Ditinggal Nikah

Ditinggal Nikah
Ajak Aku Hijrah


__ADS_3

"Loe ada masalah?" Tanya Mitha saat bertemu.


"Ngak." Ucapnya mengelak.


"Yasudah, gue bawa loe ke suatu tempat buat menyelesaikan masalah." Ucap Mitha semangat.


"Terserah kamu."


Setelah tiga puluh menit perjalanan, Mitha telah tiba di sebuah pantai. "Hehe, loe yang bayar tiket masuknya yah." Ujar Mitha malu.


Nazeera tersenyum menggeleng, "Yasudah, sebagai permintaan maaf aku waktu itu." Ucapnya.


"Hem, terserah loe, asal jangan hitung sebagai utang yah. Awas loe." Ancam Mitha dengan tawanya.


Setelah selesai membayar, mereka memasuki tempat tersebut. "Kamu ngak kerja?" Tanya Nazeera.


"Kerja."


"Kerjaan kamu apaan?"


"Menghabiskan uang."


Nazeera menoyor kepala Mitha, "Haha, itu mah bukan pekerjaan namanya."


Mereka duduk selonjoran di bibir pantai, menikmati panasnya matahari dan hembusan angin yang membawa dalam ketenangan.


"Kenapa loe murung?" Tanya Mitha.


"Loe boleh kok cerita ke gue." Lanjutnya tersenyum.


"Sok tahu kamu. Apa yang kamu tahu tentang diri ku?"


"Hahaha, kamu meremehkan ku." Ucap Mitha tersenyum simpul.


"Kadang aku ingin menjadi burung yang di sana." Tunjuk Nazeera ke arah objek yang dimaksud.


Mitha menoleh, "Kenapa?"


"Aku ingin terbang ke sana dan ke mari, menghilangkan penat!" Ucapnya tersenyum simpul.


Mitha menopang tangannya kebelakang, "Sedangkan burung yang ada di sana juga menginginkan hal yang sama, dia ingin menjadi manusia." Mitha memandang objek yang sama.


"Manusia emang ngak ada puasnya. Diberi ini mau itu, diberi itu mau ini." Mitha menarik nafas.


"Loe bersyukur memiliki kehidupan yang berkecukupan. Sedangkan gue, gue harus kerja keras buat sebiji beras."

__ADS_1


Nazeera mengingat Amma dan apartemen. Memang selama ini jika ada keinginan hatinya yang tak terpenuhi, selalu ditanggapi dengan keegoan. Benarkah dia termasuk di dalamnya? Orang yang kurang bersyukur?


Dia kembali mengingat sewaktu Jaya men*amah tubuhnya. Akhh, aku malu pada Tuhanku. Aku malu pada diri ku. Belum ada solusi untuk diri ku. Karena keegoisan ku akan kenyataan dan keinginan.


"Aku sudah tidak suci lagi, apa yang perlu disyukuri? Harta tak membeli kesucian itu lagi." Ujar Nazeera membuka suara.


Mitha menatap lekat wajah Nazeera yang pandangannya lurus ke depan, "Bahkan pezina pun Allah mengampuni-Nya."


Nazeera menoleh, "Beneran, loe ngak tau?! Hem, gue aja selalu dapat kajian ini di pak ustadz." Ujar Mitha mengingat guru yang mengajarnya.


"Hahaha, aku masih awam soal agama. Yang aku tahu, mengucapkan dua kalimat syahadat, sholat, zakat, puasa, terus naik haji bagi yang mampu." Tuturnya.


"Hahaha, itu mah rukun Islam." Ucap Mitha dengan terbahak.


"Iya, cuman itu yang aku tahu. Hahaha. Aku masih awam." Ucapnya sekali lagi.


"Tapi sekarang aku ngak tau kenapa, aku merasa malu dengan diri ku dan Tuhan ku tiap kali ingin menghadap." Lanjutnya terus terang.


"Loe masih bagus, gue cuman taunya sholat aja." Ucap Mitha tertawa lagi. Menurutnya sangat lucu, ternyata bukan cuman dirinya yang bodoh mengenai hal-hal ketuhanan.


"Dan pakai kerudung bagi mereka yang mau dianggap alim." Lanjutnya kemudian diam.


"Dulu sebelum gue ikutan kajian, gue paling terdepan ikut membuli mereka, apalagi yang memakai cadar aku bilang kura-kura ninja. Tetapi setelah ikutan kajian, aku tarik kembali kata-kata ku, ternyata ilmu ku yang masih dangkal akan hal itu. Sekarang gue yang malu kepada diri ku sendiri jika melihat mereka yang sudah mampu menutupi aibnya dengan pakaian yang lengkap, beda dengan gue, gue yang memakai pakaian yang kurang bahan." Ucapnya tersenyum simpul.


