
Assalamu'alaikum...
Halo pembaca setia Ditinggal Nikah 🤗🤗
Selamat membaca❤️💕
"Kemarin aku pintar, jadi aku ingin. mengubah dunia. Hari ini aku bijaksana, jadi aku mengubah diriku."
.
.
.
***
Nazeera ikutan mabuk, dia diam-diam mengambil minuman saat Tamar dan yang lain tengah asyik bermain kartu. Entah setan apa yang merasukinya hingga dia ikut mineguk minuman tersebut.
"Aduhh, Zom gimana nih? Nazeera mabuk."
Zombi adalah panggilan untuk Tamar.
"Udehh. Gak apa-apa, lanjut ngak nih?"
Dedi sudah lama terkapar di atas sofa setelah mabuk. Dia memang sangat lemah dan mudah mabuk. Meskipun begitu, itu bukan pantangan baginya untuk tidak meminumnya.
"Mana janjimu, sekarang kau campakkan aku." Gumam Nazeera saat tengah mabuk.
Di tempat itu, hanya Jaya yang tidak menyentuh minuman tersebut. "Sudahlah bro, sekarang sudah hampir jam sebelas." Jaya meletakkan kartu terakhirnya.
Wajah Tamar, Dedi, dan juga Jaya sudah penuh dengan warna hitam.
"Hahahah. Bro tunggu dulu, gue mau foto." Jaya mengambil ponselnya lalu mencekret.
Nazeera sudah berulang kali jatuh karena sangat gelisah, berbicara tak jelas. "Dasar Jaya kampr*t, kau menyuruhku sekuat karang? Kau tau sakit hati ku?!" Tutur Nazeera bersandar pada sofa dan menepuk dadanya.
Jaya hanya mendengar ucapan Nazeera. "Segitu dalamnya cintamu padanya. Hingga kamu tak menyadari keberadaan ku." Gumam Jaya mengusap pipi wanita yang ada di dekatnya.
Tamar meneguk kembali minumannya hingga habis. Dia sudah terkapar di bawah sofa dekat Dedi. Kakinya berada di wajah Dedi.
"Zee, maafin Abang." Kata Tamar sebelum benar-benar tertidur.
Jaya menoleh ke arah Tamar, Dia meminta maaf karena apa? Atau mungkin dia hanya terpuruk atas apa yang menimpa Nazeera?
Jaya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia bertanya-tanya dalam hati. Ahhh sudahlah. Untung gue masih waras, ngak minum ini.
Jaya mengalihkan pandangannya ke arah Nazeera, bersamaan dengan tinju wanita itu. Hingga Jaya mengaduh kesakitan, karena mengenai hidungnya.
"Dasar bangkeeeeeeeee!!! Untung sayang." Pekiknya mengusap dada dan juga hidungnya.
Jaya duduk dengan memposisikan duduk Nazeera lalu memperhatikan wajahnya. Sayup-sayup matanya pun tak terbendung.
"Lebih baik kamu di dalam saja." Ujar Jaya mengangkat tubuh Nazeera ke dalam kamarnya.
Onni yang biasa menemaninya sudah tidur di kamarnya. Dia tidak ingin menemani Nazeera tidur dikala Tamar ataupun orangtua Nazeera berkunjung.
__ADS_1
"Ternyata kamu berat juga." Gumam Jaya meletakkan Nazeera di ranjang.
Nazeera masih mengalungkan tangannya di leher Jaya, "Kau bajing*n. Kau katakan rindu padaku. Kamu pikir aku percaya."
Jaya ingin berdiri dengan tegap dan melepaskan tangan Nazeera, tetapi wanita itu langsung menarik tekuk lehernya lalu mencium bibirnya dengan sangat rakus.
Lelaki itu berusaha mengendalikan dirinya, dia melepaskan tangan Nazeera. Namun tetap tidak bisa, wanita itu selalu menahan kepalanya. Hingga lama kelamaan Jaya ikut terbawa atas permainan Nazeera itu sendiri.
***
Keesokan harinya, Nazeera terbangun. Dia merasakan kepalanya sangat sakit.
"Waduh, ternyata aku ketiduran di sini." Gumamnya memegang kepalanya.
"Aahhh, badanku terasa remuk semua."
Dia merenggangkan ototnya dengan mengangkat kedua tangannya. "Pantes saja badan ku sakit semua, aku tidur duduk di lantai dan bersandar di kursi."
"Abang! Abang, bangun..." Ucap Nazeera dengan sedikit berteriak.
"Jay! Bangun Jay." Nazeera mengguncangkan tubuh Jaya yang terbaring di bawah sofa.
Yang ada di dekat Nazeera hanyalah Jaya. Dia mencabut bulu kaki Jaya, hingga berteriak histeris. Saat bangun dia menyadari sesuatu.
"Astagaaaaaaaaaa!!! Gue mimpi." Jaya tidur kembali, berharap mimpinya akan berlanjut.
"Jay!" Pekik Nazeera.
