Ditinggal Nikah

Ditinggal Nikah
Rencana


__ADS_3

Assalamu'alaikum...


Halo pembaca setia 'Ditinggal Nikah'...


SELAMAT MEMBACA....πŸ’•πŸ’•


.


.


.


***


"Yasudah, sekarang kamu jangan menangis. Kuatlah. Jangan menangis yah." Jaya menghapus air mata wanita itu.


Meraka sama-sama memasuki hotel. Wanita itu semakin tersedu-sedu.


"Jay, kmu yakin ini jalannya? Kok ke sini sih? Bukannya bunda lagi di kamar hotel? Kok ke restoran VIP sih?"


Jaya tidak menggubris ucapan Nazeera dia hanya berusaha menuntun jalan yang dimaksud oleh Tamar.


Nazeera mengingat ucapan Tamar, 'Zee, cepetan bunda lagi kritis'. Dia semakin menangis.


Saat tiba di ruangan, Nazeera menutup kedua tangannya tidak percaya apa yang telah terjadi.


"Surprise. Happy birthday." Ucap mereka bersamaan.


Nazeera kaget merasa dibodohi tetapi tetap saja khawatir dengan Raha. Perasaan yang bercampur aduk membuatnya semakin menangis. Mengapa bisa dia lupa sendiri hari kelahirannya. Wanita itu merutuki dirinya sendiri.


Tamar mengeluarkan tawanya keras melihat keadaan Nazeera. Mata sembab boleh dikata sudah bengkak, hidung memerah pakaian yang agak berantakan.


Sepertinya dia belum mandi sore dan malam. Hahahaha. Emang enak aku kerjain. Batin Tamar yang tawanya belum juga reda.


"Bundaaaaaaaaaaaaaaaaaa." Rengek Nazeera di pelukan bunda.


Hikz hikz hikz


"A-aku kira, bu-bunda beneran sa-sakit." Nazeera sesegukan.


Mendengar ucapan Nazeera, Tamar berhenti tertawa. Maafin Abang dek tidak memberitahu kamu yang sebenarnya. Ini hanyalah ajang supaya kamu menanggapi kata pelayan itu dengan serius. Batin Tamar memejamkan mata dan memegang pangkal hidungnya yang berair.


"Kamu percaya?" Tanya Raha.


Nazeera mendongak, "Bunda ini bagaimana sih, jelas aku percaya dan khawatir. Bang Tamar juga. Pantesan aja dia tidak khawatir sama sekali karena ulahnya mau ngerjain aku." Nazeera mencubit pinggang, lengan, pundaknya secara bertubi-tubi.


"Hahaha, ampun Nyonya, ampun. hahaha." Tamar tak melawan apa yang dilakukan oleh Nazeera.


Melihat kelakuan kedua anaknya yang seperti ini, dia tersenyum. Bagaimana nanti jika aku telah tiada. Tuhan angkatlah penyakit ku. Aku masih ingin bersama dua malaikat yang engkau kirimkan. Batin Raha.


"Ekheem, sudah main cubitannya?" Tanya Jaya.


Nazeera menatap Jaya dengan menyipitkan matanya, "Kamu kerjasama dengan Abang yah?" Tanya Nazeera penuh selidik.


"I-itu, Tamar yang....... Hahahah aku janji ngak akan ngilangin lagi. Hahaha ampun. Hosh hosh hosh." Jaya tidak menyelesaikan ucapannya karena Nazeera sudah menggelitik tubuhnya sampai ngos-ngosan.


"Makanya jadi orang jangan jail berlebihan." Nazeera merapatkan giginya.


"Ini semua gara-gara Lo." Ujar Jaya menunjuk Tamar.


"Tapi rencana gue berhasil kan membuat putri cengeng menjadi lebih cengeng?!" Ucap Tamar bangga.


Proookk


Nazeera memukul lengan Tamar.


"Jadi ini gimana? Lelah Ayah megang kuenya." Ucap Mise melerai mereka.

__ADS_1


"Yasudah, nohh di tiup. Gue lapar ngerjain kamu mulu ampe sekarang." Celetuk Tamar.


