
Tibalah perjanjian antara Maya dan juga Nazeera. “Silahkan, Mba.” Ujar Asyah mempersilahkan Maya untuk mencoba gaunnya.
Maya tersenyum ramah, “Terimakasih.”
Nazeera kemana yah. Dari tadi aku ngak melihatnya.
“Aku ganti gaun dulu yah?” Pamit Maya pada Akhyar.
Akhyar hanya mengangguk dan fokus pada ponselnya.
Sabar, May. Sabar!!! Pintanya pada dirinya sendiri.
“Maaf Mba, yang punya butik ini kemana?” Bisik Maya pada Asyah saat sudah berada di ruang ganti.
“Oh, beliau lagi ada urusan, Mba.” Balasnya sambil memasang resleting Maya.
“Wahh, Mba cantik banget.” Puji Asyah.
“Aduh kapan yah aku juga memakai pakaian pengantin kayak Mba hasil dari rancangan Mba Nazeera.” Imbuhnya.
Maya hanya tersenyum, “Mba, kok kayaknya ngak senang gitu. Seharusnya calon pengantin senang donk. Ini kok malah aku yang senang sih, berasa aku yang pengantinnya.” Ujar Asyah terkekeh.
Maya memegang tangan Asyah, “Loh, dingin banget tangannya, Mba.”
“Saya tidak tahu apa yang saya ingin ekspresikan. Yang pastinya sekarang saya sangat gugup.” Jawab Maya tersenyum kikuk.
Maya sangat ragu, haruskah dia memperlihatkan gaunnya di depan Akhyar atau tidak.
“Loh, kok dilepas, Mba? Ngak keluar dulu biar Mas nya bisa liat secantik apa Mba saat memakai gaun ini?”
“Ngak apa-apa. Biar dia lihat pada saat pernikahan saja.”
Asyah mengangguk lalu membantu Maya melepaskan gaunnya. Mereka keluar secara bersamaan. Terlihat Akhyar yang tidak menyentuh sedikit pun baju miliknya.
“Mas, kamu belum mencobanya yah?”
“Sudah.” Balasnya singkat.
__ADS_1
Maya hanya mengangguk, ikut duduk di dekat Akhyar.
Asyah dengan sigap membungkus pesanan mereka. Setelah selesai, mereka menuju parkiran.
Di parkiran, mereka tidak sengaja bertemu dengan Nazeera dan Jaya. Dari kejauhan, Jaya sudah melihat Akhyar baru saja keluar dari butik. Oleh karena itu, dia mengikuti Nazeera dan merangkul bahunya saat Nazeera keluar dari mobilnya. Tetapi Nazeera selalu memberontak, Jaya pun tak putus asa.
Sebelum tiba di parkiran, dari kejauhan Akhyar melihat Nazeera dan juga Jaya. Mereka tampak bertengkar. Yang satu ingin merangkul dan yang satunnya ingin melepaskan.
Ada apa yah mereka ke sini? Ah, yang pastinya mereka datang bukan untuk makan. Batin Akhyar menggeleng.
Maya memperhatikan tingkah Akhyar, “Ada apa, Mas?”
Akhyar tidak menjawab, dia menatap nama butik ‘Green Boutique’. Dia menghela napas kasar.
Ini sepertinya sama dengan Cafe itu.
“Hey, ternyata kita juga jumpa di sini, Pak Akhyar.” Tegur Jaya saat berpapasan.
Akhyar tersenyum melirik ke arah Nazeera. Maya jadi kaget saat Akhyar merangkul pinggangnya.
Apa karena Nazeera? Yahh, yang pastinya karena dia. Batin Maya melirik ke arah Nazeera. Meskipun mengetahui Akhyar melakukan itu bukan karena ikhlas tetapi dia sangat bahagia.
Nazeera meninggalkan mereka, Maya tersenyum pada Nazeera saat berlalu di hadapannya. Dasar tak tahu malu. Ku kutuk kau jadi batu nisan. Batin Nazeera
Akhyar melepaskan rangkulannya saat Jaya telah pergi. “Maaf.” Kata Akhyar.
Maya hanya mengangguk tersenyum. Mereka masuk ke dalam mobil. Hening yang tercipta di antara mereka. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Di dalam Butik
“Jay… Kenapa kamu masih saja menjadi ekor ku?” Kesal Nazeera.
“Bukankah kamu sudah terlambat?” Imbuhnya.
“Aku hanya ingin memastikanmu selamat sampai tujuan.”
Nazeera memutar bola matanya jengah. Jaya melihat itu menjadi terkekeh. Tanpa sadar tangannya mencubit pipi wanita itu. “Kamu tuh yah.” Ucapnya gemes.
__ADS_1
Nazeera menepis tangan Jaya, “Keluar atau tidak?” Geram Nazeera sedikit berteriak.
“Aku akan melarangmu masuk ke dalam butik ku. Berhenti menggangguku!!!” Serunya yang masih saja kesal.
“Oke.” Ucap Jaya mengedipkan matanya sebelah.
Tanpa sadar, Nazeera melepas helsnya dan melemparnya ke arah Jaya. Lelaki itu menghindar jadi yang kena adalah seorang customer yang baru saja masuk.
Jaya melambaikan tangan dan memberikan cimuan jarak jauh. Wanita itu sangat kesal. Dia menahan kesalnya lalu memberikan senyuman dan kata maaf pada customernya.
Para karyawan sedang menatap hiburan jam kerja, tiada satu pun karyawan yang melihat mereka tidak terkekeh. Menyaksikan manusia berperan sebagai Tom and Jerry secara langsung.
(Aduhh kasihan coustomernya. Hehe jadi tumbal kekesalan Nazeera)
***
Siang harinya, Asyah masuk ke dalam ruangan Nazeera. “Mba, atas nama Maya sudah dia ambil tadi gaunnya.”
Nazeera hanya berdehem tak menanggapi ucapan Asyah.
“Oh iya, Mba, calonnya mba Maya sepertinya mirip foto yang Mba selalu posting dulu di history.”
Wanita itu menghentikan kegiatannya, dia menatap Asyah. “Apa yang ingin kamu katakan? Iya, kamu memang benar. Dia adalah Akhyar.” Ucapnya malas.
Asyah menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Dia jadi kaget, “Jadi mba mati matian begadang hanya karena...”
“Sudah akhh. Jika kamu masih ingin membahas mereka, sebaiknya kamu kubur sendiri pertanyaanmu yang lainnya.” Ucap Nazeera kembali fokus pada komputenya.
Asyah mengangguk, “Mba!!!”
“Syah? Apa lagi?” Pekik Nazeera.
“Hehehe, mau minta gaji. Soalnya kita udah hampir masuk kuliah.”
Wanita itu menepuk jidatnya, mengapa dia bisa lupa tentang kuliahnya.
“Yasudah. Sebelum pulang kamu kesini saja.”
__ADS_1
“Mba, anak-anak sudah menunggu di bawah.”
Nazeera menganggguk mengiyakan, dia mematikan komputer yang ada di depannya.