Ditinggal Nikah

Ditinggal Nikah
Maya


__ADS_3

"Apa yang kau lakukan dengan Nazeera?" Tanya pria itu.


Jaya sangat serius bermain ponsel, tanpa sadar seseorang telah duduk di hadapannya.


Dia melirik sekilas lalu mencibir.


"Apa urusanmu? Dan apa hakmu?" Tutur Jaya.


"Jangan kamu menyakitinya, cukup aku yang menyakitinya. Kamu jangan! Berat!" Tegas pria itu.


Jaya mengerutkan dahinya, "Apa urusannya denganmu? Apakah dia milikmu? Bukankah aku sudah jelaskan sewaktu bertemu di restoran Barongki dan juga sudah di jelaskan dalam surat kontrak itu?" Ucap Jaya mengingatkan.


Ya, orang itu adalah Akhyar.


"Apakah kamu melupakan poin itu?" Lanjut Jaya mencibir.


Akhyar termenung mengepalkan tangannya, wajahnya memerah menahan amarah.


"Sudahlah kamu pergi dari hadapanku sekarang. Jangan suka menganggu urusan orang lain." Serunya menatap ponselnya.


"Aku tegaskan sekali lagi, jangan kau menyakitinya. Jika kamu lakukan itu, Maka aku juga tak akan segan-segan untuk merebutnya darimu."


Jaya tersenyum mengejek, "Lalu apa yang kau lihat? Bukankah kamu menyaksikannya sendiri bahwa aku menyakitinya? Lalu apa yang kau lakukan? Kamu hanya datang ke sini sekedar memperingatkan. Itu tidak akan mempan untuk bocah ingusan seperti dirimu."


"Jika kamu datang ke sini hanya untuk memperingatkan posisiku, aku sudah tahu jauh sebelum kamu datang menemuiku sekarang!"


"Dan kau." Menunjuk Akhyar.


"Jangan pernah melupakan apa yang telah kau tandatangani di kontrak itu."


Jaya menerbitkan senyum puas dengan ide Dedi. Memasukkan hal pribadi dengan pekerjaan memang sangat menguntungkan baginya saat ini.


"Aku akan membalas mu di saat kontrak itu sudah selesai!" Geram Akhyar.

__ADS_1


"Hahaha, apakah kamu yakin saat itu Nazeera masih mencintai mu dan akan kembali kepadamu?" Ejek Jaya lagi.


Dari kejauhan, seorang wanita yang memperlihatkan mimik wajah para lelaki itu.


Akhyar mengerang frustasi, dia yakin bahwa Nazeera sangat mencintainya. Tetapi cintanya tak bisa dia dapatkan karena ada seseorang yang sebentar lagi akan menjadi status sebagai istri sahnya, 'Ny. Akhyar'.


Apakah benar saat itu Nazeera masih mencintainya? Lalu bagaimana dengan Maya? Aaaahhhhh sungguh kehidupan yang menjengkelkan.


"Tapi kamu jangan kasar padanya, aku saja selama jalan dengannya tujuh tahun tidak pernah kasar padanya." Ujar Akhyar bela diri.


"Hey, apa yang kau katakan? Apakah aku salah dengar? Kamu bilang kasar? Tahukah kau bahwa luka sakit hati lebih sakit daripada luka fisik?"


Akhyar memperbaiki posisi duduknya, sepertinya berada di dekat calon mantannya adalah pilihan yang salah. Lagi-lagi dia emosi.


Tangannya masih terkepal.


"Jika kamu ingin merebutnya dari ku, maka silahkan kamu lakukan itu sekarang!" Seru Jaya santai.


Akhyar masih diam, "Mengapa kamu diam? Takut akan kontak itu?" Cibir Jaya lagi.


Jaya menyandarkan punggungnya di sofa, "Enyahlah kau di hadapanku. Jangan pernah muncul lagi jika hanya menyangkut tentang calon istri ku." Tekan Jaya menekankan kalimat terakhirnya.


Akhyar berlalu dengan emosi dan kepala yang seakan mendidih, dia melewati seorang wanita yang sedari tadi memperhatikannya.


"Mas, apakah kamu baik-baik saja? Kamu mau kemana?" Tanya Maya khawatir.


Akhyar hanya berlalu, tidak memberikan jawaban dari calon istrinya itu. Maya menatap punggung Akhyar sedih. Perasaannya sudah lebih sensitif dari biasanya.


Akhyar tidak peduli dengan itu, yang dia inginkan adalah tempat untuk meluapkan semua emosi, keluh kesah, gundah, perasaaan sedih yang dia rasakan saat ini.


Dia berjalan menuju toilet, hanya tempat itu yang bisa dijadikan sebagai pelampiasan.


Praakkk

__ADS_1


Akhyar memukul dinding dengan keras, dia meluapkan emosinya dengan melukai dirinya. Tidak peduli dengan tangannya yang mulai terluka, mengeluarkan darah segar.


Mata Akhyar tampak berkaca, badannya gemetar menahan tangis.


"Maafkan aku. Hikz hikz hikz. Ada alasan mengapa aku melakukan ini." Akhyar menangis.


Berulang kali dia mengacak kepalanya frustrasi. Untung saja tidak ada yang memasuki selain dirinya. Jika ada yang melihatnya maka mereka akan menganggap bahwa Akhyar tengah gila, hanya karena permasalahan wanita hingga dia tidak bisa menyikapi dirinya.


Benarkah cinta itu membuat orang gila? Yang pastinya, hanya orang yang pernah merasakan jatuh cinta yang tahu jawabannya. Hehe.


Tuuuuuuut tuuuuuuut tuuuuuuut


Panggilan terhubung, tetapi yang dihubungi juga belum merespon.


"Akhyar kemana sih?" Gumam Maya.


"Kenapa dia tidak menjawab ponselnya, aku sudah menunggunya di sini sudah lama."


Maya mulai sedih memikirkan semua kenangan yang dulu dia bangun bersama Nazeera.


Mas Juan, kenapa kau meninggalkanku? Aku sangat merindukanmu. Aku butuh sandaran sekarang.


Perasaan sedih tengah meliputi hati Maya. Dia berjalan menuju taman dekat hotel. Pikirannya sedang bercabang, memikirkan keharmonisan sahabatnya apalagi dengan hubungannya dengan Akhyar.


*Tuhan, apakah ini adil bagiku? Aku benci nasibku yang seperti ini. Mas Juan, kamu tega meninggalkan ku dalam keadaan seperti ini.


Hikz hikz hikz*


Maya duduk di kursi taman, pikirannya menerawang. Tangannya menutup wajahnya.


"Aku sangat merindukan kehadiran mu Mas. Sangat!" Lirih Maya.


Memikirkan Nazeera yang mungkin membencinya, memikirkan Akhyar yang sebentar lagi akan menjadi suaminya. Seharusnya dia bahagia akan hal itu.

__ADS_1


Tetapi mengapa sangat sulit, apakah dengan Maya tiada akan memberikan jalan yang terang tanpa penghalang bagi Akhyar dan juga Nazeera? Iya! Mungkin dengan dia tiada akan membuat Akhyar tak lagi memilihnya dengan alasan yang sama. Begitupun dengan Nazeera, dia akan kembali lagi bersama Akhyar.


"Mas Juan, aku benar-benar merindukan mu." Gumam Maya memeluk foto Juan.


__ADS_2