
Tok tok tok
"Nazeera!!! Buka pintunya!!!" Teriak Jaya gusar di depan pintu.
Lagi-lagi dia mengacak kepalanya frustrasi.
Praakkk
Dengan sekali dorongan, Jaya sudah berhasil membuka pintu. Dia melihat Nazeera yang diam dan melamun. Air matanya masih saja menetes. Pecahan kaca berada di lengan kirinya.
Nazeera mengingat suatu pesan untuk tidak membunuh dirinya sendiri. Dia merenung, Jaya tak lagi bertindak sesukanya. Haruskah melakukan kesalahan ini?!
Jaya melihat wanitanya diam seperti orang yang sedang berfikir, Ingin bunuh diri tapi takut mati. Desah batin Jaya.
Dia langsung ikut berjongkok, menuntun Nazeera untuk berdiri lalu memeluk erat, menciumnya agar memahami bahwa Jaya sangat khawatir.
Nazeera diam tak berkutik atas pelukan rasa khawatir yang dilakukan oleh lelaki di dekatnya. Jaya menenangkan dirinya di dalam pelukan Nazeera, berharap wanitanya juga akan mendapatkan ketenangan dalam pelukannya.
Aku mohon, kamu jangan melakukan hal ini, aku sangat mencintaimu. Sangat!!! Aku takut kehilanganmu**. Lirih batin Jaya.
Jaya menempelkan kepala Nazeera di dadanya lalu dia mengusap cara berulang. "Nazeera, aku mohon untuk tidak membenciku. Aku sangat takut kehilanganmu. Aku sangat mencintaimu, relakan lah dia. Hiduplah bersama ku." Tuturnya.
Nazeera merasakan jantung pria dekatnya tak beraturan, benarkah dia sangat mencintainya? Sejak kapan? Bukankah dia selalu jail? Kalau memang mencintainya kenapa dia selalu saja membuat Nazeera jadi kesal?! Berbagai pertanyaan meliputi diri Nazeera sendiri.
Lama berdiam diri dengan posisi yang sama. Jaya meraba lengan Nazeera untuk mengambil pecahan kaca itu. Kemudian melemparkannya.
"Kamu jangan melakukan ini lagi yah?" Ucap Jaya lembut merapatkan lagi pelukannya.
Dipeluk seperti ini membuat Nazeera merasakan ada sesuatu yang menonjol di bawah sana, dia mendongak menatap mata cokelat milik Jaya, matanya tampak berkaca-kaca.
Jaya mengerti akan tatapan Nazeera, dia tersenyum lalu mengusap pipi Nazeera dengan kedua tangannya.
"Ingin sekali aku memakan mu sekarang. Besok kita menikah yah?" Tanya Jaya.
Nazera berangsur melangkah ke belakang, tetapi tangan Jaya masih mengikatnya dengan pelukan. Dasar mesum, bisa-bisanya dia berfikir begitu. Bicara flugar di depan bocil seperti ku. Rutuk batin Nazeera.
"Me-ngapa kamu tidak meminta maaf? A-aku sangat sangat takut." Ucap Nazeera lirih dengan suara serak sehabis menangis untuk mengalihkan pertanyaan Jaya.
Jaya mengangguk tersenyum. Menurutnya Nazeera selalu saja lucu, membuatnya semakin tak tahan ingin memilikinya. "Baiklah jika itu yang kamu inginkan. Maafkan atas sikap ku tadi. Aku berjanji untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama." Jaya kembali mengeratkan pelukannya.
"A-aku, tak bisa bernafas." Ucapnya gugup. Tak menyukai Jaya menempelkan dirinya. Sesuatu yang aneh selalu dia rasakan bagian bawah Jaya.
Tanpa meminta izin, Jaya menggendong wanitanya untuk menuju ke tempat tidur. Kemudian menelpon seseorang untuk mengurus dan membantu Nazeera mengganti pakaiannya yang basah. Setelah selesai, Jaya membawa Nazeera ke suatu tempat.
Kruk kruk kruk
Suara perut Nazeera berbunyi saat berada di dalam mobil, wajah Nazeera sangat malu. Ahh, sudahlah, lagian juga baik burukku dia sudah tahu.
Jaya tersenyum melirik ke arah wanitanya, Hahaha, kamu lucu sekali, dalam keadaan seperti inipun kamu tetap gengsi, sayang. Batin Jaya.
