Ditinggal Nikah

Ditinggal Nikah
Pertengkaran


__ADS_3

Assalamu'alaikum....


Halo pembaca setia 'Ditinggal Nikah', sehat selalu yah...


SELAMAT MEMBACA...!!!


Seperti harta karun yang belum ditemukan, kebaikan muncul dari benih yang baik dan kebijaksanaan datang dari pikiran yang suci dan damai. Untuk berjalan melewati lika-liku kehidupan manusia, seseorang memerlukan cahaya kebijaksanaan dan panduan kebaikan.


.


.


.


***


"BIBI." Teriak Tamar lantang.


Suara yang menggema di malam hari menurut para pelayan. Mereka sangat tahu bagaimana kondisi saat ini.


Pelayan yang tadi membawakan Tamar fresh care masuk ke dalam kamar Nazeera.


"Kemana dokter sialan itu?" Tanyanya berteriak di hadapan pelayan.


"Beliau lagi di jalan, Tuan." Jawabnya menunduk. Takut akan amarah tuannya.


Sudah sewaktu siang tadi tuannya marah, ditambah lagi dengan saat ini. Hal ini merupakan kesalahan terbesar yang dilakukan pelayan itu.


Tak lama kemudian bel berbunyi, "Saya akan buka pintu dulu, Tuan. Permisi." Ucap pelayan itu sedikit membungkuk.


***


"Bagaimana keadaannya?" Tanya Tamar saat dokter itu duduk di sofa.


"Dia hanya butuh istirahat. Sepertinya saat ini Nazeera hanya stres. Stres memang hal yang lumrah. Namun juga harus berhati-hati. Jika dibiarkan bisa menimbulkan berbagai gangguan kesehatan, termasuk gangguan psikosomatis." Ucap dokter itu memegang pundak Tamar.


"Gimana ceritanya dia bisa sampai begini?" Tanya dokter itu.


"Dia hanya dengar kalau bunda sakit. Gue tau saat ini perasaannya masih terpuruk tentang kepergian Akhyar, ditambah lagi dengan kabar buruk seperti ini." Tamar mengacak kepalanya frustrasi.


"Gue udah memberikan obat penenang, mungkin besok dia baru bangun."


"Hem, thanks."


Dokter itu membereskan semua alat-alatnya, "Yoi, salam buat adik loh." Dia mengedipkan matanya.


"Sialan loe. Dalam keadaan begini aja lo mau becanda."


Dokter itu terkekeh, "Ingat pesan gue, jangan stres." Ucapnya sebelum keluar dari pintu.


Tamar mengikuti langkah dokter itu dari belakang. "Ngapa Lo ikut?"


"Ikut gue ke ruang kerja!!!"


Meskipun bingung, tetapi tetap mengikutinya.


Mereka telah tiba dan duduk berhadapan di sofa.


"Jusri, gue boleh lihat hasil rekap penyakit bunda?"


"Bukan gue yang nanganin nyokap Loe, tapi dokter Ardan."


Tamar menendang meja dengan keras yang ada di dekatnya, "Loe tak guna ngikut ke gue. Sebaiknya loe keluar aja." Pekik Tamar.


Jusri adalah seorang dokter sekaligus sahabat Tamar. Sebelum hilang dari balik pintu, dia menatap Tamar.


"Loe ngak minat gue periksa kaki loe?" Ucapnya cekikikan.


***


Keesokan harinya, Nazeera sudah terbangun.


"Semalam aku mimpi atau nyata yah?" Nazeera merenggangkan otot-ototnya.


"Saat dia menurunkan kakinya, dia mengingat kejadian semalam."


"Abaaaaaaaaaang!!!"


Hikz hikz hikz


Nazeera berlari menuju kamar Tamar.


"Abang!!!" Wanita itu langsung membuka pintu kamar Tamar.


"Kenapa dek?" Tamar baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk yang dililitkan di pinggangnya.

__ADS_1


Nazeera langsung berlari memeluk kakaknya. Tidak peduli basah atau tidak.


"Abang, bunda bang!!!"