Nazeera mengulang kembali perbuatannya, dia menarik tiga sekaligus bulu kaki Jaya yang dapat di betisnya. Teriakannya seperti alaram di pagi hari.
Begitupula dengan Tamar, dia langsung terduduk. "Gempa! Gempa!"
Jaya sudah meringis kesakitan, air matanya terasa ingin keluar. Namun jika keluar, Takuya Nazeera akan mencap sebagai lelaki cemen.
"Abang, kepala Zee sakit banget." Rengek Nazeera mengangkat kedua tangannya.
"Angkat abang!!!" Pintanya.
Tamar sudah menguasai dirinya, dia berdiri mengikuti kemauan adiknya. "Abang, kepalaku sakit." Ulangnya memegang kepalanya.
"Yasudah, lagian siapa suruh kamu meminumnya."
"Karena kata orang itu dapat menghilangkan beban. Jadi aku coba saja."
Tamar menarik nafas panjang dia meletakkan tubuh wanita itu di atas tempat tidur. "Nanti setelah kamu baikan, kamu siram kepala mu dengan air dingin. Nanti aku kesini memberi obat pereda mabuk." Ucapnya mengacak kepala Nazeera.
Nazeera hanya mengangguk, Yaa Allah, maafkan aku. Batinnya menangis.
***
Jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas siang. Tuan rumah maupun tamu belum ada yang bangun. Mereka melanjutkan tidurnya saat Nazeera sudah berada di dalam kamarnya.
Onni ataupun yang lainnya tidak berani membangunkan mereka. Menurutnya, biar mereka saja yang bangun dengan sendirinya.
Nazeera sudah keluar dari kamarnya dengan keadaan yang sudah segar. Dia menghampiri para anak muda yang tidur dengan tidak beraturan di sofa.
__ADS_1
"Kok mereka tumben ngak kerja." Gumamnya menuju ke arah ruang keluarga.
"Abang! Abang! Bangun." Nazeera mengguncangkan tubuh Tamar tetapi tak kunjung bangun.
Nazeera berjalan menuju dapur mengambil wajan dan juga panci. Dia membunyikan dan menghasilkan suara yang membuat mereka terbangun.
"Sudah buruan, kalian cepetan cuci muka. Setelah itu makan, cuci piring, lalu pulang."
Tidak ada yang mendengarkan Nazeera, sehingga kembali mengahasilkan dentuman dari panci dan wajan yang di pegang oleh Nazeera.
Mereka pada gelagapan berlalu, sama-sama mencari kamar mandi. Setelah mereka selesai seperti perintah Nazeera, mereka semua cuci piring setelah makan.
"Kalo gini kan enak, Onni ngak perlu repot-repot untuk cuci piring." Ucap Nazeera berkacak pinggang di dekat meja makan.
"Jika sudah selesai, bersihkan ruang keluarga bekas kalian semua." Titahnya kembali.
Entah apa yang merasuki mereka semua sehingga mengikuti perintah Nazeera. Jaya yang biasanya menolak, kini ikut serta dalam perihal membersihkan.
"Sekarang kalian pulang, dan satu lagi. Mengenai minuman itu, ku harap itu yang pertama dan yang terakhir kalinya masuk ke dalam rumahku." Usirnya memperingatkan.
Dedi mulai merasa bersalah. Bagaimana tidak, gara-gara dia yang membawa minuman itu, iman Nazeera jadi goyah. Hehehe.
Mereka semua diam dan taat seperti kucing yang baru saja dipukul. Nazeera melipat kedua tangannya, "Terimakasih atas kunjungannya." Ujarnya mempersilahkan mereka keluar.
Tamar tak bisa berkutik, "Zee, maafin Abang yah."
"Zee, aku juga minta maaf." Mohon Jaya.
"Nona Nazeera, ini semua adalah kesalahan saya. Mohon sekali lagi untuk memaafkan saya." Dedi membungkukkan badannya saat akan bangun, Nazeera menahannya.
"Tunggu dulu!!! Jika kamu ingin aku maafkan kamu tahan dengan posisi seperti ini."
Hehehe, kapan lagi aku bisa ngerjain mereka. Batin Nazeera menahan tawa. Curi-curi kesempatan aaakhh. Batinnya mendapatkan ide.
Nazeera masih saja pura-pura acuh, cuek, dan dingin. "Kalian kalau mau aku maafin," Menunjuk ke arah Tamar dan Jaya, "kalian ikut harus ikuti cara Dedi." Ujarnya meninggalkan mereka yang masih bengong.
Saat tiba di depan pintu kamar Nazeera dia berbalik. "Tunggu apa lagi!!! Cepat!!!"
Bersambung...
.
.
.
Usahain donk supaya like dan komennya tembus seratus apa lagi votenya😅😅 supaya Author jdi semangat juga buat up🤣🤣. Pembacanya aja tembus seratus lebih bahkan ribuan, masa iye oleh-oleh buat author ngak ada😅😅.
Ayoolahh.
wkwkwkw
SELAMAT MENANTI...!!!
VOTE, LIKE, DAN KOMEN🤗🤗🤗
__ADS_1