
Happy New Year π
.
.
.
βiya, aku rasa Amma belum tahu akan hal ini.β Yakin Dedi.
βHem, kalau begitu, kamu lakukan penyelidikan lebih awal di sana. Dan di sini saya akan mencari tahu siapa pelaku yang mengirim pesan itu.β Alber berbagi tugas.
Tamar menepuk pundak Alber bangga. βBekerjalah dengan bagus.β
Dring Dring Dring
Bunyi ponsel Dedi terdengar nyaring.
"Dari siapa?" Tamar menoleh ke Dedi menunggu jawaban.
"Dari asisten Jaya di negara X."
Batin Dedi bertanya-tanya, tumben asisten ini menelpon. Dengan hati yang penasaran, dia menjawab panggilan tersebut. Namun, sebelum menjawab, Tamar mengusir mereka berdua.
"Keluarlah, aku ingin istrahat."
Dedi dan Alber menunduk patuh. Mereka keluar dari ruangan itu.
"Ada apa?" Tanya Dedi tanpa basa-basi setelah menerima panggilan.
"Tu-tuan. Sebaiknya Anda segeralah ke negara X. Nanti akan saya jelaskan di sini."
"Kenapa?" Tanyanya dingin.
"Tuan, seseorang datang mengaku saudara, tuan. Dia menangis ingin bertemu dan memastikan berita kematian tuan Jaya."
Hah? Omg.
Dedi menepuk jidatnya. Dia sendiri bingung.
"Saya harap nyonya segera ke negara X dan mengurus perusahaan, tuan."
__ADS_1
"Baiklah."
Tok Tok Tok
Dedi kembali mengetuk pintu.
"Ada apa?" Ketus Tamar masih bersandar di kursi sambil memejamkan matanya.
"Tuan, saya mendapatkan laporan dari negara X. Dan saya hari segera ke sana."
"Terus?" Tanyanya masih tak bergeming di tempat.
"Ada seseorang yang mengaku sebagai keluarga tuan Jaya."
Mendengar itu, Tamar langsung membuka mata dan duduk dengan tegak.
"Coba kau ulangi!"
"Seseorang datang mengaku sebagai keluarga Tuan Jaya." Ujar Dedi lantang.
Tamar menutup matanya, dia berusaha mengingat kejadian beberapa tahun lalu.
"Kau tau Ded. Aku sendiri bingung dengan semua ini. Bagaimana bisa seseorang datang mengaku saudara Jaya?!"
"Tuan, kita tidak bisa langsung percaya sebelum adanya bukti. Oia, sebaiknya nona Nazeera segera mengurus perusahaan di negara X untuk menggantikan tuan Jaya."
Tamar menatap tajam.
"Maksud saya, bukankah segala kekuasaan milik tuan Jaya telah diatas nama kan oleh nona Nazeera? Jadi, biarlah sedikit demi sedikit belajar di sana."
Tamar tampak berfikir dan membenarkan ucapan Dedi.
Haaaahhhh.
Adik ku seharusnya sudah kuat sekarang. Apakah dia mampu menjalani ini semua? Perusahaan yang dimiliki oleh Jaya adalah perusahaan raksasa.
"Tuan... Anda tenang saja. Saya akan menyuruh seseorang untuk membimbing nona Nazeera saat tiba di sana." Dedi meyakinkan Tamar yang tampak ragu.
"Jika tidak dilakukan dengan pengalaman, maka kita tidak akan tahu kemampuan seseorang." Lanjutnya lagi menatap Tamar lekat.
Tamar mendengus, "Sepertinya kau banyak bicara hari ini."
__ADS_1
"Tidak tuan, maksud saya..."
"Keluar lah siapkan mobil. Aku ingin menemui Nazeera."
Dasar!!! Emang dia saja pusing?! Hello aku juga tuan. Aku merindukan tuan Jaya. Semoga Anda tenang tuan di alam sana.
***
Hari sudah malam, Nazeera sudah menekatkan bulatnya untuk berhenti menangisi orang yang telah tiada. Biarlah dia ditinggalkan oleh suaminya.
"Bi... Malam ini, bibi sudah bisa pulang."
Hena khawatir, bagaimana dia bisa meninggalkan majikan yang sakit?
"Saya tidak apa-apa, bi. Saya hanya ingin sendiri. Dirumah ini!" Lanjutnya lagi penuh penekanan.
Hena mendengus, walau bagaimanapun permintaan majikan itu adalah kewajiban yang harus dijalankan.
"Baik, Nona."
Bersambung...
.
.
.
Assalamu'alaikum wr.wb.
Lama tak berjumpa yah, bagi yang ingin melanjutkan kisahnya dan masih lupa-lupa ingat, silahkan scroll lagi yah.
Otor juga sama, lupa alurnya setelah beberapa hari Hiatus πππ
Jika ada yang salah nama dan alur, mohon dikomen yah.. maaf bila ada typo....
Jan lupa tinggalkan jejak like, vote, dan komen.spy lebih giat up, jadi berikan terus semngaaat yahπ€π€π€
'Aku Padamu'.
SELAMAT MENANTI....π
__ADS_1