Hikz hikz hikz


"Iya, bunda kenapa?" Tanyanya pura-pura tidak tahu.


"Se-semalam bibi cerita kalau bu-bunda sakit." Nazeera sesegukan dipelukan kakaknya.


Tamar membalas pelukan adiknya. "Aku mencium bau asem." Tamar mengalihkan pembicaraan.


"Iihh, Abang ini. Mentang-mentang udah mandi." Nazeera mencubit pinggang Tamar.


Nazeera menghapus air matanya.


"Hahaha, lagian kamu juga dapat dongeng dari mana pagi-pagi begini."


Nazeera keluar dari kamar kakaknya dengan wajah yang manyun. "Aku mau ikut bunda ke negara Y. Titik!!!" Nazeera melangkah dengan menghentakkan kaki keras.


"Telepon bunda sebelum ke sana!" Teriak Tamar saat Nazeera menjauh.


Aduhhh gimana nih, bunda maafin Abang.


Tamar mengambil handphonenya lalu menghubungi seseorang.


***


Siang harinya, Tamar menuju kamar Nazeera, "Dek, kamu mau kemana bawa koper?"


"Aku mau ikut bunda." Ketus Nazeera.


"Beneran kamu mau ke sana?"


"Aku bo'ong tapi bener. Abang itu gimana sih, nanya aja padahal udah liat secara langsung juga." Kesal Nazeera.


"Hufffftttt. Ngak usah ke sana." Larang Tamar.


Tetapi Nazeera masih saja ngotot mengikuti perasaannya.


"NAZEERA. Abang bilang stop." Teriak Tamar saat Nazeera berada di tangga.


Nazeera berhenti, memutar badannya menghap Tamar.


"Abang itu gimana? Bunda sakit tapi tidak ada perhatiannya sama sekali, aku benci Abang." Nazeera memukul dada Tamar keras. Tetapi yang di pukul masih tak bergeming. Membiarkan Nazeera meluapkan kekesalannya.


Tamar menampar pipi Nazeera, "Aku benar kan? Abang mau tampar, tampar aku bang. TAMPAR!!!" Nazeera berteriak kesetanan.


Saat selesai menampar, Tamar menyesali dirinya. Mengapa dia harus terbawa emosi juga saat adiknya butuh ketenangan.


Dia mengacak kepalanya frustrasi, "Arghhhhhh. Masuk kamar sekarang!!!" Titahnya menunjuk kamar Nazeera.


Nazeera berdecak, sebenarnya ingin melawan, tetapi takut untuk amarah Tamar.


Nazeera menangis memegang pipinya, dia berlari menuju kamarnya dan menutup pintu keras.


(Aduhhh, mesti di selesaiin nih dengan kepala ademπŸ˜£πŸ˜£πŸ˜‘πŸ˜‘)


Saat Nazeera pergi, Tamar duduk di sisi tangga. Dia mengutuk dirinya sendiri karena telah menampar adik satu-satunya.


Setelah beberapa menit merenung, dia menuju dapur untuk mengambil air minum. Lalu membawanya ke kamar Nazeera.


Ceklek


Pintu kamar terbuka, terlihat Nazeera masih menangis di atas tempat tidur memeluk kedua lututnya.


"Dek, maafin Abang. Abang khilaf." Nazeera mengalihkan pandangannya.


"Yasudah, minum dulu." Nazeera menerima air tersebut karena merasa haus.


"Kamu sudah makan?"


Nazeera masih mengalihkan pandangannya, tetapi pada saat Tamar bertanya dia menggeleng sebagai jawaban.


Tamar menuju dapur untuk mengambilkan Nazeera makanan. "Makan dulu. Sini Abang suap." Menyodorkan sesendok nasi di hadapannya.


Setelah selesai makan, Tamar membuka obrolannya, "Kamu mending di sini saja, biar Abang yang susul bunda ke sana. Aku sangat khawatir terhadap dirimu. Ku mohon dengarlah Abang kali ini aja, yah." Mohon Tamar lembut.


"Kalau abang sudah sampai, nanti Abang nelfon yah." Tamar tersenyum pada adiknya.


