
"Jay...."
hikz hikz hikz
Bibir Nazeera bergetar. Jaya kembali memeluk Nazeera erat. Inilah orang yang Jaya sayangi. Dipisahkan selama berbulan-bulan, ahhh entah apa yang dirasakan istrinya saat itu.
"Maaf..."
Nazeera semakin menenggelamkan kepalanya di dada Jaya, memeluk erat sang suami.
Jaya meluruskan kakinya. Mereka duduk di lantai menatap langit dan bintang. Angin yang berhembus membuat mengerti arti dingin.
Selama menyamar, Jaya masih menggunakan kostum sesuai yang tuan Juventus katakan.
"Kenapa?" Tanya Nazeera saat Jaya merasa gelisah.
"Sayang... Masuk yuk. Dingin." Entah mengapa, tubuh Jaya seakan tak kuat.
Nazeera mengangguk, toh mereka juga sudah lama di sini. Tak banyak mereka bicarakan selain saling pelukan. Melepaskan rindu, tapi Jaya masih saja merasakan rindu padahal sudah dia peluk.
"Jay, wajahmu pucat."
Jaya mengangguk. Inilah momen yang sia nantikan, Nazeera perhatian dengan dirinya. Cinta memang bodoh, demi cinta Jaya pergi ke negara X, dan demi cinta pula Jaya kembali ke tanah air.
Nazeera memeluk pinggang Jaya. Takut bila terjadi sesuatu terhadap suami.
"Hey, aku baik-baik saja sayang." Ujar Jaya karena jalannya merasa terganggu, tapi dia senang karena sang istri perhatian.
"Orang pucat seperti itu masih dikatakan baik-baik saja." Suara Nazeera sudah naik seoktaf.
"Hahaha." Melihat wajah Nazeera kesal, Jaya merasa di hibur. Dia menarik hidung mancung sang istri gemmmmeeessshhh.
Nazeera ikut tersenyum, setidaknya Jaya masih bisa tersenyum dikala bersamanya.
Mereka telah tiba di lift.
tring.
__ADS_1
lift tertutup. Jaya langsung memencet tombol 1.
"Kenapa di sana, kita tidak menjenguk tuan Juventus?"
Pulang!"
Hah
Jay tak tahan lagi untuk menahan diri. Dia mencium Nazeera. Ughhh rindunya.
Nazeera awalnya menolak karena ini bukan tempat yang tepat, pasti cctv mengawasi mereka. Tapi, lama kelamaan, Nazeera terbawa arus. Suara kecup mengecup, itulah mereka hingga tiba di lantai 1.
Jaya tersenyum menempelkan dahinya dengan Nazeera.
"I love you, Nazeera."
Nazeera nampak malu-malu. Pipinya memerah. Ughhh, sayang. Rasanya ingin terbang saja.
tring
lift terbuka. sebelum keluar, Jaya membersihkan sudut bibir Nazeera yang basah. Nazeera tak kuat bila melihat Jaya lama kelamaan. Kenapa bisa gerogi begini?
bodoh!
Kutuk diri Nazeera. dia menggigit bibir bawahnya, menutupi rasa malu.
"Sayang? Kamu kenapa?"
"Em-..." Nazeera bingung. Alasan apa yang harus diberikan oleh Jaya. "A-aku lapar."
kruk kruk
"Hahaha." Pecah tawa Jaya. Entah magnet apa yang membuat pria itu tertawa.
Sebelum menyalakan mobil, jaya mencium Nazeera.
"Aku mencintaimu, Zee." Jaya mencium tangan wanita itu.
__ADS_1
Nazeera nampak semakin menunduk. Aaaa... lama-lama gak betah nih. tapi sayang. Sayang tapi malu... aaaa.... Tuhan.... tolong aku.
Jaya senyum-senyum sendiri. "Baiklah tuan putri, kita makan dulu."
"Sayang..."
Panggil Jaya, karena keheningan terjadi. Sedang Nazeera asyik dengan melihat suasana di luar jendela.
Cup
Jaya mengecup lagi punggung tangan Nazeera.
"Kamu suka?"
Nazeera mengangguk.
"Suka sama aku, Zee..." Canda Jaya.
Nazeera pikir, Jaya bertanya perihal pemandangan di luar pada malam hari.
"Aaaa. Jangan gitu donk Jay. Malu nih." Rengek Nazeera menutup wajahnya.
Jaya mengernyitkan dahi. Jadi dia malu? Jaya mengingat ciuman di lift.
Oh, jadi itu yang membuat dia malu?
"Zee... Ciuman mu semakin oke. Aku suk-"
bug bug bug
Nazeera memukul lengan Jaya agar tak mengungkit hal yang tadi.
"Ihhhhh... nyebelin. Gak usah diteruskan." Rengeknya kembali.
"Hahaha... Jangan dipukul dong sayang. Ini lagi mengemudi."
bersambung....
__ADS_1
Terimakasih 🙏 untuk hal yg mnyakitkan yg kau berikan.... Gajian bulan ini gagal, Krn hrus mencapai 1,4 JT saldo... sedang di saldo masih terkumpul 100... Yasudah, otw up lagi...