus seperti Raha, mertuanya.
__ADS_1
"Iya bunda..." Ujarnya melepaskan pelukan. Kemudian peratiannya dialihkan ke ayah mertua.
"Ayah hati-hati." Ujar Mitha kaku.
Mise tersenyum mengusap kepala menantunya sebagai jawaban.
"Hati-hati ayah!" Nazeera mencium pipi ayahnya.
Pasangan itu telah memasuki area bandara. Itulah perpisahan mereka dan berhadap ada pertemuan berikutnya.
Raha menumpahkan air matanya sambil berjalan. Mise memeluk istrinya sambi berjalan.
"Semua akan baik-baik saja!"
Nazeera dan Mitha menatap pasangat itu. Menurut pandangan Nazeera, ayah dan sang bunda selalu tampil mesra dimanapun berada.
Mitha menatap nanar pasangan itu hingga hilang dipandangan matanya. Akankah pernikahannya berakhir indah? Tapi sepertinya itu adalah hal yang mustahil.
...****************...
**Halo readers..
jangan lupa tinggalkan jejak yah...
terimksih buat yang baca. semoga betah.
igeh : greenteach21**
__ADS_1