
Assalamu'alaikum...............!!!!!
Halo pembaca setia 'Ditinggal Nikah', kalian sehat kan?
SELAMAT MEMBACA...!!!
Kejarlah setiap impian dan tujuan yang Anda inginkan melalui pendidikan terbaik yang tersedia.
.
.
.
***
Sebaiknya aku berkunjung ke rumah bunda dulu.
"Syah, sekalian yah kamu bayar SPP ku."
"Wokeh mba. Uang jalannya yah sekalian. Hehehe."
Nazeera ikut tertawa, manusia satu ini tidak pernah mau rugi. Siapa pun itu tidak ada yang mau rugi sih.
"Hati-hati yah." Ucapnya seraya memberikan uang kepada Asyah.
"Siap, Mba." Asyah memberi hormat.
Nazeera menggeleng, "Dasar, kamu itu yang udah besar tapi masih saja kekanak-kanakan." Ucapnya menoyor kepala Asyah.
"Iidiiihhh. Baru aja dipuji. Malah di Toyor." Gerutu Asyah.
"Aku mau langsung pulang aja. Kamu jangan lupa menguncinya. Assalamu'alaikum."
"Iya Mba. Wa'alaikumussalam."
***
Nazeera sudah menelpon Onni bahwa dia akan kembali ke rumah bundanya.
"Assalamu'alaikum, Bunda, Ayah. Zee kembali." Ucap Nazeera sedikit berteriak saat berada di ruang tengah tetapi tidak ada orang.
"Kok tidak ada orang yah. Para pelayan juga. Mereka pada kemana?"
Nazeera menelpon Tamar untuk menanyakan kemana para penghuni rumah ini.
"Zee, Abang masih kerja. Ayah ada urusan di negara Y. Jadi bunda juga ikut."
"Yahh, sia-sia donk aku ke sini, bang."
"Tidak sia-sia sayang. Sudah yah aku lagi sibuk."
"Abang tunggu dulu. Itu suara musiknya kencang banget. Abang lagi dimana sekarang?"
"I-ini lagi... Akh sudahlah anak kecil dilarang kepo."
"Abang ku yang ganteng, sebelum bertanya dilarang maka saya akan tetap bertanya."
"Yasudah. Kamu tulis pertanyaan mu di lembar soal. Terus berikan pertanyaan mu pada anak didik mu." Tamar terkekeh.
Nazeera berdecak, "Abang yang ketularan gilanya Jaya. Abang pokoknya pulang sekarang. Titik!!!" Serunya mematikan telepon.
"Seharusnya yang ku telepon bunda bukan dia."
Nazeera menelpon sambil berjalan menuju kamarnya. "Duhh, bunda ngak angkat. Coba Ayah deh."
Tidak ada yang mengangkat panggilannya.
Nazeera menyimpan tasnya dan masuk ke dalam kamar mandi. "Gerah banget."
***
Setelah selesai mandi, Nazeera berbaring di tempat tidur, Bunda ada apa yah? Kok aku masih terbayang sama mimpi itu.
__ADS_1
"Sudah ah... Itu kan hanya mimpi."
Wanita itu berjalan menuju dapur karena merasa haus.
"Non, saya siapin makan yah." Ucap pelayan saat melihat Nazeera.
"Ngak usah Bi, Terimakasih."
"Bi, akhir-akhir ini gimana kesehatan bunda?" Tanyanya menuangkan air.
"Ohh, itu Non. Nyonya sepertinya lagi kurang sehat. Kemarin saya tidak sengaja mendengar..."
"Mendengar apa, Bi?" Tanya Nazeera menutup kulkas.
"I-itu Non. Kalau Nyonya lagi sakit. Tapi lupa namanya, Non."
Perasaan Nazeera jadi hancur saat mendengar kabar buruk. Badannya gemetar gelas yang digenggam hampir saja terlepas. Kakinya terasa lemas.
Tak terasa, air mata kembali membendung di wajah cantiknya.
"Bi? Ada apa?" Tanya Tamar yang baru saja tiba.
Pelayan itu menjadi sangat panik, "Itu Tuan. Nona Nazeera bertanya tentang keadaan Nyonya."
Tamar berdecak, dia lupa memberitahu kepada pelayan agar tak membuat Nazeera khawatir.
Praakkk
Suara gelas jatuh, tubuh Nazeera akhirnya jadi limbung.
"Zee. Bangun." Tamar menepuk pipi wanita itu.
"Sial." Umpatnya kesal.
Pelayan itu semakin ketakutan, dia awalnya tidak ingin memberikan informasi tersebut. Tetapi karena dia tidak terbiasa berbohong, jadi dia ungkapkan sesuai kenyataan.
"Minggir." Tamar menggendong tubuh Nazeera.
Baru beberapa langkah dia berbalik, "Jangan ulangi kesalahan yang sama." Tekan Tamar.
