
"Jay, kenapa kamu tidak bilang kalau di sini banyak orang?" Bisik Nazeera saat berada di belakang Jaya.
"Kalau ditanya, bukan sprite namanya dodol." Balas Jaya.
Nazeera memukul pelan pundak Jaya, "Kamu aja yang dodol, itu minuman bukan suprise." Ucapnya kesal.
"Hahaha. Tapi kenapa kamu bersembunyi seperti habis kedapatan mencuri mangga?" Jaya membalikkan badannya menghadap wanitanya.
"Ada apa, hem? Ayo bergabung." Ujar Jaya mengajak.
Nazeera hanya tersenyum kikuk di depan Amma dan juga anak-anak lainnya, termasuk Apar.
Aduhh, gimana nih kalau Jaya tahu. Kebal muka aja deh. Batin Nazeera pasrah.
"Ha-hai." Nazeera melambaikan tangannya menyapa dengan canggung.
Mereka semua tertawa, "Hai juga kak." Ucapnya bersamaan.
"Te-terimakasih yah." Ujarnya masih malu.
"Hahaha, terimakasih juga kak atas anginnya." Kata Apar jail.
Jaya mengerutkan keningnya, "Hehe, ngak apa-apa kok." Sangkal Nazeera saat melihat Jaya.
Amma hanya manikmati adegan ini, senyumnya tak pernah dia turunkan. "Nak, ayo ke sini." Ajak Amma.
Nazeera baru menyadari posisinya, ternyata dia berada di sebuah gubuk yang pernah dia kunjungi. Tetapi, gubuknya berubah menjadi sebuah istana dan cukup luas dan besar untuk menampung beberapa anak jalanan lagi. Seperti Apar dan kawan-kawan.
Amma manggut-manggut senang. Langsung memeluk Nazeera kemudian menangis. "Terimakasih, Nak!" Air matanya tak bisa dia bendung lagi.
Nazeera membalas pelukan Amma, mengusap pelan pundaknya. "Iya Amma." Ucap Nazeera tersenyum bahagia.
Aduh, nih perut kok masih ngak bisa diajak kompromi yah?! Kesal batinnya.
"Ada apa nak?" Tanya Amma saat melepaskan pelukannya dan menghapus air matanya. Dia melihat wajah masam Nazeera.
"Amma, aku mau numpang toilet boleh ngak?" Bisik Nazeera, tapi bisikannya terdengar oleh Apar.
Apar langsung tertawa karena mengingat saat pertama dan terakhir kalinya membuang angin.
Jaya mengalihkan pandangannya ke arah Apar yang tawanya pecah. "Ada apa?" Tanya Jaya penasaran.
Praaakkkk
Amma langsung memukul lengan Apar pelan, "Maaf Amma. Hehe." Ucapnya masih saja cekikikan menutup mulutnya.
Nazeera memutar bola matanya malu. Dia menatap tajam ke arah Jaya karena bertanya pada Apar. Begitupun dengan Apar, dia merasakan tatapan membunuh dari Nazeera hingga berusaha dia tahan untuk tidak tertawa.
"Yasudah, sini ikut Amma ke dalam! Sekalian kita mengelilingi rumah ini." Ajak Amma mengulurkan tangannya semangat.
Nazeera mengiyakan dan melangkah lebih cepat dari Amma. Karena perutnya sudah tak tertahankan. Sebelum dia masuk ke dalam kamar mandi, dia kembali membuang angin di depan Amma.
Nazeera yang selangkah lagi masuk di dalam kamar mandi menutup mata, merapatkan giginya dan merutuki dirinya sendiri.
Sial, hari ini aku benar-benar malu sekali. Aduhh.
__ADS_1
Nazeera berbalik memperlihatkan giginya di depan Amma, "Hehe, maap yah Amma, udah ngak tahan." Ucapnya mengangkat jari membentuk 'V' lalu menutup pintu rapat-rapat.
Amma merasa lucu dengan sikap Nazeera, berulangkali dia menahan nafas ketika dia berulah. Dan sekarang?! Sekarang dia berulah lagi.
Terimakasih nak atas kebaikan yang kamu berikan. Orang lain tak akan mungkin demikian seperti diri mu. Semoga Tuhan selalu memberimu keselamatan dunia dan akhirat. Aamiin.
Doa Amma menatap pintu kamar mandi Nazeera. Hatinya sangat bahagia dengan kebaikan Nazeera.
"Amma?! Ada apa? Aduh maafkan Nazeera yah yang kurang ajar membuang angin 4 kali di depan Amma." Tutur Nazeera khawatir saat keluar dari kamar mandi karena melihat Amma menangis.
"Tidak nak, terimakasih atas kebaikan kalian. Semoga keberkahan selalu meliputi kalian." Doa Amma lagi.
"Aamiin. Kalau Amma begini terus, kapan kita akan jalan-jalannya? Ayo kita melihat kerjaan si Jaya itu, Ma." Ajak Nazeera dengan pandangan yang menengadah.
Mereka memulai melihat ruang dapur, kemudian ruang belakang yang ditanami beberapa bunga, lantai atas yang terdiri dari lima kamar. Mereka berjalan sambil bercerita.
"Ohh, jadi Jaya berhasil mengambil tanah yang berada di seberang sana yah? Hahaha aku fikir kerjaan begini saja dia tidak becus." Nazeera puas hasil kerja Jaya.