"Awalnya gue ikut kajiannya hanya karena dia tampan dan mampu memikat perasaan gue, tapi lama-kelamaan perasaan itu hilang dengan sendirinya. Melainkan fokus pada materinya."


"Hahaha, gue belum mampu beli. Uang gue cuman cukup beli beras, bayar kontrakan, selebihnya gue tabung buat beli baju yang aku inginkan dan juga kerudung." Ucapnya semangat.


"Aku cuman punya satu kerudung dan baju yang layak untuk dipakai saat kajian. Makanya saat keluar rumah yahh begini," Memperlihatkan dirinya.


"Adapula mereka yang mencemooh bahwa aku ikut karena ustadz nya ganteng padahal emang iya." Lanjutnya kemudian tertawa.


"Hahaha, aku benar-benar orang yang kurang bersyukur. Aku punya segalanya tetapi lupa untuk bersyukur." Ucap Nazeera dengan mata berkaca-kaca.


Mitha memegang pundak Nazeera, "Gue pernah ada di posisi loe." Tutur Mita memberi semangat.


"Orang tua ku menyuruh ku menikah dengan orang itu." Ujar Nazeera dengan pandangan nanar.


"Orang itu tidak inginkan, dia adalah sahabat kakak ku. Haha dialah yang menj*mah tubuhku. Aku tidak menginginkannya, dia lebih pantas menjadi om ku." Tuturnya mengeluarkan unek-uneknya.


"Boleh jadi, apa yang loe inginkan bukan yang terbaik buat loe dan boleh jadi apa yang loe ngak inginkan itu terjadi karena itu adalah yang terbaik buat loe." Mitha memberikan sepatah kata mutiara untuk temannya.


Senyum simpul kembali terbit di wajah Nazeera, "Aku senang sama kamu. Sepertinya kita bisa jadi sahabat."


"Iya, tapi saran aku sebagai sahabat loe, sebaiknya loe terima keinginan orang tua loe sendiri, selagi masih hidup. Daripada gue, gue sudah ngak punya siapa-siapa lagi selain Abang gue."

__ADS_1


Nazeera tampak memikirkan kata-kata Mitha, Sepertinya yang dikatakan Mitha benar, selagi bunda masih hidup, aku harus menjadi anak yang baik. Termasuk menikahi Jaya.


"Cinta itu unik, tak tahu kita mencintai seseorang karena apa. Hahaha, kadang gue heran sama diri gue sendiri, liat yang cakep-cakep gue udah kepentok." Mitha mencairkan suasana, dia mengetahui bahwa dia dijodohkan dengan orang yang tak dia sayangi.


"Tanamlah kembali cinta, kemudian loe pupuk jangan biarkan dipetik orang lain lagi. Loe bisa kok pacaran setelah menikah dengan om yang kamu maksud. Hahaha."


Prak


Nazeera memukul lengan Mitha, "Hahaha, gue benar kan?"


"Hem, terimakasih buat hari ini Mit." Ujar Nazeera tersenyum senang.


"Gue mau ajak loe dengan kajian pak ustadz ganteng itu. Gue yakin loe bakal tertarik sama dia." Ajak Mitha.


"Yasudah, kapan-kapan kita kajian bareng. Aku juga mau belajar ilmu agama, tapi kadang aku malu dengan anak-anak yang lainnya."


"Hahaha, di sana bukan cuman anak-anak doang Na, bahkan nenek-nenek juga di sana ikut kajian."


"Oh yah?! Aku benar-benar tak tau diri. Hal sepele pun aku tak tahu karena jarang menginjakkan kaki di masjid, paling cuman di rumah doang." Lirih Nazeera.


Nazeera kembali mengingat kado yang Amma berikan kepadanya, itu adalah sepasang baju dan juga kerudung untuk menutupi tubuh sebatas dada.


"Ajak aku hijrah bersama mu Mit." Sambung Nazeera.


Bersambung...


.


.


.


Assalamu'alaikum...


Halo gesss,,, hari ini up dua Pepsodent 💕💕🤗🤗


SELAMAT REHAT AKHIR PEKAN...!!!


terimakasih yang sudah mendukung Nazeera sejauh ini..


Jan lupa vote like dan komen...


mampir ke karya kedua ku yah


- Senior, Aku Padamu

__ADS_1


SELAMAT MENANTI...!!!


__ADS_2