Ditinggal Nikah

Ditinggal Nikah
BAB 87 DITINGGAL NIKAH


__ADS_3

"Kau tidak perlu tahu dari mana saya mendapatkan kebenaran tentang diri mu."


Lanri menggenggam erat berkas yang ia pegang. "Berhenti mengganggu ku. Diri ku ini adalah petinggi, seperti yang kau katakan tadi. Dan aku tidaklah bodoh seperti yang ada di otak kepiting mu itu."


Nazeera menatap tajam wanita itu, "Berhenti datang pada ku untuk mengakui bahwa diri mu itu adalah istri dari suami ku. Saya bisa saja membuat reputasi mu rusak kapan saja."


Glek


Lanri menelan ludahnya sendiri, "Sa-saya hanya ingin tahu bagaimana istri dari bingo." Jelasnya gugup.


Prak


Nazeera memukul meja tanpa sadar.


Bing


"Nona?" Panggil suara bariton. Melihat Nazeera memukul meja pria itu langsung menghampiri Lanri.


"Apa yang kau lakukan pada nona Nazeera?" Dedi langsung mencekik leher Lanri.


Lanri berusaha agar terlepas dari cengkraman pria itu. Dia memegang tangan Dedi yang semakin kuat memegangnya.


"Dedi?!" Desis Nazeera. "Kau bisa saja membunuhnya." Lerainya setelah menghapus sisa air matanya.


Dedi tidak perduli, darahnya mendidih, warna mata memerah memperlihatkan bahwa dia sedang marah.


"Cukup!" Teriak Nazeera menendang Dedi.


Awww


Keluh pria itu. Secara otomatis, pegangannya terlepas di leher Lanri.


Uhuk uhuk uhuk


Lanri memegang lehernya. Warnanya berubah menjadi merah diiringi dengan rasa sakit.


"Kenapa kau bisa sampai di sini?"


"Nona?" Lirih Dedi.


Bukan kah sekarang Dedi sudah menjadi pahlawan? Datang di waktu yang tepat untuk memberikan pelajaran pada wanita yang telah membuatnya menangis. Tapi kenapa nona nya malah membela wanita itu.


"Apa?" Tukas Nazeera jengah. "Dan kau juga kenapa bisa tiba di sini? Bukankah apartemen nya sudah saya kunci?"


"Nona? Apakah anda lupa? Kejadian beberapa hari yang lalu membuat saya trauma hingga memtuskan untuk membuat kunci cadangan. Takutnya nona akan melakukan hal yang sama lagi pada ku." Jelas Dedi sedikit takut karena lancang. Dia memegang betis hasil tendangan Nazeera.


"Dan pada akhirnya emang benar-benar terulang lagi." Lanjutnya bergumam.


Brug


Nazeera menendang bokong Dedi hingga pria itu terjatuh.


Aww


Nazeera melipat kedua tangannya di depan dada. "Kenapa kau selalu melewati batas mu? Hah?"


Dedi berusaha berdiri. Malu pasti ada, apalagi saat melihat para pelanggang, ataupun para pelayan sedang menjadi pusat perhatian. Dia seperti suami yang terdzolimi atau suami-suami takut istri. Tak ada perlawanan tiap kali Nazeera memukulnya.


Dedi melihat bibir Lanri mekar karena senyum. Melihat kiri dan kanan, ternyata bukan cuman Lanri, bahkan yang lainnya juga sedang menertawai ku. Nasib-nasib jadi bawahan.


Dedi mengusap dadanya, "Maafkan saya nona. Tapi ini juga adalah perintah dari tuan Tamar." Ucapnya sesopan mungkin. Mencoba untuk mengendalikan amarah sekaligus malu yang ia rasakan.


Nazeera mendengus, ternyata kakanya ini sangat posesif. Wanita itu meniup ujung kerudungnya.


***

__ADS_1


Tok tok tok


"Selamat pagi, Nona!" Sapa Lika.


Lika meletakkan secangkir teh di meja Nazeera.


"Nona, hari ini akan ada rapat di restoran sekaligus makan siang bersama klien."


Nazeera menghentikan jarinya yang sedang menari di keyboard.


"Tak bisa kah Dedi saja yang datang?"


"Tuan bisa nona. Karena tuan Juventus ingin memperkenalkan anaknya kepada anda."


Inilah alasan mengapa Nazeera tak ingin menjadi pengusaha kantoran. Dia lebih menyukai butiknya yang sudah dia kelola selama beberapa tahun.


Kedua tangan Nazeera memegang kepalanya. Siku keduanya bertumpu di meja. Dia menunduk sangat dalam, tak ada yang lebih indah selain orang yang kita sayangi masih bisa bernafas. Jaya memiliki segalanya yang ia titip pada Nazeera (harta). Tapi itu tak memberikan ketenangan pada dirinya.


Rindu


Rindu


Rindu


dan


Rindu.


Itulah isi hati Nazeera. Ditatapnya sebuah cincin. Ingin sekali mengulang kebahagiaan beberapa bulan yamg lalu, namun itu mustahil.


