
"Tidak apa-apa nona." Dedi berusaha senetral mungkin.
"Oh Ded. Tahu kah kau, betapa bahagianya aku ini?" Nazeera terus berceloteh sambil tersenyum dan membayangkan pertemuannya.
"Aku saaangaat bahagia sekali." Nazeera memeluk dirinya sendiri. "Dari dulu aku sangat yakin sampai sekarang bahwa suami ku masih hidup." Nazeera menoleh, "Percayakah kau dengan yang namanya cinta, Ded?"
Dedi lagi-lagi memegang dadanya, mengapa sangat nyeri mendengar Nazeera menceritakan orang lain.
"Kau akan merasakannya nanti disaat kau jatuh cinta. Kau akan percaya terhadap apa yang kurasakan saat orang yang kau sayangi itu meninggalkanmu dalam kematian, tetapi hati kecilmu berkata bahwa orang itu masih hidup. Itu karena cinta, Ded." Nazeera mengingat betapa mirisnya kisah percintaannya.
"Dulu, aku sangat membencinya. Dari kecil aku sangat tak menyukai dirinya karena sering mengganggu ku. Tapi ternyata, tuhan menjodohkan kami. Dia mengobati rasa sakit ku yang dulu saat aku ditinggal nikah." Nazeera menghapus lelehan bening, dia sangat terharu. "Aku bahagia, Ded. Aku bahagia. Rasa bahagia ku ini tak bisa aku ucapkan dengan kata-kata saat mendengar dirinya benar-benar hidup."
Dedi masih menjadi pendengar yang setia. "Ded, jika aku bertemu dengannya, apa yang harus aku lakukan? Aku ingin memeluknya, namun aku takut dia kembali mendorongku seperti dulu."
tring
Lift terbuka. Mereka berdua keluar. "Ded... Apa yang harus aku lakukan?"
"Nona, kita tunggu sebentar dulu. Aku harus menelpon seseorang." Alasan Dedi. Dia mengambil ponselnya dan kembali masuk ke lift.
Nazeera melongo. "Ada apa dengannya? Beraninya dia mengabaikan ku."
Tak lama kemudian, Dedi datang membawa beberapa buah di tangannya.
__ADS_1
"Waddoww." Nazeera menepuk jidatnya. "Hehehe. Aku tidak memikirkan hal ini Ded. You are the best." Nazeera mengacungkan jempol de depan Dedi.
Dedi membawa buah-buahan untuk tuan Juventus. Tidak mungkin kan mereka datang dengan tangan kosong.
"Jadi kau turun untuk membeli ini? Tapi kenapa kau kembali dengan cepat?"
"Saya sudah memesannya nona sebelum masuk ke sini."
Nazeera mengangguk mengiyakan. Mereka berjalan di koridor rumah sakit. Hingga tiba di depan kamar tuan Juventus, Nazeera menarik nafas panjang.
"Bismillah." Gumamnya.
Tok tok tok
Ceklek
Deg
Mata netra mereka bertemu. Nazeera melihat Jaya, suaminya.
Canggung. Itulah yang terjadi.
"H_hay..." Sapa Nazeera mengangkat tangan.
__ADS_1
Jaya tak membalas, dia hanya membuka lebar pintu itu seraya mempersilahkan mereka masuk.
Merasa diabaikan, hati Nazeera merasa tercubit. sakit! Apakah Jaya belum mengingat dirinya?
"Selamat malam, tuan!" Sapa Dedi, karena Nazeera tiba-tiba jadi orang bisu.
"Sa-saya ke toilet dulu, tuan. Permisi!" Nazeera langsung keluar dari kamar tersebut. Rasanya ingin menangis. Pertemuan yang dia impikan, mengapa sangat menyakitkan. Bukannya tuan Juventus telah memberitahu Jaya yang sebenarnya. Tapi mengapa masih seperti itu reaksinya. Setidaknya dia membalas sapaan itu.
Nazeera berjalan menunduk melewati jaya yang masih berdiri diambang pintu.
"Hikz hikz hikz." Nazeera memukul dadanya. Mengapa sangat sakit?
Jika kau bertemu dengannya, kau harus kuatkan hatimu, jangan terlalu mudah membawa perasaan. Dia mengalami amnesia, jadi wajar saja jika Jaya masih belum mengenalmu. Abang yakin, kekuatan cinta kalian akan mengembalikan ingatan Jaya. Dekati dia. Jaya adalah orang yang baik.
Setelah puas mencurahkan isi hati Nazeera terhadap sang Abang, dia kembali menarik nafas.
Huft
Kembali memperjuangkan cinta.
Bersambung...
mohon maaf jika ada yang keliru.
__ADS_1
salam dri green..
igeh: greenteach21