Ditinggal Nikah

Ditinggal Nikah
Restoran Barongki


__ADS_3

Assalamu'alaikum...


Halo pembaca setia Ditinggal Nikah....


Selamat membaca ♥️♥️.........................................


Keberhasilan terbaik seseorang datang setelah kekecewaan terbesar mereka.


.


.


.


***


Dedi masuk ke ruang kerja Jaya. Dia mencari keberadaan Nazeera, tetapi tidak ada. Lelaki itu memberanikan dirinya untuk membuka ruang pribadi miliki Jaya.


"Astaaagaaaa. Apa yang terjadi?" Tanyanya saat melihat Nazeera.


"Hehehe. Ini." Ucapnya memperlihatkan potongan gitar yang ada di tangannya.


Dedi berjalan menuju Nazeera. Dia ingin membantu membantu wanita yang duduk di lantai. "Hey....!!! Apa yang kalian lakukan." Teriak seseorang yang tiba-tiba datang.


Suara itu mengalihkan pandangan Nazeera dan Dedi. "Gue hanya ingin nolongin Nona ini." Ucapnya berdiri dengan tegap.


Jaya mendorong tubuh Dedi, dia mengangkat tubuh Nazeera ke atas tempat tidur. "Astagaa!!!" Ucapnya saat memperhatika gitar yang patah dan kursi kerjanya.


"Hehehe. Maap Jay." Ucap Nazeera mengangkat jarinya dan memperlihatkan giginya.


Jaya menarik nafas panjang. "Ded, loe urus kekacauan ini. Gua ngak lanjut rapat."


Dedi mengangguk dan keluar dari ruang pribadi Jaya, sekarang hanya ada Jaya dan Nazeera. "Kenapa kamu ngak melanjutkan saja pekerjaanmu. Aku bisa sendiri kok." Ucapnya menahan sakit di kakinya.


"Kalau bisa sendiri, coba lari ke sana." Ejek lelaki itu.


Nazeera melempar bantal di wajah Jaya. Dia hanya tertawa mendapat lemparan dari wanita itu.


Jaya mendekati kaki Nazeera. "Makanya jadi orang jangan terlalu pendek." Ucapnya melepaskan heelsnya.


"Emang ada yah yang panjat mamakai heels?" Imbuhnya membuat Nazeera semakin geram.


Wanita itu meringis kesakitan. "Jay. Kamu mau ngapain?" Ucap Nazeera panik saat kakinya di pegang.


"Memberikan pelajaran pada kakimu yang nakal."


Nazeera menarik kakinya tetapi semakin meringis kesakitan. Jaya menarik kembali kaki Nazeera.


Aduhhh, mulusnya. Ehhh, astagfirullah aladzim. Batinnya menggeleng saat tak sengaja melihat paha Nazeera.


Hikz hikz hikz


"Aaaaaarrrrrrrrgggggg. JAYA SEMBAKO!!!" Pekik Nazeera saat Jaya memberikan pijatan terakhirnya.


"Sudah selesai. Sekarang kamu coba berdiri."


Nazeera melakukan perintah Jaya. Awalnya dia bertumpu pada bahu lelaki yang duduk di dekatnya. "Sakit, tapi ngak sesakit yang tadi." Ucapnya kegirangan.


"Tangan mu ajaib juga yah Jay." Imbuhnya memegang tangan Jaya.


"Kamu bisa ngak sembuhin luka ku yang di sini?" Tanyanya memegang dadanya.

__ADS_1


Jaya menoyor kepala Nazeera hingga mengaduh. Jaya duduk di tepi tempat tidur, di ikuti oleh Nazeera.


"Aku kira kakimu sudah sembuh. Kenapa jalanmu begitu."


"Udah ngak apa-apa. Mungkin hanya bekas pijitanmu saja." Ujar Nazeera.


"Seharusnya kamu yang lebih tau daripada aku." Imbuhnya membuat Jaya menoyor kembali kepala wanita itu untuk kedua kalinya.


Nazeera membalas toyoran tersebut tetapi lelaki itu menatapnya tajam. Hingga dia hanya mengacak rambut Jaya dan memperlihatkan gigi putihnya.


Setelah itu mereka sama-sama duduk di tepi tempat tidur. "Kenapa kamu bisa ke sini, padahal rapatnya belum selesai?" Tanya Nazeera kembali.


"Tadi aku menyuruh Dedi mengambil berkas. Tadi aku salah bawa. Dedi sangat lama jadi aku susul ke sini." Jelasnya.


"Salah bawa? Kamu kurang fokus yah ada aku di sini?" Goda Nazeera.


Emang kamu yang selalu membuatku tidak fokus.


"Sekarang kamu istrahat saja. Ngak usah macam-macam. Aku akan kerja di depan." Ucapnya berdiri.


Jaya berdiri mengambil kotak obat. Saat selesai mengobati di bagian lukanya. Lelaki itu gusar ingin keluar. Tak tahan dengan wanita yang ada di dekatnya.


"Nanti akan ada yang membersihkan tempat ini."


"Jay, kursi mu. Hehe." Ucap Nazeera menunjuk kusirnya.