Nazeera semakin malu tak berani menghadap, Ini perut tak bisa di ajak kompromi apa, jangan sekarang lah bunyinya. Aku kan masih marah sama Jaya.
Nazeera pura-pura cuek karena perutnya selalu membunyikan tanda-tanda yang membuat orang malu. Menyibukkan diri dengan sebuah ponsel, mungkin itu adalah jalan yang terbaik, pura-pura acuh dengan kondisi sekarang.
"Kamu tidak ingin bertanya kita mau kemana?"
Nazeera hanya berdehem, sibuk dengan ponselnya. "Yasudah kalau kamu tak mau bertanya," Ucap Jaya melepas dasinya.
"Sekarang kamu tutup mata dengan ini!" Lanjut Jaya menyodorkan dasinya dan matanya fokus pada jalanan.
Nazeera mengerutkan keningnya, "Kenapa harus pakai ini?" Tanyanya bingung.
"Sayang, pakailah cepat!" Serunya, tetapi Nazeera menghiraukannya.
"Pakai ini atau aku perbuat seperti yang tadi!!!" Tegas Jaya.
Seketika mimik wajah Nazeera berubah pias, benarkah? Dia akan mengulangi hal yang sama? Bukan kah dia sudah berjanji?! Akhhhh, benar-benar lelaki tidak ada yang bisa dipercaya, baiknya dibuang ke laut aja. Runtuk batinnya.
Jaya menepikan mobilnya saat melihat Nazeera masih tak bergerak atas ancamannya. Nazeera melihat Jaya berhenti semakin gusar, dia mengambil kasar dasi yang ada di tangan Jaya.
"Sudah terlambat, sini aku pasangkan." Tutur Jaya mengambil dasi di lengan wanitanya.
__ADS_1
Nazeera diam tak bersuara, rasanya ingin keluar dari mobil. Tatapan Jaya tidak seperti biasanya. Atau mungkin dia yang kurang menyadarinya?! Pikiran Nazeera selalu menerawang hingga dia tak menyadari matanya telah tertutup.
Cup
Jaya mengecup sekilas pipi Nazeera, "Itu adalah hukuman buat kamu." Jaya tersenyum melihat raut wajah wanitanya.
***
Mobil telah tiba di tempat tujuan, Jaya membuka pintu untuk Nazeera, "Hati-hati."
"Sebenarnya kamu mau membawa ku kemana?"
"Bukan kah tadi kamu tidak ingin bertanya?"
Iya juga yah, aduhh perut ku kok jadi koslet begini.
Jaya tersenyum melihat Nazeera memegang perutnya. Mungkin saja karena lapar. Begitu pikirnya.
"Jay, aku belum mengambil tas dan ponsel ku." Kata Nazeera saat beberapa langkah jauh dari mobil.
"Aku mau mengambilnya, tapi harus ada balasan."
"Aku bisa sendiri mengambilnya dan membuka penutup mata sialan ini." Tutur Nazeera kesal.
"Jangan jangan jangan. Ok, kamu boleh saja membuka penutup mata itu, berarti kamu telah memberiku jalan untuk dirimu." Ucap Jaya tersenyum puas.
Nyali Nazeera menciut, Dasar Jaya brengs*k! Pekik batinnya.
"Gimana? Aku mau mengambilnya tapi harus ada balasan."
Hahaha, kenna kau Nazeera. Batin Jaya.
"Bagaimana bisa aku menghubungi bang Tamar jika kamu sedang menculik ku atau sedang memperkos*ku nanti?"
Jaya menoyor kepala Nazeera, "Di kepalamu selalu saja parno, bisa diganti ngak dengan yang lain?"
Nazeera menggerutu dalam hati, rasa-rasanya ingin pergi dari tempat itu sekarang juga. Namun apalah daya, Jaya tak pernah main-main dengan ucapannya sendiri.
Lagi-lagi Jaya menoyor Nazeera, "Jaya!!! Kamu bisa ngak sih berhenti menoyor kepalaku?!" Gerutunya mengusap kepalanya.
"Lagian kamu ada-ada saja siang-siang gini."
"Yaa, bisa jadi kan. Dari tadi kamu menutup mata ku hingga ketempat ini."
"Kalau kita bicara terus kapan sampainya." Tutur Jaya memegang pundak Nazeera untuk menuntunnya.
"Jay, aku ngak mau jalan kalau kamu tidak memberikan ponselmu."
