Ditinggal Nikah

Ditinggal Nikah
BAB 81 DITINGGAL NIKAH


__ADS_3

Tamar berdiri mengusap kepalanya kasar.


"Abang kenapa sih seperti orang setres?" Bingung melihat saudaranya tak henti-hentinya mengumpat.


Dia masih mengingat seorang anak kecil bermain di rumah Amma. Anak kecil itu selalu saja memperhatikan dirinya.


FLASHBACK ON


"Om..." Panggil anak kecil saat Tamar duduk di depan rumah Amma.


"Enak gak gulanya?" Tanya anak itu polos.


Anak kecil itu tersenyum, memperlihatkan gigi ompongnya. Permwn lolipop berada di lengan kirinya.


Ditanya seperti itu membuat Tamar kebingungan. Gula? Emang gula enak jika dengan pasangannya seperti kopi, dan teh.


Tamar mengembangkan senyum, seraya menggeleng. Anak itu bisa membaca pikiran Tamar.


"Bukan yang itu om." Bocah itu hampir saja marah karena ejekan Tamar.


"Tapi gula yang aku masukin di kopi om." Deretan gigi anak kecil itu kembali tampil.


Deg


Tamar menoleh, yang awalnya dia terlalu serius bermain hp.


"APA?!" Geram Tamar.


Anak kecil itu hampir menangis. Tamar sadar, yang dilakukan itu salah. Dia mengumpat kasar, pasti ada orang yang menyuruhnya.Tidak mungkin anak kecil seperti dia bisa melakukan ini.


Dengan nafas kasar, Tamar memberinya ruang pelukan gar tak menangis. "Emang kamu gak sekolah? Kenapa? Kamu bolos yah? Nanti aku tanya Amma." Ancam Tamar diiringi dengan nada canda.


"Hehe. Iya om. Ada tante cantiiiiikkkk sekali datang pada ku. Aku suka padanya. Dia bilang, ngak usah sekolah. Dia beliin aku permen. Ini..." Memperlihatlan permennya di tangan kanan.


Tamar yang mendengar itu semakin penasaran. "Dia akan membelikan saya permen, asal berhasil memasukkan gula itu ke dalam minuman kakak. Dan juga, sewaktu om Jaya datang bersama Tante Zee, dia juga membelikan ku permen asal aku berhasil memasukkan gula yang sama di minumannya tante Zee." Curhat anak itu senang memperlihatkan khas senyumnya.


Deg

__ADS_1


Tamar mengusap kepalanya frustasi. Dengan hati-hati, Tamar kembali bertanya. "A-apa Mitha yang menyuruh mu?" Tanyanya gugup, takut, dan khawatir.


Anak itu menggeleng cepat, "Tidak om. Oia om. Apakah gulanya beneran enak yah?" Tanya bocah igu polos.


Tamar hanya mengangguk. Saksi telah di dapatkan. Oh tidak. Rupanya dia ketinggalan sesuatu. Berarti orang yang menyuruh bocah itu masih ada di sekitaran sini. Tamar menoleh kirii dan kanan, depan belakang. Apakah ada orang yang mencurigakan?


Tamar memegang pundak anak kecil itu kasar. "Dimana orang itu?" Tanyanya desak sedikit mengguncang.


Hikz hikz hikz


Anak kecil itu menangis. "Hasby?" Panggil Amma.


"Amma..." Teriak anak kecil itu bernama Hasby. Anak kecil itu berlari sambil menangis.


Tamar mendengus melihat reaksi anak kecil itu. Amma menuntun Hasby masuk ke dalam rumahnya.


"Aaargggg..." Tamar menggeram berusaha menahan amarah yang bergejolak.


Tadi setelah menyakiti Mitha, dia menyiram dirinya dengan air dingin. Nafsuhnya sudah dipenuhi gairah kini tersalurkan lah sudah.


"Abang kenapa?" Tanya Apar bingung.


"Apakah kau tahu siapa wanita yang sering ditemui oleh bocah itu?" Tamar mengucapkan kalimatnya, tak peduli dengan air mata dan juga air liur yang ikutan keluar bersamaan denga kalimat-kalimat itu (muncret).


Apar spertinya terkena hujan liur. Huft. Untung saudaranya Nazeera. Jika tidak, sudah lama orang ini di tendang pergi. Datang tak diantar, bicara tak jelas, menggeram lebi-lebih tak jelas lagi. Dasar orang gila! Umpat Apar dalam hati.


Ini orang maunya apa sih? Sejak datang belum ada kalimat yang dia lontarkan pun. Bahkan Amma masih canggung padanya.


"Abang kenapa sih?" Tanya Apar masih heran.


"Ayo kita masuk dulu, bang!" Ajak Apar. Melihat keadaan Tamar seperti orang gila membuat Apar kasihan sekaligus jengkel.


"Abang minum dulu." Apar menyodorkan air putih.


Tamar tak henti-hentinya menatap anak kecil yang bersama Amma. Anak kecil itu sudah diam sambil memakan lolipop nya.


"Apar?" Panggil Amma.

__ADS_1


"Iya, Ma." Sahutnya menuju ke sana.


"Bawa adik mu ke taman depan yah." Seru Amma lembut.


***


"Nak... Sebenarnya ada apa dengan mu?"


Tamar menghembuskan nafas kasar. Selalu terbayang kesalahannya pada Mitha. Tak ada yang di sembunyikan, Tamar menceritakan semua kejadian yang menimpa dirinya dan juga adiknya.


"Astagfirullah..." Amma memegang jantungnya. Berulang kali dia menangis.


"Saya sudah menyuruh seseorang untuk menyelidiki ini, tapi hasilnya nihil Amma."


"Yasudah kalau begitu, saya panggilkan Hasby dulu agar smuanya jelas siapa yang di maksud Hasby."


Sebelum berdiri, Amma mengingat sesuatu. "Bagaimana keadaan Mitha?" Lirihnya.


.................................


Bersambung....


Jan lupa VOTE LIKE AND KOMEN YAH...


Dikit lagi kok Jaya bangkit dari kubur... Sabar yeh mak emak... love you...


Oia, mengenai problem...


Saya memberikan problwm berturut2 supaya kalian penasaran siapa pelakunya... Ayooooo kira2 siapa pelakunya?


Sudah hampir tamat yah.... Sabar.... Aku berasa ingin langsung tamatkan sjaa.. tapi gak seru...


doakan saja yah semoga green sehat selalu dan moodnya lancar. aamiim.


HAPPY READING....


ANDA PUAS SAYA LEMAS.

__ADS_1


__ADS_2