
Satu kebahagiaan telah terlewati antara Jaya dan juga Nazeera.
Malam ini begitu indah. Berharap, malam-malam berikutnya akan selalu berakhir dengan indah.
Ditengah malam, melihat Nazeera tidur nyenyak, Jaya dengan hati-hati memindahkan kepala Nazeera di atas bantal. Kemudian pria itu mengambil ponsel di atas nakas. Kemudian keluar dari kamar untuk menghubungi seseorang.
"Aku mau ketemu sekarang, Loe dimana?" Jaya berucap dengan tenang.
"Baiklah... Gue ke sana sekarang." Setelah itu, Jaya mematikan poselnya kemudian keluar dari kamar. Pria itu membuka pintu pelan-pelan.
Tak tak tak
Suara langkah kaki menggema di keheningan. Rumah yang luas yang hanya dihuni oleh beberapa pemilik rumah. Rumah itu kebanyakan dihuni oleh para pelayan.
Ceklek
Jaya membuka salah satu ruangan di dalam rumah tersebut. Orang yang berada di dalam ruangan tidak terkejut sama sekali.
"Apa kabar, Zom? Gue pikir loe emang beneran udah mati." Sambut pria di dalam rangan itu.
"Enak aja. Loe emang mau gue mati? Ngebiarin adik loe jadi janda?"
__ADS_1
Tamar hanya cengar cengir saja mendengar penuturan sahabatnya.
"Duduk bro."
Jaya mengangguk, kemudian beralih ke sofa.
Keheningan tercipta diantara mereka. Kedua pria tampan nan gagah ini hanya melampiaskan kerinduan lewat tatapan tanpa ada embel-emel cipika cipiki. Tamar bersyukur, setidaknya kebahagiaan adiknya sudah dia dapatkan. Tanpa sadar bahwa rumah tangganya juga sedang berada di ujung jurang karena sikapnya sendiri.
Sebelum berucap, Tamar menarik nafas pelan. "Gue bersyukur, loe kembali. Gue gak tahu dan gak tega melihat Nazeera bersedih setelah keergian dirimu."
Jaya mengangguk, "Yang loe ucapkan emang benar. Gue juga bersyukur atas apa yang gue alamin. Setidaknya gue bertemu dengan keluarga baru, yaitu tuan Juventus dan istrinya. Meskipun, ya loe tau sendiri bahwa gue dimanfaatkan saja oleh mereka."
"Yah." Balasnya singkat. "Ngapa tadi loe gak datang di acara makan malam?"
"Gue harus bertemu klien." Balas Tamar acuh.
"Besok bunda akan pergi ke Jepang lagi untuk berobat. Gue harap loe masih bisa memberikan pengertian kepada Nazeera. Dia sampai sekarang belum tahu kalau bunda itu sakit kanker stadium akhir." Tamar berujar dengan mata yang berkaca-kaca.
Jaya terhenyak mendengar penuturan iparnya. Rupanya penyakit Raha sudah separah itu. Jaya memang mengetahui perihal penyakit Raha. Karena Raha pernah bertemu di negara X dan bertemu Jaya di sana, hingga mau tak mau, Raha menceritakan kebenaran tentang dirinya.
Jaya menepuk pundak sahabatnya memberikan dukungan dan semangat. "Gue yakin. Akan ada keajaiban Tuhan di akhir. Loe lihat kisah gue dan juga Nazeera. Gue aja merasa tidak menyangka akan dipisahkan oleh orang yang kucintai selama hampir setahun. Padahal, dulu walau gue di negara X, gue tetap pantau Nazeera lewat orangku." Jaya ikut bersedih. Memegang pangkal hidungnya karena air mata akan menetes.
__ADS_1
"Jika memang sudah jodoh dan masih ditakdirkan untuk bersama, gue yakin Tuhan akan kembali mempertemukan kami. Sekuat apapun mereka memisahkan aku dan juga Nazeera. Itu karena ikatan cinta gue dan juga jodoh gue yang ditakdirkan untuknya." Dan pada akhirnya lunturlah sudah pertahanan Jaya. Perasaanya terkalahkan oleh rasa haru.
Ini kali pertama Jaya menangis di depan sahabatnya, Tamar. "Gue dan Nazeera bertemu karena tuhan masih percaya untuk gue bisa menjadi imam dan pemimpin yang baik untuk wanita sebaik dirinya."
Tamar menjadi penyimak, harapan terbesarnya ialah semoga Jaya bisa membahagiakan adik tersayangnya.
"Gue percaya loe pasti bisa bahagiain Nazeera. Jodoh emang tak akan kemana, tetapi jika kita berjodoh dengan orang yang kita cintai itu adalah sebuah keberuntungan besar dari sang pencipta."
Mendengar penuturan Tamar, rupanya ini sudah akan semakin melow saja. Jaya menghentikan tangisnya. Karena Tamar sepertinya lebih melow daripada dirinya. Ada apa dengan Tamar?
...****************...
Hellow readersnya green...
Jan lupa like komen dan subscribe yah....
Ini masih berlanjut...
Maaf bila green br up lagi dikarenakan nyelesaiin study dulu...
igeh: greenteach21
__ADS_1