"CEPAT!!!" Bentak Tamar.
Pelayan tersebut kaget. Tamar melanjutkan langkahnya menuju kamar Nazeera.
"Zee, bangun!!!" Tamar menatap wanita itu sedih dan terpukul.
Tak lama kemudian pelayan membawakan fresh care. Tamar mengambilnya lalu memberikan di hidung Nazeera.
"Hubungi dokter." Titahnya kepada pelayan itu.
Tamar merenung mengingat kejadian beberapa jam yang lalu.
***
Kejadian di Mansion
"Bunda, kamu anggap apa aku ini hingga menyembunyikan penyakit ini? Hah?!" Tamar menangis merasa tak dianggap oleh ibu kandungnya sendiri.
"Nak, bunda hanya tidak ingin membuatmu merasa khawatir."
"Asal bunda tau, aku sekarang menjadi anak yang bodoh hingga penyakit ibu ku sendiri aku tak ketahui."
"Nak..." Raha sang ibunda berusaha meraih tangan Tamar.
Tamar menghindar, "Bunda, aku sakit mengetahui hal ini dari orang lain. Mengapa bukan bunda sendiri yang memberitahu aku?! Aku merasa aku bukan anak bunda."
Tamar sudah terbawa emosi hingga tak bisa berfikir jernih. Dia meninggalkan sang bunda yang masih berusaha untuk menjelaskan dan meminta maaf.
Tamar mengusap kepalanya kasar, "Haaaahhhh." Desah Tamar.
"sekarang aku bertanya-tanya apakah aku anak bunda atau tidak. Aku seperti orang lain di keluarga ku sendiri. Ini adalah hal yang besar, bagaimana nanti jika Nazeera tau juga dari orang lain bagaimana perasaannya. Apakah kami adalah orang lain?"
Tamar berdiri membelakangi sang bunda, "Nak, bunda hanya tak ingin kamu terbebani."
__ADS_1
"BUNDA!!!" Bentak Tamar.
"Asal bunda tau, sekarang aku merasa anak yang durhaka,"
hikz hikz hikz
"Aku yang seharusnya merasa terbebani."
Raha memutar pundak Tamar lalu memeluknya. Mereka menangis bersama.
"Maafkan bunda, Nak. Kumohon kamu jangan mengatakan ini kepada Nazeera." Pintanya seraya mengusap kepala Tamar.
"Mengatakan apa, Bun?" Tanya seseorang yang baru saja masuk.
"Ayah." Ucap mereka bersamaan.
"Kalian sedang berbicara apa?" Tanya Mise.
Tamar melepaskan pelukannya dan menghapus air matanya. "Ngak apa-apa, Ayah."
"Aku hanya rindu bunda tapi bunda malah memberiku ceramah anak cacing. Yang entah siapa induk dan bapaknya. Beda ayam, saat baru menetas langsung tau kalau itu induknya, lah cacing aku juga ngak tau siapa induk dan bapaknya."
Mise memegang pangkal hidungnya menggeleng. Dia pikir apaan yang mereka bahas.
Raha terkekeh mendengar elakan dari anak sulungnya, "Yasudah kamu istirahat."
"Iya bunda." Tamar mencium pipi bunda dan juga ayahnya secara bergantian lalu keluar dari ruangan itu.
***
Di kamar Nazeera
"Zee, kamu harus sadar. Jangan membuatku semakin terluka."
"Dokternya kemana sih, lama banget." Gusar Tamar.
Dia mengacak kepalanya frustrasi.
"BIBI...!!!" Teriak Tamar.
Bersambung...
.
.
.
Maaf yahh yang udah menunggu tapi yang di tunggu tak kunjung datang. Tapi sekali datang langsung cerocos tak tahu arah tujuan..
Jadi gini, beberapa terakhir ini emang sibuk banget. Jadi blm sempat up jadinya libur...!!!
Aku sibuk ngurusin wijen, dan baru selesai kemaren malam. Sekalian yang mau beli wijen Jan lupa hubungin gue aje yeh😌😂🤣🤣.
Yang masih penasaran sama cerita Nazeera, bersuara donk. Supaya otor jadi semangat jua🤣🤣
Guys, gue mau nyanyi nih,
Suara dengarkan lah aku.
Apa kabarnya pujaan hatiku
Aku di sini menunggunya
Masih berharap di dalam hatinya
Natizen: yaelah toor, itu mah bukan nyanyi namanya toor, itu kamu ngetik.. Mana ada tulisan bisa di denger?!
Tor: Yudh, lu investasi kan aja suara lu lemon.
Natizen:😌😣😑 Jan lama-lama up lagi tor.
tor: itu mah tergantung
__ADS_1
Natizen: tergantung dimana tor?
tor: itu mah tergantung dukungan dan semnagat dari kalian zeyeeeeeeeeeeeeng😑