"Uuuuggghhh, Ayah kok ikut ngerjain Nazeera sih?" Ucap Nazeera manja.


"Hehehe. Hati-hati manjanya sayang. Bentar kuenya jatuh."


Tamar menyalakan lilinya, "Buruan tiup, lapar nih." Tamar memegang perutnya.


Mereka bernyanyi bersama. Di sana hanya ada keluarga Nazeera dan hanya Jaya. Menurut mereka Jaya sudah bukan orang asing lagi.


"Sayang. Kamu berdoa lalu tiup lilinnya."


Nazeera tersenyum bahagia. Wanita itu menutup matanya dan mengatupkan kedua tangannya, Tuhan. Takdirku adalah pilihan-Mu. Pilihan-Mu belum tentu pilihanku.


Dia kembali menangis mengingat Akhyar. Untuk sekian kalinya, Akhyar tidak dapat memberikan ucapan selamat.


Raha memegang pundak Nazeera. Wanita itu sontak kaget dan sadar akan kebahagiaan yang harus dia perjuangkan sendiri untuk saat ini.


Yaa, mereka adalah keluarga ku. Keluarga ku adalah nyawaku, hidupku. Batin Nazeera menatap satu persatu orang yang berada di ruangan itu.


"Cepatlah, Nak. Lilinya sudah mau habis."


Nazeera hanya mengangguk bahagia. Mungkin ini adalah awal di saat usianya beranjak dari 21 tahun menuju 22 tahun. Semngaaat Nazeera. Kamu pasti bisa. Pinta Nazeera pada dirinya sendiri.


suara tepukan tangan yang menggema ruangan tersebut. Jaya menyodorkan pisau pemotong kue dan juga piring kecil.


Nazeera memotong kue tersebut dengan semangat yang baru saja di mulai.


"Aaaa... Bunda makan." Nazeera menyuapi Raha agar memakan kue di tangannya. Setelah itu ke Ayahnya, dan Terakhir adalah Tamar.


"Zee, kamu kok ngak nyiapin aku?"


Nazeera memutar bola matanya malas. "Kan kamu punya tangan sendiri, Jay." Decak Nazeera.


Tamar terkekeh, dia memang pundak Jaya. "Sabar bro, usaha loe tak merubah apapun di mata Nazeera."


Raha menarik tangan Nazeera jauh dari para lelaki. "Nak, ganti baju kamu dulu. Ini bunda sudah menyiapkan baju untuk mu." Ucapnya memberikan paper bag di tangan Nazeera.


Wanita itu mengerutkan keningnya, "Loh, mesti pakai gaun ini yah, Bun? Bukannya ini hanya acara untuk kita saja?" Tanya Nazeera heran.


"Udah, ikutin aja kata bunda ini, Nak." Suruh Raha mendorong tubuh Nazeera agar pergi.


Nazeera tersenyum, dia menuju toilet untuk mengganti bajunya dengan gaun. "Bunda ini, ada-ada aja." Gumam Nazeera.


***


Susunan Rencana


"Bunda yakin mau ikut ke negara Y?" Tanya Tamar khawatir.


"Bentar lagi ulang tahun untuk Nazeera. Bunda ngak lupa kan?" Imbuh Tamar lembut.


Raha tersenyum, "Nak, bunda baik-baik saja." Ucap Raha meyakinkan Tamar.


"Kamu jangan tanya Nazeera kalau aku berobat di sana."


Tamar mengangguk, "Bunda hati-hati. Ayah jaga bunda yah jangan sampai lecet loh dibawa pulang." Canda Tamar.


Proookk


Mise memukul lengan anaknya, "Aaauuuu, Ayah hanya bercanda."


"Lagian kamu juga ngomong gitu." Mise merangkul lalu mencium kening Raha dengan sayang.


"Chii, Ayah jangan di sini mesra-mesranya. Sakit mata orang jomblo, Ayaaaahhhh."


Lagi-lagi Mise mau memukul Tamar, tetapi dia sudah mundur hingga tak mendapatkan pukulan.