"Apa anda baik-baik saja, Nona?" Khawatir Lika.


Nazeera menggeleng cepat. "Baiklah, saya akan hadir."


"Nona? Apa anda baik-baik saja?" Dedi melirik ke spion mobil.


"Ya." Singkatnya.


Dalam 20 menit, mobil telah tiba. "Ded?" Panggil Nazeera sebelum Dedi turun dari mobil.


"Ya, Nona." Dedi kembali melirik ke aras spion.


"Berpura-puralah untuk menjadi kekasih ku nanti."


Glek


Dedi melotot, dia langsung menoleh ke belakang.


"Ma-makaud nona?" Gugup Dedi. Takut hal itu diketahui oleh Tamar dan sekalian dia juga takut menjadi santapannya karena salah paham.


Nazeera menatap tajam Dedi. "Ma-maksud saya, emm..." Dedi menggaruk kepalanya, "Maksud saya, saya tidak bisa nona."


"Ayolah, untuk kali ini saja. Supaya tuan Juventus berhenti untuk memperkenalkan diri ku dengan anaknya. Saya sangat malas akan hal ini."


Nazeera menyandarkan tubuhnya di job mobil menunggu jawaban. Membatalkan kerjasama dengan tuan Juvwntus akan merugikan perusahaan Jaya selama dia rintis.


"Maaf nona saya tidak bisa, hal itu akan membuat saya lancang." Alasannya. Padahal dia hanya takut pada Tamar.


"Lebih baik gaji mu ku tahan satu tahun daripada aku harus bermohon-mohon di depan mu." Kesalnya membuka pintu mobil.


"Nona..." Dedi gusar. Dengan segera dia menyusul wanita itu.


Dasar manusia tak tahu diri. Padahal nyawaku sedang dipertaruhkan di sini. Semoga saja mata-mata tuan Tamar tak ada di sini.


Dedi melirik ke kiri dan ke kanan. Seakan mencari seseorang.

__ADS_1


S**emoga saja tidak ada.


"Nona?"


Nazeera berhenti. "Jangan memanggilku dengan seperti itu." Pekik Nazeera memukul keras dada pria itu.


Astaga, ini pukulan laki apa perempuan? Sakit bener.


Batinnya mengusap bekas pukulan.


"Ikuti saja perintah ku, kau akan ku perkenalkan sebagai kekasih ku."


Pasrah. Lumayan dapat status kekasih dari janda miliader. Tapi, dia kan juga adik dari Tamar.


Masa bodohh!!! Persetan semua itu. Sebaiknya aku memerankan diri ku dengan sebaik mungkin di depan tuan Juventus.


Lama bergelanyut dengan pikiran, rupanya langkah mereka telah tiba di meja pesanan tuan Juventus.


"Selamat siang, Nona." Sapa tuan Juventus.


Nazeera hanya membalasnya dengan senyuman.


"Selamat malam, tuan." Sapa Dedi merasa tak dianggap. Mereka langsung duduk di tempat yang kosong.


Meja itu terdiri dari empat kursi. Dedi duduk di samping Nazeera. Dia sendiri berpikir, bagaimana cara menampilkan peran? Apakah dia harus memperkenalkan dirinya meski tak di tanya? Atau menunggu Nazeera saja yang memperkenalkan dirinya.


"Ekhem." Dedi berdehem mwnghilangkan rasa canggung dalam dirinya.


"Perkenalkan, sa-saya kekasihnya sekaligus tunangannya no-." Nazeera menatap tajam Dedi. "Ekhem, Kekasih dari Nazeera. Saya hanya kebiasaan memanggil dia Nona pada saat jam kerja. Jadi lidah ku sedikit kelu."


Tuan Javentus menyelidik Dedi. "Bukan kah Anda memiliki anak tuan? Dimana dia? Kenapa anda datang seorang diri?" Pertanhaan Dedi bertubi-tubi agar mengalihkan perhatian tuan Juventus.


"Sebentar lagi dia datang." Meliring jamnya.


*Tak


Tak


Tak*


Suara langkah kaki itu terdengar jelas di kesunyian. Dedi menoleh ke sumber suara sepatu itu. Tanpa sadar dia merinding. Sedangkan Nazeera fokus pada benda pipih di tangannya.


Tuan Juventus menyadari seaeorang datang, dia tersenyum. "Dia adalah anak ku, Aldebaran."


Deg Deg


Itulah suara jantung Dedi, bukan karena jatuh cinta melainkan rasa kaget atas apa yang ia lihat.


Nazeera yang sedari tadi fokus langsung menoleh saat mengetahui seseorang telah duduk di depannya.


Deg


Tak terasa, air mata wanita itu menetes. Tangannya dingin tak menyangka. Dia menatap tanpa berkedip.


Bersambung....


Selamat membaca.


**HAPPY READING


VOTE LIKE DAN KOMEN**


Maaf bila ada typo yah.... 💕💕💕💕💕


Mohon untuk VOTE nya 😭😭😭😭😭😭😭

__ADS_1


__ADS_2