Ditinggal Nikah

Ditinggal Nikah
Cinderella Kesasar


__ADS_3

Assalamu'alaikum...


Halo pembaca setia 'DITINGGAL NIKAH'.


moga aja judulnya tak senasib kalian yah..


SELAMAT MEMBACA...!!!


Jangan melibatkan hatimu dalam kesedihan atas masa lalu atau kamu tidak akan siap untuk apa yang akan datang.


.


.


.


***


๐Ÿ“ฒBalonku ada lima, rupa-rupa warnanya......


Suara deringan telepon tanda panggilan masuk di ponsel Nazeera. Sebelum menyentuh ponselnya wanita itu sudah tahu siapa yang mengganggunya pagi-pagi begini.


Deringan itu selalu saja berbunyi, membuat Nazeera jadi terganggu. Wanita itu tidur dengan tengkurap menutup telinganya supaya tak terganggu.


Tok Tok Tok


Suara ketukan terdengar, "Siapa lagi sih menganggu?!" Gerutu Nazeera berjalan menuju pintu.


Nazeera berjalan dengan mata masih setengah terpejam. Saat membuka pintu wanita itu menguap besar menyandarkan kepalanya di sisi pintu dengan mata terpejam.


Hoooowwwwwaaaam


"Ada apa mengetuk pintu, Bi?"


"Ekhem."


Suara dehem dari seorang laki-laki membuyarkan kantuk yang dirasakan oleh Nazeera, lalu menutup pintu keras setelah membuka mata lebar-lebar.


"Apa yang kau lakukan di sini, Jay?" Teriaknya bersandar di pintu.


Nazeera jadi kesal, pagi-pagi begini sudah kedatangan tamu. Apalagi sampai menyusulnya di depan pintu kamar.


Wanita itu kembali menundukkan pandangannya, melihat penampilannya. Dia menghentakkan kaki tak terima saat Jaya melihat penampilannya.


Dia memakai celana pendek di atas lutut, baju yang memiliki tali sebagai menyanggah di atas bahu dan hanya sebatas perut, rambut di kuncir kuda.


Bagaimana bisa aku seceroboh begini. Hikzzzzz aku tak terima Jaya melihat semua lekukan tubuh ku. Batinnya meronta ingin diputar kembali fakta yang telah terjadi.


Di luar kamar, sebenarnya Jaya juga tak kalah kagetnya melihat penampilan kekasihnya yang baru saja jadian semalam. Dia menelan salivanya kasar. Untuk menetralkan keterkejutannya, dia berdehem agar Nazeera sadar bahwa Jaya junior siap on.


"Sayang, aku tunggu di bawah yah!" Serunya agar pikirannya tak kemana-mana.


"Kenapa kamu ke sini? Bukannya aku bilang tidak usah datang menemui ku? Semalam kan aku sudah jelaskan kalau aku hanya terpaksa menerima mu." Tegas Nazeera.


"Ucapan ngak bisa ditarik bagi pendengar, sayang."


"Berhenti memanggilku sayaaaaaaang." Teriak Nazeera lagi.


"Aku bukan kekasih mu, kau keluar dari rumah ku." Lanjut Nazeera.


"Jadi kamu mengusir ku?" Tanya Jaya.


"Iya, aku mengusir mu dari dunia nyata ku. Pergi!!!"


"Jadi, di dunia halu kamu ngak mengusir ku kan?"

__ADS_1


Tanpa sadar Nazeera membuka pintu lalu melempar sebelah sendalnya.


"Berhenti menggangguku." Ucapnya sebelum menutup pintu dengan keras.


"Aduhh, kalau begini tiap hari. Bisa mamp*s setengah hidup." Gumam Jaya mengusap wajahnya yang telah kena sendal dari Nazeera.


"Cinderella, sendal mu ketinggalan sayang." Jaya masih cengengesan.


"Mana ada Cinderella pagi-pagi begini b*go? Yang ada itu malam-malam." Balas Nazeera.


"Hahaha, aku tunggu di bawah yah. Jika belum keluar juga aku akan menyusul mu di dalam kamar." Ancam Jaya.


***


"Kenapa penampilan kamu seperti ini?" Tanya Jaya saat Nazeera berada di anak tangga.


"Kepo." Katus Nazeera.


"Nazeera sayang, bukannya kemarin aku sudah bilang kalau kita akan keluar? Kenapa kamu tetap memakai pakaian seperti ini?"


"Bodo."


"Kamu ganti sekarang." Titah Jaya.


"Ngak!!!" Balasnya tak kalah keras.


"Ganti!!! Aku bilang ganti yah ganti."


"Sebelum aku tambah kesal sama kamu, sebaiknya kamu diam yah." Tutur Nazeera yang sudah jengah mendengar suara Jaya.


"Sayang, penampilan mu seperti ini akan mengundang mata lelaki yang melihat mu."


Nazeera kembali memperhatikan penampilannya, Apanya yang mengundang, orang sudah menutup badan dengan lengan panjang dan juga dengan memakai celana jeans. Gerutu Nazeera dalam hati.