"Sudahlah istrahat saja." Ucapnya menutup pintu.


***


Saat Nazeera tidur, sudah ada cleaning service yang membersihkan kekacauannya. Jaya berjalan ke ruangan dimana Nazeera berada.


Saat memegang pipinya, ternyata hangat. "Mungkin karena es tadi. Aku aja kepala ku terasa berat." Gumam Jaya.


Jaya terus-terusan memperhatikan wajah Nazeera. Lelaki itu tidur mengahap ke arah Nazeera dan melipat kedua tangannya.


Aku akan berusaha bagaimana pun caranya agar kamu bisa mencintaiku.


***


"Zee, bagaimana keadaanmu?"


Nazeera duduk di sofa, "Baik." Balasnya singkat.


Wanita itu sudah berulang kali bersin. "Minum ini, aku tau badanmu hangat." Ucap Jaya menyodorkan segelas jahe.


Dia menerima gelas dari Jaya. Setelah berterima kasih, dia mengingat sesuatu. "Jay, Aku mau nanya, boleh ngak?"


"Hmmm." Ucap lelaki itu duduk di sebelah Nazeera menyilangkan kakinya.


"I-itu, foto yang di dalam, kenapa rata-rata dibalik?"


Jaya tampak berfikir, entah apa yang akan di ucapkan. Belum sempat menjawab, ketukan terdengar di balik pintu.


Dedi masuk ke dalam ruangan itu. "Jay, bentar lagi loe ada rapat di restoran Burongki." Ucapnya dan hanya mendapat anggukan dari Jaya.


Setelah itu, Dedi keluar. "Zee, kamu siap-siap. Kamu juga akan ikut." Ucap Jaya berdiri menuju ruang pribadinya.


Nazeera ingin mengatakan sesuatu, tetapi jaya sudah berdiri. Wanita itu ikut berdiri dengan sangat geram saat Jaya melewatinya. Dia mengangkat kedua tangannya yang terkepal. Dia merapatkan giginya.


Selalu begitu, tanpa meminta pendapat atau pun persetujuan.

__ADS_1


Nazeera meletakkan bokongnya kasar. "Jaya!!! Kau sangat menyebalkan."


***


Di restoran, mereka mencari meja yang ditempati janjian sebelumnya. Nazeera tampil dengan apik dan berwibawa, begitupula dengan Jaya.


"Ded, dimana mereka. Bukankah ini tempatnya?"


Seseorang melambaikan tangan ke arah mereka. "Itu dia." Ucapnya menunjuk ke arah yang memanggil.


Setelah sampai di meja, mereka saling menyapa lalu duduk. Mereka mulai membahas masalah kerjasama. Nazeera pamit ke toilet.


"Bukannya pemiliknya sendiri yang akan bertemu langsung? Kenapa sekarang hanya perwakilannya?" Tanya Jaya.


"Dia sedang berada di toilet Pak." Jawabnya.


Jaya tidak banyak berbicara, dia menyerahkan semuanya pada Dedi. Jaya merasa Nazeera sangat lama, membuatnya ingin menyusul.


"Kalian lanjutkan saja dulu, saya permisi sebentar." Ucap Jaya lalu berjalan menyusul Nazeera.


Dia mencari keberadaan Nazeera di toilet perempuan. Banyak para wanita heran melihat Jaya.


Sudah beberapa lama lelaki itu berdiri di depan toilet, tetapi wanita yang ditunggunya belum juga keluar.


Dia ingin kembali ke Dedi, mungkin wanita itu sudah berada di sana, begitu pikirnya. Langkah demi langkah Jaya lalui, dari kejauhan dia melihat seseorang yang dia kenal.


"Zee, kamu ngapain di sini? Cari cacing koin yang jatuh?" Ucapnya saat melihat Nazeera berdiam diri memeluk kedua lututnya di lorong yang sepi.


"Jay." Lirih Nazeera


"Kaki mu masih sakit? Hah?" Ucapnya mulai panik melihat Nazeera masih tak berdiri.


Wanita itu hanya menggeleng menundukkan wajahnya ke lutut. "Jangan berjongkok di sini, ntar ada yang lemparin kamu koin."


Jaya menarik nafas panjang memegang kedua bahu Nazeera. "Zee, sudahlah. Ayo berdiri." Ajaknya.


Jaya mengajak wanita itu ke tempat semula. Di sana sudah ada tiga orang. Satu orang membelakanginya sehingga tidak melihatnya.


Mungkin orang itu adalah pemilik yang akan di ajak kerjasama. Batin Jaya.


Lelaki itu memegang pundak Nazeera saat akan mendekati meja. Wanita itu hanya menatapnya tajam, tetapi Jaya tidak peduli.


"Selamat sore menjelang malam, Pak." Ucapnya menyapa.


Tiba-tiba Nazeera memundurkan langkahnya saat melihat wajah lelaki yang sangat tidak asing baginya.


Bersambung...


.


.


.


Jangan lupa memberi jejak yah berupa jempol dan komentar...


Bye Bye.


Natizen: Mau kemana Thor?


Author: Ngak kemana-mana. Ada pandemi jadi di rumah Aja.

__ADS_1


__ADS_2