
Tamar merasakan dalam tubuhnya ada yang aneh. Oh, nyatanya adik kecil Tamar terbangun lagi.
Semalam aku berusaha menahan hasrat hingga tak tidur sampai fajar, apakah sekarang aku harus menahan lagi? Oh sial.
Tamar menatap wajah Mitha.
Deg
Mata mereka bertemu. Entah dorongan apa, Tamar memajukan wajahnya. Mencium Mitha dengan sedikit kasar. Mungkin saja karena semalam ia menahan diri.
Ughhh
Mitha yang mendapat serangan dadakan hanya bisa melotot, mendorong kuat dada Tamar. Sebenarnya, Mitha sendiri senang bila melakukan hal yang lebih terhadap suaminya. Toh, selama proses penyembuhan Mitha atas insiden yang menimpanya dia sudah jatuh cinta pada suaminya sendiri. Tapi tetap saja dia melakukan perzinahan sebelum nikah.
Uwweeeekkk
Mitha mencengkram kuat dada Tamar. Awalnya dia ingin mengimbangi ciuman itu, tapi karena terkejut dia jadi ingin muntah.
Tamar yang semula menikmati ciuman rasa manis itu sekarang berubah menjadi rasa yang lain, ada rasa asem dan kecut juga. Rasanya Tamar ingin muntah saja.
Uweeekk
Mitha ingin mual tapi tertahan. Haruskah dia muntah sekarang, jika di tahan tetap saja ingin keluar.
Tamar menghentikan ciumannya, kemudian menatap raut wajah Mitha.
Uweekk
Cuzz
Langsung saja Mitha memuntahkan kembali isi perutnya setelah Tamar melepaskan ciumannya. Alhasil, muntahan itu berserakan di dada Tamar. Ada rasa kesal dan juga rasa iba dari sang suami, tapi apalah daya, orangnya keras kepala juga hingga dia tak ingin menampakkan itu pada istrinya sendiri.
Chi
__ADS_1
Tamar berdecak. Sedangkan Mitha, kembali ke dalam kamar mandi untuk menuntaskan mualnya.
Tamar membuka baju tidurnya, rasa khawatir sangatlah besar. Harus kah dia ikut ke dalam menemani sang istri?
Arrghhh
Tamar mengusap kepalanya kasar.
Tok tok tok
"Abang..." Suara cempreng Nazeera terdengar dari luar pintu kamar.
"Ya..." Tamar cepat-cepat melepaskan bajunya. Kemudian membukakan pintu untuk sang adik.
Ceklek
"Ada apa?" Ketus Tamar masih dengan muka bantal.
Mata Nazeera melotot menatap penampilan Tamar.
"Gak ada." Kilahnya.
"Terus, sejak kapan abang memakai lipstik?" Nazeera terkekeh geli berhasil menggoda sang kakak. "Dan juga mana baju abang?"
Tamar hanya membalas dengan tatapan malas. "Katakan, ada apa?" Tanya Tamar dengan nada kesal.
"Di panggil bunda untuk makan." Nazeera mengenduskan penciumannya. "Ini bau apa, Bang?" Nazeera mendekati dada Tamar. "Ini bukan bau keringat."
"Itu muntahan Mitha!" Jawabnya. Entah dari mana, Tamar mendapatkan ide. Dia membawa wajah Tamar ke dadanya.
"Abang... Bauuuuu..." Nazeera berusaha agar lepas dari pelukan saudaranya.
***
__ADS_1
Di meja makan.
"Nak? Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Raha pada Mitha.
"Iya, Bun."
Ekhem
Mise berdehem agar tak memulai pembicaraan apapun pada saat makan. Raha menjadi kesal sendiri. Dia bermaksud memberikan perhatian pada sang menantu, tapi mendapat teguran dari sang suami.
Awas saja sebentar malam kau tidur di luar.
Raha memasang wajah tak suka, tapi yang ditatap malah cuek, karena Mise memang orang yang seperti itu.
"Bang? Kata abang akan ada kejutan, kejutannya apaan, Bang?"
Tamar menatap kedua orangtuanya yang juga sedang menatapnya.
Ada rasa bahagia dalam hati saat mendengar jika dia akan menjadi seorang ayah. Dengan penuh kekuatan, Tamar memegang tangan Mitha.
"Iya, kejutannya adalah sebentar lagi kau akan menjadi aunty." Ungkap Tamar memegang pundak Mitha.
Raha sudah mengetahui dari awal hanya memasang wajah senang, begitupun dengan Mise.
"Apa?!" Pekik Nazeera.
Bersambung...
Jan lupa jejak...
VOTE LIKE KOMEN
buatlah mood otor jd smngt, spy up nya jg rutin... 🤐 Semngt ku kendor liat rate gak bertambah pdhl pmbaca bnyk...
__ADS_1
HAPPY READING