"Cuman matamu saja yang sakit. Sudah ahh, kamu ini membuat kuping ku sakit." Ucapnya menuju dapur.


"Zee, kamu mau kemana?" Teriak Jaya.


"Mau ke pemakaman." Balas wanita itu.


"Mau ke pemakaman kok masuk ke dapur."


"Jaya Naruto!!! Kamu itu sudah tau aku mau ke dapur, kenapa tanya lagi?"


Nazeera sudah betul-betul kesal, "Jangan menganggu nafsuh makan ku. Aku sangat lapar dari kemarin akibat ulah kamu dan bang Tamar yang ngerjain aku."


"Kamu tidak mengundang ku makan bersama mu, sayang?" Jaya berdiri di dekat Nazeera duduk.


"Bi, aku pernah taruh lakban di lemari piring. Tolong ambilkan."


Pelayan itu menurut apa yang diperintahkan majikannya.


"Terimakasih."


"Mau kamu apakan lakban itu, Zee?"


"Buat tutup mulut mu." Nazeera menutup mulut Jaya dengan lakban.


Jaya menahan tangan Nazeera, "Jika kamu tidak ingin menanggung resikonya, lakukan saja. Tapi jangan salahkan aku yah?"


Wanita itu menghentikan aktivitasnya, "Kenapa kamu selalu mengangguku? Aku kan sudah bilang tadi jangan membuat nafsuh makan ku hilang aku sangat lapar dari kemarin gara-gara kalian." Tutur Nazeera.


"Ada apa ini?" Tanya Raha yang baru tiba di meja makan.


"Bunda, Jaya selalu saja mengganggu ku. Dia sering buat aku kesal." Nazeera memeluk Raha.

__ADS_1


Raha tertawa mendengar penuturan anaknya, "Kalian ini, selalu seperti kucing dan tikus."


"Siapa yang kucing dan tikus bunda?" Ucap Tamar saat tiba di ruang makan bersama Mise.


"Loe." Jawab Jaya.


"Kok gue sih? Loe ngapa datang pagi-pagi di rumah gue? Minta Jatah sarapan yah?"


Dengan telaten para pelayan menata meja makan. "Sebelum dingin kalian makan dulu." Lerai Raha.


"Nak Jaya, kamu juga ikutan makan yah." Ujar Raha tersenyum.


Jaya melihat senyum bunda seperti lampu hijau untuk dirinya mendekati putrinya. "Siap bunda, dengan senang hati." Jaya duduk di dekat wanitanya.


"Jangan duduk di situ. Di dekat bang Tamar saja."


"Zee, apa bedanya di sini dan di sana?" Tanya Jaya.


"Kalau kau pilih di sini, apa kata di sana. Kalau kau pilih di sana, di sini akan terluka." Ujar Tamar tertawa.


"Kalian masih mau adu mulut atau mau makan?" Ucap Mise yang sedari tadi mengunyah.


"Tidak Yah." Ucap Nazeera dan Tamar bersamaan.


Jaya melanjutkan duduknya di dekat Nazeera, "Aku bilang jangan duduk di sini." Pekik Nazeera.


"Zee!!!" Tegur Mise menatap tajam Nazeera.


"Kalian kenapa sih? Suka banget usulin Nazeera? Aku sangat lapar gara-gara kalian juga. Kalian mengganggu nafsuh makan ku saja." Nazeera sudah menangis, dia menghentikan aktivitas makannya dan berdiri lalu menuju kamarnya.


Jaya ingin mengejar, tetapi Raha menahannya. "Sudah. Tidak apa-apa. Sekarang hatinya lagi sensitif dan mudah baperan."


"Bilang aja bunda kalau dia emang anaknya cengeng." Celetuk Tamar.


"Ekhem." Mise berdehem pertanda bahwa untuk melanjutkan aktivitas makan.


Mereka semua makan tanpa Nazeera ditemani dengan keheningan. Yang ada hanya suara sendok.


Kok gue salah tingkah gini yah? Padahal kan gue sudah terbiasa dengan keadaan makan seperti ini. Atau mungkin sudah termasuk calon menantu di rumah ini jadi aku gerogi yah?


Batin Jaya.


uuuuhhhuuuuukkkk


Jaya jadi batuk sendiri, "Kalau makan pelan-pelan." Tegur Raha lembut


"I-iya Bun."


"Ngapa loe jadi gugup gitu?" Tanya Tamar.


"Ekhem." Lagi-lagi Mise berdehem.


Bersambung...


.


.


.


Hem, maaf yah yang sudah menunggu DN tetapi tak kunjung up kemarin selama beberapa hari.


Hari ini aku beri bonus jika Vote, like dan komentar nya memungkinkan untuk up.


See you.

__ADS_1


otor lagi sibuk, maap yehh. tapi seperti janji di atas, jika vote, like dan komen nya memungkinkan, aku akan sempetin up. wokeh, jika tidak yahhh selamat menunggu ๐Ÿค—๐Ÿค—


__ADS_2