Ditinggal Nikah

Ditinggal Nikah
Berhasil


__ADS_3

Pagi telah tiba, kerinduan terhadap sosok suaminya sedikit terpenuhi saat tidur dengan memakai pakaian suami dan mendengus sebuah baju yang pernah dia pakai.


Dia turun dari tempat tidur menuju dapur. Dia memakai kemeja panjang dan celana selutut.


"Bi... Apa kesukaan dari Jaya?" Tanya Nazeera saat sambil makan.


"Maaf nyonya. Saya baru kerja di sini." Pelayan itu membungkuk sopan.


Nazeera hanya mengangguk. Keadaan hatinya lagi suntuk. Mungkin dengan keluar dengan teman-teman akan ada hiburan tersendiri untuknya. Mengurung diri bukan lah cara terbaik.


Saat Nazeera tengah selesai mandi. Rencananya dia ingin pergi, namun dia kembali mengingat sesuatu. Dia terpikir oleh seseorang yang bisa membantunya.


"Halo... Bisa kah kamu datang ke sini? Diapartrmen Jaya." Tak lama setelah berbicara ditelepon, dia kemudian mematikan panggilannya.


"Ada apa Nyonya?"


"Berhenti memanggilku nyonya! Jika kamu menyebut kata itu aku selalu ingat padanya." Lirih Nazeera.


Dedi membungkuk, "Maafkan saya, Nona."


Nazeera menganggukan. "Ikutlah." Kemudian berjalan menuju kamarnya.


Hati Dedi bertanya-tanya, kenapa janda muda ini membawanya ke kamar, apakah dia? Ohh tidak, dia kan istri dari bosnya. Dia harus melawan diri jika istri bosnya sedang....


"Apa yang kau pikirkan?" Tanya Nazeera saat berbalik.


"Tidak, Nyonya."


Nazeera langsung menatapnya tajam. "Ma-maf, maksud saya Nona."


"Baiklah, kamu ikut saya ke kamar."


Apakah nona Nazeera ingin? Aduh, gimana yah... Janda milyader, siapa juga yang mau menolak. Mungkin saja masih ori. Aduh...


Pikiran Dedi berkecamuk. Dia memegang dadanya yang tak karuan sekaligus takut dan senang.


Ceklek


"Sebenarnya apa yang kau pikirkan?" Geram Nazeera melihat tingkah Dedi."


"Ti-tidak, Nona."


"Aku heran, kenapa Jaya memilih mu jadi asisten. Kamu sungguh bodoh!" Gumamnya menatap tak nyaman Dedi.


Tentu saja karena aku sangat pandai dan dapat diandalkan, nona. Emang apa lagi.


Batin Dedi mendengar ucapan Nazeera.

__ADS_1


Dedi yang ditatap hanya menampilkan ekspresi datar. Takut nona nya salah menduga.


Aku harus bisa membuat nona tersadar kalau cara ini salah.


Seketika ingin berbicara, Nazeera langsung bersuara. "Masuklah ke ruang ganti."


Dedi bingung, dia masuk ke kamar ini mau ngapain. Pikirannya sedang dipenuhi hal-hal yang buruk.


"Apa yang kau pikirkan? Lakukan perintah ku sebelum aku mengusir mu."


Dedi masuk, kemudian Nazeera menutup pintunya.


Ditempat lain, sepasang mata telah memperhatikan nya di cctv. Dia menggenggam tangannya kemudian memukul meja keras.


"ALBER!!!" Teriaknya keras.


"Ada apa tuan?" Ujar yang dipanggil saat sudah membuka pintu.


"Antarkan aku ke apartemen Nazeera SEKARANG." Ucapnya di geluti emosi.


Dengan sigap, Alber sebagai asisten pria itu mengikuti perintahnya.


Brum


Suara dentuman mobil yang siap untuk melaju. Sang pemilik kekuasaan itu berulang kali berkecamuk. Di dalam hatinya sedang mengutuk. Ada apa diantara mereka. Menjadi pengawas untuk sang adik sangat membuatnya posesif.


"Maaf, Tuan. Nyonya Nazeera yang mintanya datang."


Tamar membuka pintu. Dengan tergesa, dia menuju kamar. Samar-samar terdengar di telinganya.


"Ded... Pelan-pelan. Jangan seperti itu, nanti segelnya rusak."


Pria itu mengendap-endap. Berharap mereka tertangkap basah dan tidak terdengar suara langkah kakinya. Alber berhenti di depan apartemen.


"Tenanglah, Nona. Ini tak akan rusak." Ucapnya dengan berat seperti menahan napas.


Dedi menghembuskan napas pelan. "Baiklah saya akan pelan-pelan."


"Kalau tak berhasil bagaimana? Awas, hati-hati."


Aaauuuu


Bersamaan dengan teriakan itu, pintu sudah terbuka lebar. Tamar sendiri bingung apa yang mereka lakukan.


Mata mereka langsung bertemu.


Klik

__ADS_1


Suara itu mengalihkan Nazeera dan juga Dedi.


"Dedi... Kotaknya berhasil di buka." Ucapnya kegirangan. Sesaat kemudian, Nazeera berbalik.


"Abang!! Ada apa?"


Tamar jadi kikuk, harus kah dia jujur jika pikirannya sedang tidak karuan tentang Dedi hingga dia menuju ke sini?!


(Kira-kira apa isi kotak itu yah๐Ÿ˜…๐Ÿค”๐Ÿค”๐Ÿค”)


Bersambung...


.


.


.


Halo,, mohon untuk vote like and komen.


Segini dulu yah..mohon maaf jika ada typo...


Oia,, aku punya karya di lapak baru... Di lapak Nove*me.



Nama penanya sama kok, 'Greenteach'.


Silahkan mampir yah...


Oia,,, aku beri sedikit gambaran yahh...


***


โ€œApa yang kamu lakukan? Apakah kamu masih membenciku? Aku sudah sangat merindukan mu, kenapa masih saja jutek begini?โ€ Leon bersandar di sofa kerja Shava.


โ€œKamu mau ke sini buat menganggu atau mau bertemu dengan bang Frizy? Kenapa kamu malah ke kantor?โ€ Ucap Shava dengan nada tak suka.


โ€œKamu pasti sudah tahu jika bang Firzy berada di rumah, bukan dikantor. Iya kan?โ€ Tanya Shava memicingkan matanya.


Leon hanya tersenyum sarkas. โ€œDan kamu pasti sudah tahu bahwa kedatangan ku ke sini adalah untuk menemui mu.โ€ Leon memainkan matanya.


โ€œHidup ku sudah tenang saat kau ada di luar negeri. Jangan mengacaukan hidup ku dengan kehadiranmu. Jika kamu ingin bertemu dengan bang Frizy dia ada di rumah.โ€ Usirnya.


โ€œKurasa kau tidak lupa alamat di sana. Pergilah melepas rindu dengan kekasih mu itu.โ€ Ejek Shava.


Silahkan berkunjung untuk mengetahui cerita selanjutnya ๐Ÿ˜„๐Ÿ˜…๐Ÿค—๐Ÿค—๐Ÿค—

__ADS_1


SELAMAT MENANTI...!!!


__ADS_2