Ditinggal Nikah

Ditinggal Nikah
Ocehan Jaya


__ADS_3

Assalamu'alaikum...


Halo pembaca setia 'Ditinggal Nikah'.. Moga aja judulnya ngak senasib kalian yah...


SELAMAT MEMBACA...!!!πŸ’•πŸ’•πŸ’•


β€œDan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” QS Al Baqarah 155


.


.


.


***


Jaya ikut duduk di lantai.


"Zee, sebaiknya kamu tenangin diri kamu."


Nazeera hanya diam seraya menangis.


"Bibi?" Teriak Jaya.


"Tolong ambilkan air minum." Titahnya saat melihat pelayan.


"Minum dulu." Serunya menyodorkan minuman dari pelayan.


Nazeera menghabiskan minumannya dalam hitungan detik. "Kamu tarik nafas lalu keluarkan secara perlahan. Setelah itu kita pergi. Aku udah cerita sama Tamar." Ucapnya lembut.


Nazeera mengikuti perintah Jaya. Setelah selesai dia dipapah oleh Jaya menuju mobilnya.


"Tadi bunda sudah tiba, tapi dia mampir di hotel dekat bandara karena...."


"Jay stop... Please don't speak. Hikz hikz hikz.


You know, my heart hurts now, don't make me worry anymore."


(Kumohon jangan berbicara. Kamu tau, hatiku sakit sekarang, jangan membuatku lebih khawatir lagi).


Nazeera masih menangis. Jaya tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Dia menyodorkan tisu ke arah Nazeera. "Buang ingus mu. Aku ngak mau dengar dan liat susu kental manis naik turun. Naik lalu turun lagi." Ejek Jaya.


Nazeera mengambil kasar tisu dari Jaya, lalu mengeluarkan semuanya dengan tangannya sendiri tanpa tisu secara kasar. Setelah itu, dia menguceknya di baju Jaya.


Jaya yang awalnya fokus langsung rem dadakan karena ulah Nazeera. Untung saja udah tengah malam, jadi kendaraan boleh hitungan jari.


"Zee, kenapa kamu lakukan ini? Uuuuwwwweeeek." Kesal Jaya keluar dari mobil memuntahkan isi perutnya karena merasa jijik.


Bagaimana tidak, cairan kental manis dia usap di bagian pundak Jaya. Jadi, saat dia menghadap ke Nazeera, langsung pipi kanannya yang kena kotoran.


Uuuuwwwweeeek uuuuwwwweeeek


Nazeera keluar membawa air mineral. Awalnya dia kesal, tetapi melihat Jaya lemah tak berdaya jiwa kemanusiaan lebih besar.


"Gimana perasaan kamu?" Tanya Nazeera setelah Jaya minum.


"Loe itu anaknya siapa sih? Untung sayang." Gerutu Jaya sambil jalan meninggalkan Nazeera yang melongo.


Jaya melepaskan Jaz nya. Dia hanya memakai kemeja putih. "Nih, kamu harus cuci." Suruh Jaya menyodorkan Jaz.

__ADS_1


Nazeera mengambilnya dengan kasur sambil menggerutu pelan, "Dasar kau, ku beri racun baru tau rasa."


"Apa kamu bilang?" Sambil menghidupkan mobil.


"Ngak, kamu baik. Kenapa juga sih kamu mengajakku bertengkar di saat keadaan seperti ini?" Tanyanya menyandarkan kepalanya di kaca mobil.


Jaya hanya berdehem. Padahal Nazeera sedang bertanya. Dengan kesal, Nazeera membuka kaca mobil.


"Kenapa dibuka? Bentar ada tuyul ciluk baaa, bagaimana?"


"CEPETAN!!! Aku ingin melihat bunda JAYA KUKUSAN!!!" Geram Nazeera.


Nazeera lagi-lagi sangat kesal, dimana-mana, Jaya selalu saja menjengkelkan. Tanpa pikir panjang, Jaz yang ada di tangannya dia buang melalui jendela saat mobil melaju dengan kencang. Setelah itu, wanita itu tutup kembali jendelanya.


"Astagfirullah..."


"Buruan jalan!!! Jangan berhenti!!!" Bentak Nazeera. Karena dipikirannya hanya ada satu kekhawatiran yaitu 'Bunda'.


Jaya tidak berkutik, tidak jadi berhenti, tetapi dia mengurangi kecepatan mobilnya.


"JAYA, bundaku lagi sakit. Aku. harus ke sana secepatnya." Pekik Nazeera.


Jaya hanya diam, menatap lurus ke depan. "Jay, berhenti." Jaya tidak peduli dia hanya jalan dengan kecepatan yang sama.


"Aku bilang berhentiiiiiiiiiii." Teriak Nazeera.


Jaya lagi-lagi rem dadakan. "Kamu kenapa sih?" Tanya Jaya menutup sebelah telinganya.


