Ditinggal Nikah

Ditinggal Nikah
Harus Dapat


__ADS_3

"Nona, anda kenapa sebenarnya dan cari apa? Apa anda baik-baik saja?" Onni memegang pelipis Nazeera.


"Aku baik-baik saja Onni." Ujarnya menghiraukan Onni yang masih tercengang. Dia menuju kamar mandi. Mungkin saja ada yang bisa dia dapatkan.


Hikz hikz hikz


"Aku harus dapat. Tapi kenapa tidak ada sama sekali..." Nazeera membongkar semua isi lemarinya.


Onni yang kebingungan langsung saja menuju ruang tamu untuk menelpon Tamar.


Tut tuut


Di lokasi Tamar.


"Aaw." Ringisnya saat di obati oleh Alber.


Jadi laki-laki kok Cemen banget.


Alber hanya bisa membatin.


"Ngapain loe natap gue seperti itu? Sudahlah!" Tamar menggeser tangan Alber yang berusaha untuk mengobati lukanya.


"Tidak ada Tuan."


"Gue jijik ma tatapan mu itu." Tamar bergidik.


Melihat Tamar yang sudah seperti biasa, Alber ikut senang. Artinya dia tidak menghandle pekerjaan sendiri.


Dring dring dring


Mendengar telepon berbunyi, "Oia, tadi nyonya besar menelpon anda di hp anda tuan."


Tamar menghentikan aktivitas nya. Dia menyimpan kembali handuk kecil itu di meja.


"Apa yang harus aku katakan padanya Al?" Tamar berusaha untuk menghadapi rasa bersalahnya. Dia memejamkan matanya sambil bersandar di sofa.


Dring dring dring


"Tuan, apakah panggilan itu sebaiknya diangkat saja?" Alber tahu. Jika di dalam ponsel Tamar itu hanya ada nomor keluarga yang boleh menghubunginya.

__ADS_1


Tamar diam, berusaha menetralisir perasaannya.


"Apakah saya harus menemuinya?"


"Tapi tuan, bagaimana dengan Miko?"


***


"Aduh, Tuan Tamar tak mengangkat lagi teleponnya. Telepon Dedi saja. Aku khawatir banget sama Nona Nazeera."


Di tempat lain, dimana Dedi berada ialah di perusahaan Jaya.


"Pak? Apa bapak ngak salah memberikan laporan ini semua?" Lika protes tentang pekerjaannya.


Karena Dedi membutuhkan sekretaris seperti Lika, oleh karenanya dia juga memboyong Lika ke tanah air.


"Kamu mau protes atau aku pecat?" Dedi menatap tajam Lika.


Orang yang di tatap menjadi kesal. Dia pergi sambil menghentakkan kakinya.


"Geeeerrrrr." Geram Lika. Ingin sekali rasanya dia mencabik wajah bosnya itu.


Dring dring dring


"Halo bi, ada apa?"


"Tuan, bisakah anda datang ke sini? Sepertinya nona Nazeera sedang tidak baik-baik saja."


Dedi memijat pangkal hidungnya. "Baiklah."


"Gantikan diri ku untuk menghadiri rapat sore ini." Ujar Dedi saat melewati meja Lika.


"Hah? Yang benar saja. Bapak, ini bagaimana sih, bukannya ini harus di selesaikan?" Lika sedikit berteriak pada Dedi yang sudah semakin jauh dan menghilang di lift.


"Gue santet loe."


Sekretaris yang biasa berada di sini Dedi dan juga Jaya sedang mengambil cuti melahirkan.


"Dah, lembur lagi kan?"

__ADS_1


***


"Ada apa bi? Dimana Nona Nazeera?"


"Di kamarnya tuan. Saya khawatir, karena nona menghamburkan semua barang di kamarnya."


Onni mengikuti langkah Nazeera.


Ceklek


Pintu terbuka.


"Aku harus dapat dimana? Apa saja yang harus dapat bukti."


"Nona. Apa yang anda lakukan?" Tanya Dedi saat tiba.


"Suamiku masih hidup Ded."


Dedi membuang nafas kasar, dia sudah menebak jika ini pasti menyangkut tentang suaminya. Setelah pertemuannya di negara X, Dedi juga memikirkan hal yang sama bahwa Al adalah Jaya. Namun, tak ada bukti yang kuat untuk itu.


Dedi memberanikan diri memegang tangan Nazeera.


"Nona, aku mohon. Tenanglah."


Melihat Nazeera yang rapuh, Onni berinisiatif mengambil minum di dapur. "Kasian sekali nona Nazeera."


"Suamiku masih hidup, Ded." Gumam Nazeera di pelukan Dedi.


"Brengsekk!" Umpat seorang pria yang tiba-tiba datang menerobos.


Bersambung...


ayo like dan komen.... n maaf bagia kalian yg komen tapi tak pernah aku jawab...


namun percayalah bahwa saya membaca setiap komentar kalian...


terimakasih...


maaf bila krya otot membingungkan... kalian bis out saja dan Jan memberikan komentar yg membuat otot menjadi down... 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2