"Iya nak. Tapi tuan itu awalnya bersikeras tidak mau menyerahkan sebagian tanahnya. Namun entahlah apa yang terjadi diantara mereka hingga bisa membangun rumah ini."
Nazeera sangat serius mendengar cerita wanita paruh baya itu. Aakhhh, good job untuk Jay. Batin Nazeera.
"Nanti aku akan sewa untuk bantu-bantu Amma di sini. Biar ada yang bantu Amma dalam mengurus anak-anak."
Kruk kruk kruk
"Hehehe, maaf Amma." Nazeera cengir menutupi malunya.
Aduhhhh, andai bisa malu dibeli, aku akan membelinya dua kali lipat. Lagi-lagi Nazeera merutuki dirinya.
Mereka berdua sudah berada di pintu depan. Suara Jaya dan anak-anak yang lainnya semakin terdengar, petikan gitar yang sekali-kali dimainkannya.
Jaya melihat Nazeera datang semakin tertawa, Apar dan yang lainnya tak berani lagi tertawa dengan jelas, melainkan menutup mulutnya dengan tangannya kemudian tertawa.
Mungkin saja si Apartemen menceritakan semuanya. Aduhhh, malu banget gue hari ini. hikzzZ ingin menghilang. Desah batin Nazeera.
Nazeera mulai risih, Amma memanggil Apar dan kawan-kawan untuk menyiapkan hidangan siang dengan menu spesial khas Amma. Mereka sangat bahagia.
Di taman depan, mereka hanya merayakan perayaan kecil-kecilan. Duduk melantai, makan bersama dengan sejejeran daun pisang.
"Hey!!! Apa yang kau lihat? Berhenti menertawai ku." Tegur Nazeera.
"Kamu ini kenapa? Sebelum ketawa dilarang, aku akan tetap ketawa."
Jaya tampak berfikir, "Kamu pernah dengar? Dilarang melarang karena melarang dilarang!" Lanjut Jaya.
Nazeera mengerutkan keningnya. Melihat itu, Jaya langsung tertawa melihat wajah imut wanitanya.
"Kamu itu dari kecil hingga aku besar seperti ini selalu menjaili ku. Bagaimana aku bisa mencintaimu?!" Ucap Nazeera dengan polosnya.
Tawa Jaya langsung redah seketika, "Jadi kamu ingin mulai mencintai ku." Ucapnya dengan tatapan penuh harap.
Ditanya seperti ini membuat Nazeera gugup, "Aisshhhhh, itu kan hanya sekedar. Akhh bukannya kamu yang meminta itu?" Ucap Nazeera menggigit bibir bawahnya.
Aduhhh aku salah bicara. Si bacot ini mulai lagi kan. Batin Nazeera saat Jaya langsung memeluknya.
__ADS_1
"Aku janji, akan membuat kamu mencintai ku. Terimakasih karena memberi aku harapan untuk bersama mu."
"Ja-jangan seperti ini. Aku se-sak." Gugup Nazeera.
Jaya langsung melepaskan pelukannya kemudian mencium pipi wanitanya. "Kamu ini aneh sekali, dasar bacot." Kesal ulah Jaya.
"Iya-iya. Maaf yah sayang." Ucapnya mengedipkan mata.
Jaya mulai agresif, gue jadi takut gini, dicium gini aja buat aku merinding. Aku aja sama Akhyar ngak pernah melakukan ini. Akhh aku sangat merindukan dia. Dia yang selalu sopan pada ku, namun pada akhirnya kesopanannya berujung pada pengkhianatan. Semoga Allah memberikan kalian berdua kebahagiaan.
"Hey, kenapa menangis sayang?" Tanya Jaya khawatir. "Apa aku melakukan kesalahan lagi?" Lanjutnya.
Nazeera mengangguk, "Kamu melakukan kesalahan."
Jaya memperlihatkan mimik wajah bertanya, "Kesalahan kamu yaitu, tetalalu mencintai ku." Jaya ingin tertawa, tetapi dia tahan. Takut Nazeera akan risih lagi.
"Iya sayang kamu berhenti menangis yah!" Serunya menghapus air matanya.
Nazeera mengangguk, "Dan kesalahan kamu yang kedua adalah utang mu belum kamu tepati."
Jaya menghentikan aktivitasnya, "Hutang?! Hutang apa emangnya?" Tanya Jaya bingung.
"Iya, hutang janji. Bukan kah kamu berjanji untuk tidak bertindak semaunya kepadaku. Dan bukan kah janji adalah hutang?"
Astagaaa, ngak ditanya pun kamu tetap bocah bacil. Masa cipika cipiki doang ngak bisa. Masa iya Akhyar ngak pernah mencium mu. Heran, tujuh tahun pacaran ngak pernah disentuh sedikit pun.
Batin Jaya menggeleng.
Bersambung...
.
.
.
Assalamu'alaikum...
Halo sahabat DNππ
Terimakasih buat kalian yang selalu mendukung karya pertama kuππ€
Sangat bersyukur mengenal kalian dari kejauhan..
Jan lupa VOTE LIKE DAN KOMEN.
Dukungan kalian sangat berarti bagi otor.. karena akan bersemangat untuk berhaluπππ
Oh iya,, mampir ke karya kedua ku juga yah!
-Senior, Aku Padamu
Mampir juga ke karya temenku yah. Baru lulus kontrak loh
- Ilmu Yang Bermanfaat
__ADS_1
SELAMAT MEMANTI...!!!πππ