
Tibalah mereka di sebuah rumah sakit. Belum juga Dedi menepikan mobil dengan baik, Nazeera sudah turun dengan gusar.
"Sus, kamar Jaya dimana?"
Perawat itu langsung mencari nama yang disebutkan oleh wanita di depannya.
"Sebentar yah, Bu!"
"Nama lengkap pasien siapa yah Bu?"
"Jaya Alfredo!"
"Maaf, disini tidak ada pasien atas nama Jaya Alfredo."
Apakah Nazeera memasuki rumah sakit yang salah? Nazeera ingin kembali bertanya ke Dedi mengapa dia membawa ke rumah sakit yang salah.
"Oh iya... Jika atas nama Aldebaran?" Hati dag-dig-dug. Takut bila sesuatu terjadi pada sang suami.
"Aldebaran juga tidak ada."
Jangan-jangan Dedi membawa ke rumah sakit yang salah. Bisa-bisanya dia bercanda diwaktu yang tidak tepat.
Nazeera naik pitam. Dia berbalik ingin bertanya lalu memecat Dedi saat itu juga. Namun....
bruk
"Awww..." Ringin Nazeera saat berbalik, namun menabrak dada seseorang.
Nazeera mendongak, dia semakin kesal ketika melihat orang yang ingin ia temui tadi.
"Itu dada, apa besi baja?" Nazeera menunjuk-nunjuk dada bidang Dedi.
__ADS_1
Dedi hanya menatap saja tanpa merespon. Dia menatap Nazeera penuh arti. Dia hanya fokus pada mata wanita itu.
Dug dug dug
Itulah yang dirasakan Dedi. Apakah Dedi benar-benar jatuh cinta?
"Apa liat-liat?" Kesal Nazeera dengan ekspresi wajah pria di depannya. "Bikin kesal aja." Dedi masih tak bergeming.
Yaa tuhan.... Ada apa dengan pria ini?
Geram Nazeera ingin menonjok Dedi.
Perawat yang melihat itu hanya senyum-senyum sendiri. Tak berani melerai pertengkarannya.
"Kenapa kau membawa ku ke rumah sakit yang salah?"
"Emm... Salah?" Dedi menggaruk tengkuknya. Kemudian melangkah ke meja perawat.
"Sus, kamar pasien atas nama Tuan Juventus kamar berapa?"
Sekilas, kata-kata Dedi masih terdengar.
"Hah? Jadi yang sakit bukan Jaya? Suamiku?"
Dedi mengangguk. Jadi selama ini Nona Nazeera gelisah hanya karena mengira tuan Jaya yang sakit? Hahaha. Bucin akut.
Blushhh
Tiba-tiba Nazeera memeluk Dedi. Dia sangat senang karena apa yang dia pikirkan tidak terjadi.
Dug dug dug
__ADS_1
Dedi membeku di tempat. Tak bisa berkata-kata.
Jangan nona. Jangan.
Dedi ingin mengatakan kalimat itu dari mulutnya, namun entah mengapa sangat kaku dan kelu. Dia ingin merasakan hal itu. Kebahagiaan Nazeera.
Ternyata aku jatuh cinta, Nona.
Pada akhirnya, Dedi menyadari sesuatu yang membuat dirinya tak tenang.
"Dimana sus?" Nazeera langsung melepaskan pelukannya tanpa memandang wajah Dedi. Dia terlampau senang.
Setelah mendapatkan ruangan yang dia inginkan, Nazeera menuju ke sana diikuti Dedi di belakangnya.
Namun, kejadian pelukan Nazeera disaksikan oleh seseorang. Dia tidak bisa menafsirkan apa yang baru dia lihat. Mengapa rasanya sangat ingin marah melihat wanita itu memeluk pria tadi.
Dia adalah Jaya. "Awww..." Keluhnya memegang kepala.
Ditempat Nazeera dan Dedi.
Nazeera berjalan dengan bahagia, senyuman selalu terukir. Berbeda di saat baru star ke negara ini.
Mereka telah tiba di dalam lift. Tiba-tiba saja ada yang nyeri dalam tubuh Dedi. Dia seharusnya bahagia melihat istri tuannya bahagia. Namun mengapa sangat berat. Beginikah cinta?
Spontan Dedi memegang dadanya. Untuk pertama kalinya dia merasakan ini. Jatuh cinta. Tapi kenapa mesti ke istri tuannya?
"Kau kenapa?" Tanya Nazeera saat melihat Dedi terlihat murung.
Bersambung....
Terimakasih buat para readers.
__ADS_1
lop yu pul dah dari green...
igeh: greenteach21