
brugh
Dedi terpental ketika pukulan pria itu melayang.
"Abang?!" Nazeera marah karena menurutnya Tamar memukul orang yang tak bersalah.
"Apa yang kamu lakukan, bang?" Nazeera membantu Dedi untuk berdiri.
Tamar tidak menyukai jika Dedi selalu memberi perhentian kecil. Padahal dia sendiri kan yang menyuruh Dedi untuk menjadi asisten pribadi Nazeera setelah Jaya. Terus, salahnya dimana coba?
"Ekhem..." Tamar menormalkan emosinya. Dia memang over posesif jika menyangkut Nazeera.
"Lepasin tangan kamu darinya!" Titah Tamar.
Nazeera spontan melepaskan tangannya. Dedi semakin dibuat tak karuan, padahal dia pernah melakukan kesalahan yang sama saat di negara X, yaitu memeluk Nazeera layaknya seorang pasangan dan alhasil, Tamar mengetahui itu, tetapi tidak mendapatkan tonjokan seperti ini. Nasib nasib. Yang sabar yah Ded... hehehe. Maapkan otor, selalu menempatkan mu di tempat yang salah.
"Zee... Kamu kenapa sih sebenarnya?" Tanya Tamar. Mereka sedang menuju ruang tamu untuk berdiskusi.
Mendapat pertanyaan seperti ini, membuat Nazeera mengingat kejadian beberapa menit yang lalu.
"Bang... Suami ku masih hidup!"
Tamar diam. Dia masih mencerna kata-kata dari Nazeera. Apakah Nazeera sudah mendapatkan asal usul tentang Aldebaran? Apakah Dedi tidak memberikan profil tentang Aldebaran?
"Tuan..." Panggil Dedi ingin bergabung.
Tamar menoleh, "Maafkan saya tuan, saya memang tidak memberikan informasi itu kepada nona Nazeera." Lanjut Dedi seakan tau apa yang dipikirkan oleh Tamar.
__ADS_1
Nazeera mengernyitkan alisnya bingung. "Maksudnya apa bang?"
"Sebaiknya kau berhenti mencari tahu tentangnya. Orang yang kamu maksud bukanlah Jaya."
"Bang!!!" Bentak Nazeera. Dia berdiri.
"Jika Abang kesini hanya untuk itu, sebaiknya Abang pergi dari sini." Rasanya ingin menangis saja. Baru saja dia mendapatkan informasi tentang Jaya bahwa dia masih hidup. Namun, harus memiliki bukti yang lebih kuat untuk meyakinkan dirinya dan juga sebagai bukti pada dunia.
"Kamu mengusir Abang? Hah?"
"Habisnya Abang ngeselin." Nazeera kembali duduk di kursi.
Tamar menelpon Alber untuk segera datang di rumah Nazeera.
"Maafkan saya tuan, saya terlambat." Alber terlambat 20 menit dri yang diperintahkan.
Dedi bergelayut dengan pikirannya menatap Alber penuh makna. Ingin rasanya dia tertawa. Ternyata bukan cuman dirinya yang menjadi Aladin dadakan.
"Ada apa?" Bisik Alber geram memperhatikan Dedi yang nampak menahan senyum.
Dedi mengatupkan bibirnya. Kemudian menghadap ke yang lain. Berpura-pura untuk tak mendengar.
****
"Apakah masih mimpi buruk lagi, nak?"
"Iya ayah... setelah pertemuan dengan rekan kerja ayah itu, aku selalu mimpi buruk. Mimpi gak jelas."
__ADS_1
"Nih, minum dulu."
Tuan Juventus memberikan sebuah cincin. Didalamnya terdapat nama Nazeera.
Uuhuk uhuk
Tuan Juventus memegang dadanya. Beberapa hari yang lalu, istrinya dinyatakan meninggal dan setelahnya keadaan tuan Juventus menurun.
"Ayah, jika sedang sakit kenapa harus masuk ke kamar Al. Jauh lagi." Gerutu Al.
"Sebaiknya ke kamar ayah saja."
Tuan Juventus tersenyum. Inilah yang disukai dari anaknya. "Ayah ke sini hanya ingin memberikan cincin ini padamu. Mungkin kamu sudah sehat. Sebaiknya aku memberitahukan mu tentang sebuah kebenaran nak sebelum terlalu jauh."
Aldebaran memainkan cincin itu, tak sengaja dia menemukan satu nama di balik cincin tersebut.
NAZEERA
Bersambung...
Terimakasih buat para readers DN... lope u pull dah dari green.. jika bukan karena kalian, aku gak akan up...
banyak dari green yg pembacanya goib...
hehehe..
sabar yah readers... bentar lagi kok, jaya bangkit dari kubur.
__ADS_1
igeh: greenteach21