__ADS_1


"Makanya cepat nikah, biar kamu punya cucu."


"Kamu itu sudah kepala dua loh, Nak. Sebentar lagi sudah kepala tiga."


"Dari sampai aku lahir hingga meninggal, kepala aku tetap satu kok Ayah. Jadi kalian tenang saja yah. Aku pasti akan menikah bila tiba waktunya."


Tamar berada di tengah-tengah orang tuanya, "Pokoknya kalian tenang nang nang nang. Oke." Tamar mencium pipi Raha dan juga Mise.


Mise hanya menggeleng mendengar penuturan anaknya. Sedangkan Raha sudah tertawa.


"Aku mau ke tempat acara dulu. Memastikan sesuatu sebelum memberi Nazeera kejutan."


***


Saat tiba di sebuah restoran, Tamar meninjau sudah sampai di mana perkembangan dekorasi acaranya. Jelang beberapa jam, Nazeera menelpon dan bertanya tentang keberadaan Raha dan Mise. Suara musik yang kebetulan di putar dengan keras membuat Nazeera berpikiran bahwa dia berada di sebuah klub.


Sang adik menyuruh Tamar agar pulang, oleh karena itu dia segera pulang.


Di perjalanan, Tamar memikirkan bagaimana caranya untuk membuat Nazeera menangis sebelum kejutannya.


Hanya butuh waktu 20 menit Tamar telah tiba di Mansion. Saat masuk, dia mendengar Nazeera berbicara dengan seseorang. Dia sangat kaget melihat keadaan Nazeera.


Tamar sangat marah, seharusnya pelayan bodoh itu tidak usah terlalu polos. Mengapa juga harus mengungkapkan kebenarannya jika memang dia tahu.


Setelah selesai di periksa oleh Jusri, Tamar mengajaknya menuju ruang kerjanya. Dengan maksud untuk melihat hasil rekap penyakit Raha. Tetapi bukannya mendapatkan hasil malah dia tambah kesal akibat ulah Jusri.


Tamar sangat bingung, *Bagaimana ini, Nazeera sudah tahu. Aku harus jawab apa. Masa iya di hari yang mestinya bahagia diberikan kejutan bahwa bunda sakit.


"Haaaaaahhhhhhh." Tamar membuang nafas panjang.


Dia mengambil ponselnya lalu menelpon orang tuanya. Tamar menceritakan bahwa Nazeera sudah tahu kalau Raha mempunyai penyakit.


"Yasudah tidak apa-apa. Bunda juga belum berangkat. Jadwal keberangkatan di undur dua jam."


"Bunda, aku tidak ingin membuat Nazeera khawatir. Cukup saat ini perasaannya terluka karena Akhyar."


"Bagini saja, bunda dan Ayah berada di hotel dekat bandara. Kamu tuntun Nazeera agar ke sana. Kamu buat dia percaya bahwa bunda sakit, tapi memang sebenarnya bunda sakit sih."


"Bunda jangan sedih donk. Yasudah, sekarang aku sudah bisa tenang. Dengan itu, bocah itu pasti mengira kalau bunda sehat dan tidak memiliki riwayat penyakit apa-apa."


"Anak bunda emang pintar. Hahaha." Puji Raha.


Setelah mendapatkan ide dari bundanya, dia menelpon Jaya untuk diajak kerjasama.


Bersambung...


.


.


.


yang udah baca ampe di bab ini mksi yeh dari author.


Moga aja nasib kalian aman damai sentosa.πŸ˜…πŸ˜…


🀧 outor lagi gabut. maap kalo ad typo.


yang baca, Jan lupa VOTE LIKE and KOMEN 'Next'.


AKU PADAMU 😌😌


owhh iya, yang mau masuk GC green, silahkan dengan password, 'Aku padamu'.


yasudah, selamat bergabung. mhon maap yeh, klo otor ada salahπŸ™


πŸ‡²πŸ‡¨πŸ‡²πŸ‡¨πŸ‡²πŸ‡¨πŸ‡²πŸ‡¨

__ADS_1


__ADS_2