***


Malam harinya, Nazeera tampak uring-uringan menunggu kabar. Tetapi Tamar masih belum menelfon juga.


"Aduhhh, ini si Abang gimana sih. Katanya mau memberikan informasi tapi nyatanya sampai sekarang juga belum ada."

__ADS_1


Wanita itu tampak masih tak tenang sebelum mendapatkan informasi.


"Halo, Jay kamu dimana sekarang?"


"..."


"Yasudah, kamu ke rumah sekarang. Anterin aku ke bandara. Aku mau susul bunda di sana. Aku sangat khawatir."


"..."


"Di mansion. Cepetan!"


"..."


"Aku ngak peduli jam 11 malam atau jam 12 malam aku ngak peduli."


"..."


"Aku ngak mau tau, Jay. Pokoknya kamu harus punya tiketnya. Gunakan kekuasaan mu sekarang!!! Hikz hikz hikz." Nazeera berteriak.


Wanita itu mematikan panggilannya. Dia menghubungi Tamar, tetapi masih di luar jangkauan.


Menghubungi Ayah dan bundanya, tetapi hasilnya masih nihil.


"Arrrgggggg. Ini gara-gara Abang ngak ngizinin aku ikut."


Jam 11:30 barulah ada kabar dari Tamar, bahwa sekarang dia berada di hotel.


"Loh, ngapa Abang di hotel? Bukannya bunda lagi sakit. Kenapa Abang ngak bawa bunda ke rumah sakit?" Tanya Nazeera panjang lebar.


"Aduhhh, kamu jadi cewek cerewet banget. Udah buruan ke sini. Keadaan bunda lagi kritis."


Kebetulan saat itu, Jaya baru saja tiba untuk menjemput Nazeera.


"Zee, kamu kenapa?" Tanya Jaya saat Nazeera terduduk di lantai.


Jaya mengambil ponsel di tangan Nazeera, "Halo."


"..."


"APA?"


"..."


"Yasudah, gue ke sana sekarang."


Bersambung...


.


.


.


Geeesss.. gue balik ada yang rindu kah?


πŸ€£πŸ˜…πŸ˜…


Hari ini perasaan otor lagi aman damai sentosa. Adil makmurnya blom lah. Soalnya gue masih promo wijen di sini.


wkwkwk


ada yang minat wijen hub gue aje yeh..


nanti gue hitung seliter isi wijennya berapa


πŸ˜‚πŸ˜…πŸ€£πŸ˜…πŸ€£


wkwkwk


πŸ‡²πŸ‡¨πŸ‡²πŸ‡¨πŸ‡²πŸ‡¨πŸ‡²πŸ‡¨πŸ‡²πŸ‡¨πŸ‡²πŸ‡¨πŸ‡²πŸ‡¨πŸ‡²πŸ‡¨πŸ‡²πŸ‡¨πŸ‡²πŸ‡¨πŸ‡²πŸ‡¨πŸ‡²πŸ‡¨πŸ‡²πŸ‡¨πŸ‡²πŸ‡¨πŸ‡²πŸ‡¨πŸ‡²πŸ‡¨


Dalam pidatoku, "Sekali Merdeka tetap Merdeka"! Kucetus semboyan: "Kita cinta damai, tetapi kita lebih cinta KEMERDEKAAN".


@Soekarno


Yuhuiiii semangat jiwa Pancasila buat para readers πŸ’•πŸ’•πŸ’•


ingett,, Jan lupa dukungannya berupa like subscribe and share πŸ˜…πŸ€£πŸ€£πŸ€£


**LIKE JEMPOL KOMEN LU, VOTE BAGI YANG IKHLAS AJE.


SUSAH AMAT TUH JEMPOL GERCEP😌😌😌😌


#AkuPadamuπŸ’•

__ADS_1


Terimakasih bagi yang udah dukung Nazeera sampai episode ini. Tanpa kalian mana mau aku gercep2 jempol ngetik kata hingga 1201 kata.


HemmttZZ pokonya sekali lagi terimakasih moon maap lahir TA'BANTING😌**


__ADS_2