Ditinggal Nikah

Ditinggal Nikah
Keusilan Jaya


__ADS_3

Raha membiarkan Mitha menangis di pelukannya. Wanita itu hanya diam sambil mengusap punggung Mitha.


"Ma-maaf bunda." Cicitnya sesegukan. Mitha melepaskan pelukannya. "Mi-mitha ha-hanya... hikz... Rindu orang tua Mitha." Mitha mengusap air matanya.


"Tidak apa nak." Raha juga ikutan menangis. Dia jadi mengingat kedua anaknya. Apakah anaknya akan merindukan dirinya ketika dia telah wafat? Raha selalu memikirkan itu.


"Sini... Bunda peluk." Raha merentangkan kedua tangannya.


Mitha semakin menangis. Rasa rindu, rasa sakit, dia curahkan melalui air mata di peluhan Bunda Raha. Para pelayan yang melihat itu ikut meneteskan air mata. Para pelayan berpikir bahwa Mitha menangis karena keguguran, padahal nyatanya tidak seperti itu.


"Bunda..." Panggil suara bariton yang tak lain adalah Mise. Pria itu kembali ke dapur karena merasa Raha sangatlah lama.


Mendengar itu, kedua wanita itu melepaskan pelukannya. Kemudian mengusap air matanya.


"Hehehe... Bunda ke kamar dulu yah sayang."


Mitha mengangguk sambil tersenyum. Wanita itu melihat Mise memeluk pundak sang mertua kemudian berjalan menuju kamar. Kapan juga dia menjadi pasangan yang harmonis tanpa ada kemarahan Tamar setiap kali menatap dirinya.


Huft


Mitha menghembuskan nafas pelan. Wanita itu keluar menuju kamar. Di saat keluar dari dapur, lagi-lagi Mitha di hadapkan oleh kemesraan Jaya dan juga sang ipar.


Jaya memeluk Nazeera. Sambil bercerita, tertawa. Sekali-kali Jaya mencium pipi Nazeera mesra sambil menuruni tangga.

__ADS_1


"Sudahlah... Apa yang aku harapkan dengan pernikahan ku. Pernikahan ini hanya berlangsung 6 bulan sesuai kontrak. Artinya, sebentar lagi aku akan bercerai dengan Mas Tamar. Karena tidak ada anak yang akan membuat pernikahan ini berlangsung." Mitha berusaha menguatkan diri. Wanita itu akan mempersiapkan mental untuk perceraiannya nanti. Toh dia hanya wanita figuran saja di kehidupan Tamar.


"Kakak ipar..." Panggil Nazeera.


"Ya..." Jawab Mitha.


"Kamu tidak siap-siap? Bukannya kamu juga ingin ikut ke bandara?"


"Iya... Ini juga sudah mau ke kamar." Mitha tersenyum melanjutkan langkahnya.


...****************...


"Jay... Sudah dong ciumnya!" Nazeera menahan wajah sang suami agar berhenti menciumnya di tempat terbuka. "Malu tahu diliatin orang." Nazeera melihat para elayan yang menyembunyikan senyumnya.


"Ishh... Dibilangin juga!" Kesal Nazeera.


"Kamu sudah siap?" Tanya Raha yang menunggu di depan pintu.


Nazeera mengagguk. "Jay... Sudah dong. Kenapa kamu kekanakan sekali?" Mode kesal Nazeera naik satu oktaf. Bagaimana tidak, tangan Jaya sangat jail. Pria itu selalu ingin mencium dantangannya tak tinggal diam dan selalu ingin maju ke arah depan. Walau sang istri sudah memukul tangan sang suami yang nakal.


"Hihihi..." Jaya melepaskan pelukannya seraya cekikikan.


"Bunda... Maaf, aku tidak bisa mengantar bunda." Sesal Jaya.

__ADS_1


Raha mengangguk. "Tidak apa-apa sayang."


"Yasudah. Aku pergi lebih awal." Pamitnya kepada mertua.


Mise dan Raha mengangguk menerima jabat tangan sang menantu. "Jaga Nazeera baik-baik, Nak." Ujarnya sedikit berbisik.


Jaya tersenyum lalu mengangguk. Kemudian pria itu menghampiri istrinya. "Sayang... Aku pergi dulu." Pamit Jaya yang tiba-tiba mencium bibir istrinya dan langsung lari ke arah basemet karena takut melihat amukan Nazeera.


Nazeera melotot mendapat ciuman dadakan dari sang suami. Jika tidak ada ayah dan sang bnda, Nazeera akan menyerang Jaya dengan bibir yang tak berhenti komat kamit hingga pendengaran Jaya akan panas dengan sendirinya.


...****************...


Hai... jangan lupa meninggalkan jejak yah


buat pembaca baru.. welcome


buat pembaca setia green... Terimksih


buat pembaca goib... jangan pelit2 meninggalkan jejak


cek igeh untuk info2 lainnya


igeh: greenteach21

__ADS_1


__ADS_2