Nazeera tidak menghiraukan ucapan Jaya. Wanita itu turun memutari mobil.


Tok Tok Tok


Jaya membuka pintu mobilnya. Saat membukanya, wanita itu langsung menarik kerah leher Jaya untuk keluar dari mobil.


"Jangan memberontak, atau habis kau malam ini."


Astaga, aku di perbudak. Akhh sudahlah daripada dia tambah membenciku. Ini semua gara-gara zombi sialan itu. Gerutu Jaya dalam hati.


Mereka sudah masuk ke dalam mobil dengan posisi yang sudah berubah. Nazeera mengemudi dengan sangat kencang. Jaya hanya diam untuk saat ini.


"Zee, tolong pelan-pelan." Tegur Jaya saat perutnya bergejolak.


"Aku bisa muntah lagi jika keadaan mobil seperti ini." Tambahnya menutup mulut.


Nazeera hanya mencibir, Dasar manja.


"Loe diem . Oke. Kalau ngak kamu aku simpan di pinggir jalan."


"Ini mobil, mobil siapa? Yang berkuasa siapa?" Gumam Jaya menggeleng.


"Aku belum menikah, Zee. Pelan-pelan. Andaikan maen sosor-sosoran boleh lah kencang-kencang." Ucap Jaya takut.


Jaya melihat jarum kecepatan Nazeera jadi kaget, "Zee, itu udah di atas rata-rata. Pelan-pelan. Kalau ngak pelan-pelan aku sosor kamu di sini biar kita mati bersama."


Nazeera masih menghiraukan Jaya. Dia hanya fokus pada jalan. Jaya semakin mengeratkan pegangannya.


"Nazeera, aku sosor kamu sekarang. Aku bilang pelan-pelan." Teriak Jaya.


Nazeera menambah kecepatannya. "NAZEERA!!!" Teriak Jaya.

__ADS_1


Di saat bersamaan, Nazeera menancapkan pedal rem. Jaya mengusap dadanya. Merilekskan tubuhnya yang menegang akibat ulah Nazeera.


Untung sayang. Ohh Tuhan. Apakah ini ujian tes lulus jadi calon suami? Batin Jaya mendesah. Dia masih mengusap dadanya yang tak beraturan.


"Zee, kamu mau kemana?" Tanya Jaya saat melihat Nazeera turun dari mobil.


"Bodoh!!! Punya mata ngak? Kita sudah sampai." Ucapnya masih kesal dia menutup pintu dengan keras.


"Shiiittt. Kenapa bisa aku ngak tau hal itu. Apes banget gue hari ini gegara Tamar sialan itu." Umpat Jaya.


Jaya turun dari mobil lalu mengejar Nazeera yang sudah menghilang di parkiran.


"Zee," Jaya memegang tangan Nazeera yang menangis.


"Sebaiknya kamu tenangin diri kamu dulu, baru masuk temuin bunda. Ok." Tuturnya menenangkan Nazeera di depan pintu hotel.


Nazeera memeluk Jaya, "Hikz hikz hikz. Jay, bunda. Bu-bunda sa-sakit. A-aku ngak ta-u." Nazeera sesegukan.


"Tenang kamu harus baik-baik di depan bunda." Jaya mengusap punggung Nazeera sebagai kekuatan.


(Yaelah, bener-bener mereka Tom and Jerry yahπŸ˜…πŸ˜… Bentar baeek bentar beranteeem. Adeeeeeeem waeeeek😌)


"Yasudah, sekarang kamu jangan menangis. Kuatlah. Jangan menangis yah." Jaya menghapus air mata wanita itu.


Meraka sama-sama memasuki hotel. Saat tiba Nazeera menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Dia semakin tersedu-sedu.


"Bundaaaaaaaaaaaaaaaaaa." Dia berlari memeluk bundanya.


Bersambung...


.


.


.


Hemmmmmm😌😌😌 gantung dolo yahhhhjhhh..


yang kepo komen next atau komentar lainnya.


Hayoooo, komen gmna keadaan di Hotel.


πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„


Natizen: kepo kepo kepo kepo kepo kepo


kepo kepo kepo kepo kepo kepokepo kepo kepo kepo. Toooor jiwa kepo meronta. Sabar Zee, autor nya emg jahat sama nasib kau.


author: yaelah. gpp deh lu bilang gua jahat. Asal jan ngutik gue jadi batu nisan sama kek Nazeera nooh.


Natizen: hilih, itu wijennya gimana? ada yg komen wijen sileter brp? udh itung blom?


author: gmna mau ngitung, yang pesen aje blom adee. Pesen dlo baru gue ngitungπŸ˜ͺπŸ˜…πŸ˜ŒπŸ˜Œ


lu, lu, lu ,lu ,lu dan elu pade.. Jan lupa VOTE, KOMEN AND LIKE. OCE.


Cuci mata dlo


__ADS_1


__ADS_2