
Setelah membentak Mitha, Tamar mengingat bahwa istrinya sedang sakit.
"Arrrggghh." Tamar mengerang keras membuat Mitha terkejut.
Wanita itu semakin menunduk takut. Melihat istrinya seperti itu Tamar mengumpat sendiri. Mengapa jika di hadapan istrinya, pria itu selalu saja ingin marah?
"Ja-jangan, Mas." Mitha gelagapan saat pria itu duduk dan menarik sang istri di pahanya.
"Gak usah bawel." Tegurnya sedikit ketus.
Hal yang membuat Mitha tak bisa menguasai diri adalah melihat Tamar yang hanya memakai handuk.
Menggoda iman!
"Ba-baiklah." Daripada kena amukan Tamar lagi, lebih baik diam anteng wae.
Tamar berawal memijit di kedua telapak kaki. Kemudian naik di betis. Melihat betis sang istri terdapat luka memar, Tamar terdiam memperhatikan itu.
Jika saja Mitha tidak ceroboh, anaknya masih ada dan sebentar lagi akan ada yang memanggilnya 'ayah'.
(Tamar tamar, kan bisa nyicil lagi woiiiiiii)
"M-mas?" Mitha salah tingkah ketika melihat sang suami memperhatikan betisnya. Apalagi ada sesuatu dibalik handuk yang tidak membuat Mitha nyaman sedari tadi.
Tamar menoleh. Pria itu hanya mengusap pelan luka memar itu.
"Hmm." Singkatnya menatap sang istri.
Tatapan mereka bertemu.
Deg
Keduanya sama-sama saling menatap. Menikmati irama dangdut di dadanya.
Dug dug dug
Merasa akan hilang kontrol, Tamar meletakkan kaki Mitha seperti semula. Kemudian bergegas ke arah kamar mandi menuntaskan akivitasnya.
"Sial... Setiap kali melihat wajahnya akan selalu seperti ini!" Umpat Tamar di dalam kamar mandi. Dia memperhatikan sesuatu yang menggantung di dalam dirinya. Dia ingin menuntaskan hasrat itu tetapi takut hal itu menyakiti sang istri.
"Shiiiikkkt." Umatnya. Dia kemudian melanjutkan mandinya.
Saat selesai, Tamar keluar. Pria itu melihat Mitha sedang berjalan tertatih ke arah walk in closet.
__ADS_1
"Ngapain kamu?"
"Hah?" Mitha dibuat terkejut saat mendengar suara sang suami.
Deg deg deg
Melihat Tamar yang hanya memakai handuk, rambut yang basah, wajahnya lebih segar daripada tadi, dan tubuh sixpack yang uggghhh ingin kutoel-toel jadinya.
"Dasar mesum." Ucap Tamar menoyor kepala Mitha. Melihat Mitha hanya memperhatikan tubuhnya, dia ingin tertawa saat itu juga. Apalagi dengan mulut Mitha yang mengangah. Ingin dia menciumnya menikmati rasa....
Arghhh apa yang aku pikirkan?
"Jika masih sakit, tidak usah berjalan." Lanjut Tamar kembali dalam mode ketus.
"Ta-tapi... Arggg." Mitha lagi-lagi dibuat kaget atas perlakuan Tamar yang begitu perhatian meski bibir itu sering membentaknya.
Pria itu menggendong Mitha kembali ke tempat tidur. Setelah itu, dia ke walk in closet mengambil pakaian Mitha.
"M-mas. Bi-biar aku sa-saja." Mitha gelagapan sendiri saat Tamar membawa pakaian gantinya. Lengkap dengan pakaian dalam.
"Tidak usah bawel." Ketus Tamar menatap tajam Mitha.
"A-aku bisa s-endiri." Mitha tidak ingin jika Tamar yang memakaikan baju.
"Apa perlu bibir itu aku lakban dulu biar berhenti protes?" Suara Tamar naik satu oktaf.
Tamar perlahan melepaskan tali jubah mandi Mitha. Kemudian menyikapnya. Nampaklah sesuatu yang....
Tidak tidak tidak.
Tamar berusaha meluruskan otaknya. Sedangkan Mitha, dia melihat ke arah yang lain. Wanita itu sangat malu.
Sreettt
Satu kali tarikan, jubah itu sudah tergeletak di lantai. Kemudian Tamar mencium bibir Mitha sambil meremas sesuatu yang lembut. Kedua tangannya tak ayal di dua bukit lembut itu. Dia ingin mengulang kembali nikmat itu untuk menuntaskan hasratnya. Pada akhirnya imannya tergoda!
Glek
Tamar menelang salivanya sendiri.
"M-mas?" Panggil Mitha ketika Tamar hanya melamun memperhatikan dirinya yang sudah kembali duduk di pinggiran tempat tidur. Tanganya menutupi dua aset penting di tubuhnya.
(Yang mesum disini siapa sih sebenarnya? Mitha atau Tamar? Haduuhhh)
__ADS_1
Ini pertama kali Mitha seperti bayi mungil yang tak berpakaian di hadapan Tamar dalam keadaan sadar.
Shittk
Lagi-lagi Tamar mengumpat. Ternyata dia hanya sekedar ingin dan tak berani memulai. Dasar Tamar pria ego.
Tamar langsung mengambil pakaian dalam Mitha di dekat Mitha duduk. Pria itu berulang kali menelang salivanya kasar. Jarinya dapat merasakan kelembutan di kulit Mitha saat jariya tak sengaja menyentuh.
"Ahh--" Desah Mitha tanpa sadar.
Mitha menjadi malu sendiri. Tak seharusnya bibirnya mengeluarkan suara lucnut.
Mendengar erangan Mitha, dia melihat tangannya yang singgah di salah satu bukit indah itu. Pria itu pikir hanya melamun.
Pantesan rasanya seperti nyata di genggaman. Rupanya ini nyata.
Tamar buru-buru memakaikan pakaian Mitha. Dia mengusap keringat di dahinya. Kenapa di kamarnya ini menjadi panas? Apakah ac nya sedang tidak berfungsi?
Tamar menjadi pria bodohh di hadapan sang istri. Ck. Tamar oh Tamar. Jika mau sisa bilang kan? Berabe kan jadinya.
Setelah selesai. Tamar bergegas kembali ke walk in closet untuk memakai pakaiannya sendiri.
"Sialk. Apa yang telah kulakukan?"
...****************...
Di ruang kerja Tamar, ada Jaya yang sudah menfutuk Tamar dengan seribu umpatan. Bibirnya komat kamit menahan kesal.
Dia juga ingin menuntaskan hasratnya yang sudah dua hari menganggur. Susahnya punya isti yang teramat pintar. Dia akan menjawab semua kata-kata Jaya.
"Dasar Tamar Sialan."
Dia sudah menghabiskan hampir 10 batang rokok selama penantiannya.
...****************...
Hai readers... love u so much buat pmbaca certa setia green. baik yg nyata dan juga yang gaib...
bagi yg blom like, silahkan boom like yah...
jan lupa, 1 iklan sangat berarti buat otor๐๐
untuk info2... silahkan cek di igeh
__ADS_1
igeh: greenteach21
Terimkasih... sarangheo๐๐๐