Jaya menyerahkan ponselnya di tangan Nazeera, Bodoh!!! Biarpun kamu mengambil ponselku, kamu tidak tahu sandinya. Batin Jaya tertawa tapi tak bersuara karena kebodohan wanitanya.
"Terimakasih."
Nazeera memegang perutnya, Aduhh,, nih perut ngak kompromi dari tadi yah. Keluh Nazeera.
Jaya semakin mempercepat langkahnya agar lebih dekat lagi di tempat tersebut.
"Kita hampir sampai. Tenanglah sedikit." Ucap Jaya saat melihat Nazeera gelisah.
"Jay, ambilkan aku air donk. Haus nih."
"Yasudah, kamu tunggu di sini."
Saat Nazeera merasa Jaya sudah menjauh, dia kembali memuaskan dahaganya. Mengeluarkan angin tak segar dari lubang anus.
Tuuuttttt
Suara kentut yang di keluarkan Nazeera, "Huuufffttttttt, akhirnya keluar juga." Ucap Nazeera merasa puas.
Tak lama kemudian Jaya datang membawa segelas air.
"Jay, ganti donk dengan air yang ada es nya. Aku sangat haus." Ucap Nazeera saat mencicipi sedikit rasa air itu.
__ADS_1
Jaya tak protes, dia bersabar untuk mendapatkan kepercayaan dan kata maaf dari wanitanya.
Tuuuuuuut
Lagi-lagi Nazeera mengeluarkan dahaganya. Aduhhh, perut ku mules atau masuk angin yah. Ucap Nazeera memegang perutnya.
Jaya datang membawa air dingin pesanan wanitanya. "Kamu kenapa memegang perut terus?" Tanya Jaya.
"Kamu tadi tidak dengar sewaktu di mobil?! Perutku keroncong." Elak Nazeera dengan suara ketus.
Nazeera memegang perutnya, Aduhhh,, ingin keluar lagi.
"Jay, airnya terlalu dingin. Ganti dengan juz. Cepetan!" Titah Nazeera mendorong tubuh Jaya.
"Lahhh, kamu kan belum meminumnya. Kenapa kamu tau ini terlalu dingin." Protes Jaya.
Nazeera sudah tak tahan lagi, "Sudah, buruan. Sekarang!!!" Seru Nazeera dengan suara meninggi.
Tuuuuuuuuuuuuuuuut
Tembakan terakhir yang dikeluarkannya sangat panjang dan baunya sangat tajam.
Haaaahhhh, semoga ini yang terakhir. Malu tau jika beneran Jaya ada di dekatku. Baunya juga menyengat begini. Suntuknya pada dirinya sendiri.
"Nih." Jaya menyodorkan gelas di tangan Nazeera.
"Ini bau apa yah?!" Gumamnya.
Aduhhh, mati aku!!!
"Nih gelasnya, terimakasih." Ucapnya menyerahkan kembali gelas kosong kepada Jaya.
Jaya menyimpan gelas tersebut, "Zee, kamu ngak ngintip kan?" Tanya Jaya curiga.
"Ngintip bagaimana? Kamu juga mengikatnya kencang begini." Protes Nazeera.
"Yasudah." Jaya berada di belakang Nazeera. Bersiap-siap untuk membuka penutup matanya.
Jaya menghitung, dalam hitungan ketiga Jaya membuka penutup mata Nazeera.
"Surprise..." Ucap mereka bersamaan.
Wanita itu kaget menutup mulutnya. Mukanya sangat memerah karena malu. "A-amma sudah lama di sini?" Tanya Nazeera malu.
Amma tersenyum, "Iya nak. Sejak kentuk pertama."
Mereka yang berada di sana jadi tertawa, Jaya bingung atas sikap mereka. Dia mengerutkan keningnya. Sedangkan Nazeera sudah bersembunyi di belakang Jaya.
Bersambung...
.
.
.
wakwakwak. Hahaha.. Tutup muka pakai bedak glowing, untuk menutupi malu.
Assalamu'alaikum...!!!
Halo sahabat DN, Aku rindu loh dengan suara-suara kalian๐๐๐ค๐ค
Jan Lupa Vote like and komen yah๐๐
Aku padamu๐ค
Jan lupa juga mampir ke karya keduaku yah,
- Senior, Aku Padamu
SELAMAT MENANTI...!!!
__ADS_1